Perjuangan Panjang Petani Kopi di Pelosok Bandung Barat Hasilkan Kopi Nikmat Demi Mendulang Rupiah

"Untuk menghasilkan biji kopi yang bisa dijual prosesnya lama. Panen saja satu tahun, setelah itu harus memilah menumbuk, dan menjemur"

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Lilis, petani kopi di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat menjemur dan menumbuk biji kopi. 

SEORANG wanita paruh baya terlihat telaten saat memilah biji kopi di halaman rumahnya, Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Wanita bernama Lilis (49) dan keponakannya Imam Fauzi (13) itu tak menghiraukan panas terik matahari saat memilah dan menjemur biji kopi hasil panen yang ditanam di lahan milik Perhutani di Gunung Putri.

Sebelum panen kopi, para petani harus bolak-balik untuk merawat tanamannya dengan jarak tempuh sekitar 1,5 kilometer mengingat panen kopi ini hanya satu tahun satu kali.

Imam Fauzi, remaja di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat menjemur biji kopi.
Imam Fauzi, remaja di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat menjemur biji kopi. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sementara setelah kopinya dipanen, mereka tidak bisa langsung menjualnya karena ada proses panjang seperti menjemur hingga kering lalu menumbuk kopi supaya biji kopi dengan kulitnya bisa dipisahkan.

Dengan begitu, nikmatnya aroma dan rasa dari secangkir kopi hitam yang banyak diminati masyarakat luas tak terlepas dari proses panjang yang dilakukan para petani kopi ini.

 

Meskipun bukan daerah penghasil kopi terbesar di Jawa Barat seperti Puntang, Pangalengan, serta Ciwidey di Kabupaten Bandung, namun cita rasa kopi varietas robusta dari Cililin itu bisa diadu dengan kopi lainnya.

"Untuk menghasilkan biji kopi yang bisa dijual prosesnya lama. Panen saja satu tahun, setelah itu harus memilah menumbuk, dan menjemur hingga kering," ujar Lilis di kediamannya, Rabu (12/7/2022).

Setelah prosesnya selesai, Lilis tidak bisa menikmati keuntungan dari hasil kerja kerasnya sendiri karena harus dibagi dua dengan Perhutani sebagai pemilik lahan.

Dalam satu tahun, Lilis bisa memanen kopi sebanyak satu ton, sedangkan jika tanamannya sedang bagus, hasil panennya bisa mencapai 1,5 ton dan hasil panen ini dijual ke Bandar dengan harga Rp 20 ribu per kilogram.

Lilis, petani kopi di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat menjemur biji kopi
Lilis, petani kopi di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) saat menjemur biji kopi (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

"Harga Rp 20 ribu per kilogram itu biji kopinya harus sudah kering. Jadi di sini ada bandarnya, nanti bandar yang jual ke pasar (konsumen). Biasanya dijual ke daerah Sumedang, hasilnya lumayan buat biaya sehari-hari," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhannya, terkadang Lilis juga membeli biji kopi dari petani lainnya untuk dijual lagi ke bandar yang menyalurkan ke konsumen. 

"Saya kalau beli dari petani, biji kopinya yang masih basah, kemudian saya tumbuk dan jemur. Lumayan lama prosesnya bisa sampai satu bulan," ucap Lilis.

Agar prosesnya lebih cepat, Lilis dibantu keponakan dan saudaranya yang juga menjadi petani kopi mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga panen. Lalu proses berlanjut pada proses pemilahan, penjemuran, hingga penumbukan baik dalam keadaan kering maupun basah.

"Kalau panen ada yang membantu karena lokasi lahannya  lumayan jauh, soalnya di atas gunung. Nanti buah (biji kopi) ditutug (ditumbuk), bisa masih basah atau kering," ujarnya.

Imam Fauzi (13), seorang keponakan Lilis mengaku bahwa dia kerap membantu proses panen serta pengolahan biji kopi pascapanen, sehingga bocah yang duduk di bangku kelas 1 SMP itu sudah akrab dengan biji kopi

"Biasanya bantu panen, bawa 10 kilogram dari gunung ke rumah. Nanti nutug, terus ngejemur, sampai ngegaruk saat dijemur. Lumayan uangnya buat jajan," kata Imam. 

Imam Fauzi, remaja di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memperlihatkan biji kopi hasil dijemur.
Imam Fauzi, remaja di Kampung Cikoneng, RT 5/12, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memperlihatkan biji kopi hasil dijemur. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Keakrabannya pada biji kopi, membuat Imam juga tak asing dengan kopi hitam dari biji yang ia panen dan olah sendiri. Namun dia tak pandai merasakan kopi seperti apa yang sebetulnya enak.

"Kalau rasa kopi yang enak tidak tahu, yang penting bisa membantu bibi dan punya uang buat jajan," ucapnya. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
821 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved