Kisah Dede Yusuf Asal Sumedang, Tato Sekujur Tubuh Kini Hijrah Setelah Mimpi Dibakar Api

"Waktu itu mikirnya saya di jalan mendapatkan kebebasan, tak kenal baik-benar, halal-haram, yang penting bebas"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Dede Yusuf (29) di Pusat Kajian Trotoar (Katro), Desa Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Minggu petang (10/4/2022) 

GARIS-garis tato masih tampak jelas di wajah Dede Yusuf (29). Namun kini, rona wajahnya yang berseri mengalahkan pamor gambar-gambar itu. Dede telah hijrah.

Dede adalah mantan anggota komunitas punk. Sekujur badannya penuh tato, termasuk wajahnya. Tato- tato itu menandakan pengembaraan jalanannya yang dia lakukan sejak selesai SMP pada tahun 2009.

"Selesai SMP orang lain ke SMA, saya ke jalan. Waktu itu mikirnya saya di jalan mendapatkan kebebasan, tak kenal baik-benar, halal-haram, yang penting bebas," kata Dede saat ditemui di Pusat Kajian Trotoar (Katro), Desa/Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Minggu (10/4/2022).

Dede Yusuf (29) saat diwawancarai TribunJabar.id di Pusat Kajian Trotoar (Katro), Desa Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Minggu petang (10/4/2022)
Dede Yusuf (29) saat diwawancarai TribunJabar.id di Pusat Kajian Trotoar (Katro), Desa Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Minggu petang (10/4/2022) (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Dede memang suka menggambar di atas kertas. Hobinya ini muncul bahkan sejak ia duduk di Sekolah Dasar (SD). Dan ketika dia turun ke jalanan, dia menemukan gambar-gambar lain yang dia sukai dan dinilainya lebih bagus.

Semula, Dede tidak berani memindahkan gambar-gambar yang dia sukai itu ke atas kulitnya sebagai tato. Namun, semakin lama dia bergaul dengan teman-teman punk, dia semakin panas untuk bertato.

Baca juga: Haji Ayi Sulaeman, Sopir Angkot yang Kini Menjadi Juragan Properti di Sumedang

Pada 2014, saya mulai di tato. Mulanya di tangan, terus bertambah. Kala ada gambar yang bagus, ya ditambahin tatonya, sampai ke wajah," kata pemuda asal Dusun Cijanggel, Desa Cinanjung, Tanjungsari, Sumedang itu.
Lama sekali dia liar di jalanan. Segala jenis obat-obatan terlarang pernah dicobanya. Sudah barang tentu termasuk air minum memabukkan. Semuanya dia lakukan dengan hati tanpa beban. Meski dia tahu, orang tuanya mungkin sudah capek menasihatinya.

Bukan hanya membuat jengkel orang tua, keputusan Dede menjadi anggota komunitas punk juga membuat gatal mulut tetangganya. Mereka seringkali mencibir Dede yang punk. "Wah saya sampai kecanduan obat. Awalnya coba-coba tetapi jadi candu," katanya.

Baca juga: Tetap Cekatan di Usia Senja, Kisah Endang Penjaja Mainan Anak Berbahan Spons Bekas di Sumedang

Dede tidak berkisah apakah dia mengerti tentang gerakan punk, dan apakah dia pernah membaca karya-karya Edgar Allan Poe (1809-1849) sebagai penulis yang mengispirasi gerakan ini, namun sesuatu telah membuatnya capai dengan punk.

"Saya capai maksiat terus. Sudah bosan lah. Sampai suatu hari di siang hari saat bulan puasa tahun lalu, saya mimpi dibakar api. Mungkin saja api itu api neraka, sehingga saya terbangun dan berpikir bagaimana kalau mimpi ini menjadi kenyataan," katanya.

Baca juga: Wawan Ernawan, Sopir Angkot di Sumedang yang Banting Setir Jadi Pembuat Pesawat Aeromodelling

Bukan hanya mimpi soal api, dia juga mimpi mengurus jenazah. Dia memandikan dan menyolati jenazah itu yang ternyata dirinya sendiri. Sampai dikubur pun, jenazah itu tetap jenazah dirinya sendiri.

Gayung bersambut. Di Dusun SS, Desa Tanjungsari sekitar alun-alun Tajungsari, ada sebuah masjid penyedia dakwah untuk kaum-kaum terpinggirkan. Masjid ini membuat semacam wadah bernama Katro yang merupakan singkatan dari Kajian Trotoar.

Baca juga: Berhenti Sekolah, Kiki Sukses Menjadi Pebisnis Mebel dari Limbah Kayu Peti Kemas di Sumedang

"Awalnya saya malu dan takut. Apakah orang sedewasa saya dan tatoan sebadan-badan masih bisa mengaji? Apakah saya masih boleh masuk masjid? Ternyata bisa," katanya.

Dia memulai dengan mengaji Iqro, kemudian mengaji Al-Quran, dan kini sedang dibimbing terus mengaji tafsir Al-Quran. "Saya melihat Islam itu sistem yang indah. Mengatur segala aspek kehidupan pemeluknya dari mulai bangun tidur hingga tertidur lagi," katanya yang kini sudah kehilangan kedua orang tuanya.

Baca juga: Dani Ramdani, Penyandang Disabilitas di Sumedang, Semula Dicemooh, Kini Sukses Jadi Pengusaha Arang

Dede menemukan keseruan yang lebih seru saat mengaji, dibandingkan keseruan semu saat dia beraktivitas di komunitas punk. "Ngaji itu seru," katanya yang kini bekerja serabutan dan tinggal bersama bibinya. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
721 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved