Tetap Cekatan di Usia Senja, Kisah Endang Penjaja Mainan Anak Berbahan Spons Bekas di Sumedang

Saya beli limbah spons ini dari Jatiroke Rp 100 ribu sekarung. Kalau sudah dijadikan mainan dan terjual...

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Endang saat ditemui TribunJabar.id di halaman rumah makan di Jalan Raya Bandung-Garut, Selasa (4/2/2022) 

TIDAK sekejap pun senyuman terkelupas dari wajah Endang (60), meski mainan anak yang dijajakannya di halaman parkir sebuah rumah makan tampak masih menumpuk. 

Senyum itu meresap ke dalam kerutan-kerutan wajahnya yang muncul seiring usianya yang makin senja. 

Sambil duduk pada bangku kayu kecil, tangannya yang cekatan, mematut-matut selembar karet spons yang diletakkan di atas pahanya, menjadi sayap mainan kuda pegasus. 

Endang saat ditemui TribunJabar.id di halaman rumah makan di Jalan Raya Bandung-Garut, Selasa (4/2/2022)
Endang saat ditemui TribunJabar.id di halaman rumah makan di Jalan Raya Bandung-Garut, Selasa (4/2/2022) (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Saya membeli karet spons bekas ini kemudian merekanya ke dalam bentuk-bentuk mainan, ada kuda-kudaan, pedang-pedangan, burung-burungan, dan lain-lainnya," kata Endang, saat ditemui TribunJabar.id di halaman rumah makan di Jalan Raya Bandung-Garut, Selasa (4/1/2022).

Mainan pegasus yang dibuat Endang adalah seekor kuda yang di bagian perutnya dipasang setangkai pegangan dari bambu sementara pada ujung setiap sayap kuda, dipasang benang bening seperti benang layangan. 

Baca juga: Eman Alih Profesi jadi Perajin Mainan Truk Oleng, Posting Sekali di Medsos Langsung Banyak Pesanan

Titik tengah benang ditarik ke pegangan sehingga jika seorang anak memainkannya dengan menarik-narik benang itu, sayap kuda pegasus akan mengepak seperti sedang terbang. 

Endang menbuat dan berdagang mainan anak itu setiap hari. Sejak pagi pukul 09.00 hingga pukul 21.00. Dia berkeliling di sekitar Jatinangor atau Tanjungsari. Jika cuaca cerah dan memungkinkan dia pergi sedikit jauh dari rumah kontrakannya di Dusun Nagrak RT03/02 Desa Cintamulya, Jatinangor  Sumedang dia akan berdagang ke Kota Bandung. 

Baca juga: Wawan Ernawan, Sopir Angkot di Sumedang yang Banting Setir Jadi Pembuat Pesawat Aeromodelling

"Ini kan mainan awet. Anak akan membeli mungkin sekali dalam setahun. Karenanya, saya harus berkeliling agar lebih sering bertemu dengan orang-orang baru, dengan anak-anak baru, yang mungkin akan membeli mainan ini," katanya. 

Jambang putih Endang disapu angin malam. Masih satu jam lagi menuju pukul 21.00, Selasa malam. Tetapi senyuman tak rontok dari wajahnya yang sejuk itu. 

Baca juga: Berhenti Sekolah, Kiki Sukses Menjadi Pebisnis Mebel dari Limbah Kayu Peti Kemas di Sumedang

Dia mengatakan akhir-akhir ini sedang sepi pembeli. Covid-19 yang panjang dan membuat anak-anak libur sekolah dan acara hiburan juga kerumunan orang dilarang, membuat dagangannya susah laku. 

"Tetapi meski sepi, saya harus tetap ke luar rumah. Saya masih punya anak usia sekolah yang mesti dibiayai, kemudian saya juga kepala keluarga, sudah menjadi kewajiban saya bekerja. Berdagang itu ya kadang dapat uang, sering juga tidak dapat uang," kata Endang, nada bicaranya bukan mengeluh.  

Baca juga: Dani Ramdani, Penyandang Disabilitas di Sumedang, Semula Dicemooh, Kini Sukses Jadi Pengusaha Arang

Dia mengaku sudah berdagang mainan itu sejak 1998, sejak masih tinggal di kampungnya di Soreang, Kabupaten Bandung. Namun, sejak 2019, dia pindah ke Jatinangor, mengontrak sebuah rumah, dan tetap melakukan pekerjaan yang sama.

"Saya beli limbah spons ini dari Jatiroke Rp100 ribu sekarung. Kalau sudah dijadikan mainan dan terjual, uang yang didapat dari sekarung itu bisa mencapai Rp 500 ribu," tuturnya. 

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Siswa SMKN 1 Sumedang Memproduksi Lampu LED, Memasok ke Kalimantan

"Ini juga saya tetap berdagang meski tua, supaya banyak orang tertarik untuk bekerja, mengisi waktu daripada menganggur, kan bisa berdagang sederhana seperti yang saya lakukan ini," ucap Endang. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
621 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved