Hidayat Purwanto Sukses Membudi Dayakan Magot di Pangandaran Hingga Warga Lain Ikut jadi Mitra

Harga magot per satu kilogramnya, setiap daerah itu bervariatif, mulai harga termurah Rp 6 ribu sampai Rp 12 ribu

Tribun Jabar/Padna
Hidayat Purwanto sedang membudidayakan sampah organik di Dusun/Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran 

MEMANFAATKAN sampah organik, Hidayat Purwanto, pria di Pangandaran sukses membudidayakan magot. Pria warga di RT 2/10 Dusun/Desa Wonoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran itu melakukan praktek budi daya magot sejak 2013, dan usahanya mulai benar-benarberjalan pada tahun 2017.

Kemudian, pada tahun 2019 sampai sekarang, budidaya magot yang ditekuni Hidayat Purwanto mulai diikuti oleh sejumlah kelompok masyarakat di Pangandaran.

"Saya, alhamdulillah sudah mempunyai mitra (kelompok) kerja. Yang mana, mitra kerja tersebut mengambil telur magotnya dari Saya dan pakannya juga dari Saya," ujar Hidayat Purwanto  kepada Tribunjabar.id di sela sela aktivitasnya merawat magot di ruangan kecil depan rumahnya, Senin (19/9/2022) siang.

Dari pengambilan satu gram telur, sesudah panen, mitra kerjanya hanya memberikan magot fresh sebanyak satu kilogram. "Jadi, mereka tidak usah ribet bikin siklus, tidak harus bikin lalat, karena telur dan pakan dari kami," katanya.

Magot hasil budi daya Hidayat Purwanto di Pangandaran
Magot hasil budi daya Hidayat Purwanto di Pangandaran (Tribun Jabar/Padna)

Menurutnya,  budi daya magot membutuhkan waktu sekitar 45 hari dari telur magot kemudian menjadi lalat. Tapi, kalau mulai dari telur sampai panen, mereka (mitranya) hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hari dan sudah bisa setor satu kilogram.

"Sisanya itu, biasanya mereka gunakan untuk pakan ternak mereka. Atau, kalau ternaknya sedikit dan mau dijual, Kami juga bantu marketnya. Jadi, setiap mitra kami sudah punya langganan masing-masing," ucap Ia.

Saat ini, mitra kerjanya sudah mencapai 12 kelompok dan tersebar di Kabupaten Pangandaran.

Baca juga: Program Zero Waste dari YPBB Hasilkan Nol Sampah di Desa Gudang, Tanjungsari, Sumedang

"Karena, awalnya saya prihatin ingin ikut program pemerintah dalam pengelolaan sampah. Sampah rumahan, kan banyak. Ada dari rumah makan dan dari hotel-hotel. Karena, kebetulan di Pangandaran kan banyak sekali rumah makan dan hotel. Karena, di kita kan satu tempat wisata, jadi kami ikut menanggulangi permasalahan sampah," kata Hidayat Purwanto.

Hidayat Purwanto berharap, dengan adanya pengembangan budidaya magot ini, masyarakat bukan hanya ikut melaksanakan program pemerintah dalam penanggulangan sampah.

Baca juga: Program Zero Waste dari YPBB Hasilkan Nol Sampah di Desa Gudang, Tanjungsari, Sumedang

Tapi, bisa menambah penghasilan masyarakat. Terutama, masyarakat yang selama ini selalu berpikir mendapatkan penghasilan selalu harus ke kota.

"Karena, sebenarnya ketika kita bisa mengembangkan potensi di daerah masing-masing, disitu ada peluang - peluang usaha, peluang - peluang bisnis yang bisa kita kembangkan dan bisa menghasilkan," ujarnya.

Baca juga: Film Pulau Plastik Sebagai Peningatan untuk Meningkatkan kewaspadaan Terhadap Sampah Plastik

"Tapi, tentunya, kami harus ikut bergerak dengan seluruh elemen yang ada. Mulai dari kepemerintahan, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, dan lainnya untuk bisa melaksanakan program-program yang ada di lingkungan kita."

Jadi, ucap Ia, masyarakat tidak perlu berpikir dan tertuju harus ke kota ketika ingin mendapatkan penghasilan. "Kita, cukup di Desa tapi penghasilannya, penghasilan di Kota," ucap Hidayat Purwanto.

Magot hasil budi daya Hidayat Purwanto di Pangandaran
Magot hasil budi daya Hidayat Purwanto di Pangandaran (Tribun Jabar/Padna)

Harga magot per satu kilogramnya, setiap daerah itu bervariatif, mulai harga termurah Rp 6 ribu sampai Rp 12 ribu.

Baca juga: KSM Al Falah Garut Ubah Sampah Menjadi Abu untuk Dibuat Paving Block, Berharap Ada Mesin Pencacah

"Itu, tergantung banyak sedikitnya permintaan. Kalau permintaan eceran dibawah 10 kilogram, biasanya di harga Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu perkilogram. Tapi, kalau permintaan dari peternak besar, itu di harga Rp 7.500 per kilogramnya. Itu peternak besar, permintaannya juga per satu minggu dan sampai sekarang alhamdulilah masih berjalan," ujarnya. (Tribun Jabar/Padna)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
884 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved