Dani Ramdani, Penyandang Disabilitas di Sumedang, Semula Dicemooh, Kini Sukses Jadi Pengusaha Arang

"Kaki saya remuk sampai di atas mata kaki. Bagian belakang betis juga habis kena gilingan"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Dani Ramdani saat ditemui di saungnya di Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (19/12). 

TIDAK ada yang bisa mematahkan semangat hidup Dani Ramdani (43). Meski sebelah kakinya sudah diganti dengan kaki palsu, ia tetap memanggul dan menyusun sendiri kayu-kayu yang akan ia jadikan arang. Melewati tanah berbukit, tanpa sedikitpun mengeluh.

Ukuran kayu yang akan dibuat arang beragam, mulai dari sebesar pergelangan tangan hingga seukuran pinggang orang dewasa. Di Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, semua kegiatan pembuatan arang itu ia kerjakan sendiri. Termasuk membakarnya di lubang pembakaran arang.

Meski kaki kanannya sudah berganti kaki palsu berbahan serat fiber, langkah kaki Dani tak tak pernah terkesan ragu. Langkahnya selalu mantap menapaki tanah merah basah bukit Cijeruk. Terlihat jelas, ukuran telapak kaki kanannya yang palsu berbeda dengan kaki aslinya sebelah kiri. Kaki yang kanan lebih kecil.

Dani Ramdani saat ditemui di saung di dekat lubang-lubang pembakaran arangnya di Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (19/12). Dari arang saja, penghasilannya belasan juta sebulan.
Dani Ramdani saat ditemui di saung di dekat lubang-lubang pembakaran arangnya di Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (19/12). Dari arang saja, penghasilannya belasan juta sebulan. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Disusun saja dahulu. Jika pengangkutan kayu bahan arang dari tumpukan di dekat jalan utama sudah selesai, baru pembakaran dimulai," kata Dani saat ditemui di saung di dekat lubang-lubang pembakaran arangnya di Cijeruk, Minggu (19/12).

Sudah nyaris setahun Dani bekerja membuat arang. Mula-mulanya, karena kebutuhan. Sebagai seorang pandai besi, pembuat perkakas pertanian seperti golok dan sabit, Dani selalu membutuhkan arang untuk pembakaran. Lama-lama, akhirnya terpikir untuk membuat arang sendiri, yang membuat ongkos produksi golok dan sabitnya bisa jauh lebih murah.

Baca juga: Erry Erlangga, Seniman Penyandang Disabilitas yang Pantang Menyerah, Ciptakan Gitar Bambu Nusantara

Aktivitasnya sebagai pandai besi dilakoni Dani sejak setahunnan lalu, setelah ia kehilangan sebelah kakinya di pabrik batu bata yang ia miliki saat masih tinggal di Sumatra.

"Sewaktu kaki saya utuh, dulu saya punya usaha pembuatan batu bata merah. Tidak ada kualitas bata merah yang menyerupai hasil produksi saya. Usaha itu kemudian jatuh-bangun, mulai dari kehabisan pasokan gabah sisa gilingan padi hingga akhirnya bangkrut karena ditipu mantan pekerja," kata Dani.

Baca juga: Sosok Pendongeng Menginspirasi Ulee, Penyandang Disabilitas Ini Mendesain Kaos & Berbagi untuk Yatim

Karena belum ada yang bisa dikerjakan lagi, saat itu Dani pun akhirnya mengizinkan istrinya, Ai Yayah Rohmah (kini berusia 40 tahun) untuk berangkat menjadi tenaga kerja wanita ke Timur Tengah. Dani sendiri merantau tanpa tujuan jelas ke Jambi.

"Dulu ke Jambi tak ada yang mengajak, tak ada tujuan. Tujuan saya satu-satunya adalah di sana harus mendapatkan pekerjaan," ucap Dani.

Baca juga: Anwar Permana, Indra Sumedi, Iwan Ridwan, dan Yusuf Suhara Bikin kaki Palsu Berbahan Daur Ulang

Di Jambi Dani bekerja pada sebuah keluarga, dengan tugas hanya memandikan anak kecil. Karena bosan, hanya seminggu pekerjaan itu ia lakoni. Berbekal upah selama seminggu, Dani lantas pergi ke Padang dengan menumpang sebuah travel.

Karena tak punya tempat yang dituju, sesampainya di Padang, Dani pun tidur di emperan kios pedagang buah di pasar. Menghabiskan semalam di pasar, Dani pun terbangun setelah tubuhnya disiram orang. Rambutnya yang panjang membuat orang menyangkanya sebagai orang gila, terlebih saat itu ia hanya berbicara bahasa Sunda.

Baca juga: Dadan Hernawan Membuat Kaki Palsu Berbahan Khusus, Jika Ada Difabel yang Tidak Mampu Ia Beri Gratis

Lantaran melawan, Dani pun menjadi sasaran pukulan orang-orang pasar. Beruntung, saat itu ada seorang asal Tasikmalaya yang lama tinggal di sana mendengar dan mengerti bahasanya.

"Saya ditolong orang Tasikmalaya itu, malah diajak bekerja di lahan tambang," katanya.

Baca juga: Suneri Sempat Disuruh Mengemis Sebelum Menjadi Atlet, Sukses Raih Medali di Peparnas Papua 2021

Belakangan Dani mengetahui bahwa tambang yang dimaksud adalah tambang batu bara Ombilin, tambang bawah tanah tertua di Asia, sekitar 70 kilometer timur laut dari Kota Padang.

Dani masih ingat, itu tahun 2010. "Saya tertegun saat memasuki area tambang di tengah hutan itu. Sudah waswas saja, apakah lubang-lubang bawah tanah itu tempat saya bekerja. Tapi saya kemudian meneguhkan hati, ini nasi sudah menjadi bubur. Lauk geus asup kana bubu (ikan sudah masuk perangkap), apapun mesti saya lewati," katanya.

Baca juga: Di Usia 28 Tahun Wisnu Memilih Jadi Petani Daripada Pekerja Kantoran, Sukses Bercocok Tanam Paprika

Namun, bekerja di tambang ternyata memberinya penghasilan yang lumayan. Tiga hari bekerja, upahnya Rp 300 ribu, dan terus meningkat seiring berjalannya waktu. "Bahkan sempat juga mendapat gaji hingga Rp 3,5 juta seminggu. Belum lagi jika mengerjakan pekerjaan di luar kewajiban. Uang yang didapatkan lebih banyak," ujar Dani.

Dari hasil bekerja di tambang itulah, Dani bisa bisa menghidupi keluarganya, bahkan menabung.  "Saya kumpulkan uang Rp 180 juta selama 7 tahun bekerja," katanya.

Baca juga: Sempat Menganggur Saat Pandemi, Sandi Bangkit dan Menjadi Pengusaha Jasa Kurir Bersepeda

Dengan uang tabungan itulah Dani membeli mesin giling tanah untuk membuat bata, yang di kemudian hari membuatnya celaka. Mesin itu dia beli karena ia mendapat tawaran untuk pembuatan bata yang akan dikirim ke Mentawai pascatsunami.

Karena masih bekerja di tambang, kata Dani, usaha batu bata tersebut dijalankan oleh empat pekerjanya. Ia hanya sesekali datang dan mengawasi.

Baca juga: Sosok Dadie yang Berikan Handphone ke Penabraknya. Dari Tukang Gorengan Kini jadi Pengusaha

Hingga suatu hari, sepulang dari tambang, Dani pun datang ke pabrik bata dan menyuruh keempat pekerjanya beristirahat dan salat. Namun, karena sedang tanggung, keempat pekerjanya memilih untuk menyelesaikan dahulu pekerjaan baru beristirahat. Dani pun mendekati mesin yang sedang beroperasi, dan di situlah tragedi terjadi. Kakinya tanpa sengaja masuk ke penggilingan.

"Kaki saya remuk sampai di atas mata kaki. Bagian belakang betis juga habis kena gilingan," ujarnya.

Baca juga: Agus Kosasih Sukses Jadi pengusaha Benang Gelasan, Setiap Bulan Raih Omzet Hingga Rp 60 Juta

Kecelakaan itu menguras batin dan kekayaannya. Peristiwa itu pula yang membuat dirinya tak mungkin kembali ke tambang untuk mengerjakan pekerjaan berat. Orang-orang tambang datang menjenguk dan memberi sumbangan Rp 65 juta.

"Uang itu habis untuk pengobatan dua kali ke rumah sakit. Tinggal sisa Rp 3 juta, yang saya pakai untuk pulang ke Sumedang, ditemani seorang mahasiswa dekat rumah kontrakan yang berkuliah di Bandung. Saya bayari tiket perjalanan mahasiswa itu, kami berpisah di Sekelimus, saya pulang naik taksi," katanya.

Baca juga: Berhenti Sekolah, Kiki Sukses Menjadi Pebisnis Mebel dari Limbah Kayu Peti Kemas di Sumedang

Tahun-tahun pertamanya kembali di Sumedang, kisah Dani menjadi tahun-tahun yang sangat berat. Namun, tahun-tahun yang berat itu telah berlalu. Kini Dani telah memiliki usaha yang memberinya penghasilan yang layak.

"Sebulan saya bisa membakar arang dalam tiga kali. Satu kali membakar sedikitnya dua lubang. Satu lubang bisa menghasilkan sedikitnya 21 karung seberat 50 kilogram masing-masingnya. Hasil satu lubang itu jika dirupiahkan, bersihnya Rp 2,5 juta. Sebulan dari arang saja bisa dapat Rp 15 juta," ujar Dani.

Baca juga: Wawan Ernawan, Sopir Angkot di Sumedang yang Banting Setir Jadi Pembuat Pesawat Aeromodelling

Dani Ramdani pulang ke kampung halamannya di Dusun/Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kapupaten Sumedang, tahun 2017, dalam kondisi sebelah kaki yang sudah diamputasi. Saat pulang, Dani disambut kedua anaknya, Hadi Mulya, yang ketika itu masih berusia 15 tahun, dan si bungsu Bayu Farizki, yang saat itu masih berusia tujuh tahun.

"Namun, saat itu, saudara dan tetangga banyak yang mencemooh. Katanya, saya hanya akan menyusahkan banyak orang. Mereka bahkan menyebut saya lebih baik mengemis di pasar. Sakit kaki saya ini tidak seberapa, tetapi lisan mereka itu saya catat di dalam hati. Lisan yang pedih itu saya jadikan obat untuk bangkit," ujarnya, saat ditemui di tempatnya membuat arang, tak jauh dari rumahnya di Cijeruk, Minggu (19/12).

Baca juga: Kesederhanaan Ustaz Sulaeman, Juragan Kopi di Rancakalong yang Kenalkan Kopi Sumedang di Mancanegara

Itu sebabnya, kata Dani, sejak datang kembali ke kampungnya, ia memilih untuk tinggal di tengah-tengah kebun di tanah milik orang tuanya. Dia sengaja menjauh dari hiruk-pikuk tetangga karena malas mendengar cemoohan mereka.

Selama beberapa bulan, ia hanya bisa berbaring di saung di tengah kebun, sambil memulihkan kondisi dibantu kedua anaknya. Dibantu kedua anaknya itu pula Dani mulai mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang, tapi tak perlu jauh meninggalkan saung dan bertemu banyak orang.

Baca juga: Encum Sukses Produksi Abon Ikan Jambal Roti Asli Pangandaran, Dijual Hingga ke Batam

Untuk hidup sehari-hari dan membiayai anak-anaknya sekolah, Dani yang fasih berbahasa Minangkabau, itu pun membuat layangan besar yang dijual Rp 5 ribu per layangan. Anaknya harus menjual layangan itu setiap pagi sebelum sekolah. Bekal dan ongkos ke sekolah adalah hasil penjualan layangan itu. Sehari rata-rata bisa terjual 5 buah layangan.

Dani juga menerima kerja borongan untuk menggemburkan tanah kebun. "Saya bilang, saya bisa mengerjakannya dengan garpu tani. Saya kerjakan malam hari dengan penerangan obor, sebab siang hari saya harus buat layangan. Saya tidak pernah memelas, meminta belas kasihan orang. Selama Allah memberikan kekuatan pada organ tubuh yang lain, saya kuat," ucapnya.

Baca juga: Gemar Naik Gunung dan Terampil Tali Temali Membuat Dedi Suhandi Sukses Jadi Perajin Tali Jam Tangan

Tahun 2018, kata Dani, istrinya kembali dari Timur Tengah. Itu membuat Dani semakin bersemnagat. Dia menyiasati kakinya dengan kaki palsu yang dia buat dari bambu. Tetapi karena berisik saat mengijak pijakan tembok, dia malah lebih banyak mendapat cemooh dari tetangga.

Kaki palsunya kemudian dia ganti dengan kaki palsu yang juga ia buat sendiri dari kayu. Kaki palsu dari kayu ini, menurut Dani, berat untuk dipakai melangkah. Ia pun akhirnya menggergaji tiang parabola yang sudah tak terpakai untuk dijadikan kaki palsu. Namun, saat sudah jadi, kaki itu ternyata lebih berisik dari kaki palsu dari bambu. Namun, tetap ia paksakan karena tak lagi mempunyai banyak pilihan.

Baca juga: Yusup, Pembuat Peti Jenazah di Sumedang, Kewalahan Layani Pesanan Terpaksa Tambah Karyawan

Berbekal keahliannya sebagai pandai besi, bersama anak sulungnya Dani pun membuat usaha pandai besi dan menerima pesananan membuat perkakas seperti golok dan sabit.

Golok buatan Dani dikenal bagus. Meski hanya berbahan per bekas, hasilnya sangat cantik seperti mirror polish pada pisau-pisau modern. Dani menjualnya Rp 170 ribu per bilah. Ada juga yang dijual Rp 200 ribu per bilah.

Baca juga: Kesuksesan Bisnis Galih Ruslan Berawal dari Garasi Kosong, Permintaan Jajanan Tradisional Meningkat

"Dari usaha golok ini hidup saya mulai merangkak naik, punya rumah, anak selesai sekolah, dan istri bisa bekerja memasarkan golok-golok itu di kios di jalur Cadas Pangeran atas," kata Dani.

Dari hasil membuat dan menjual golok itu pula Dani bisa membeli kaki palsu berbahan fiber yang kuat, namun ringan, dan nyaman dipakai.

Bisnis arang mulai ditekuni Dani setelah ia sulit mendapatkan arang saat pesanan goloknya sedang banyak-banyaknya. Saat itu, untuk sekarung arang, Dani harus membayar Rp 300 ribu. Itu terlalu berat.

Baca juga: Tekun Membuat Miniatur Kapal Laut dari Kayu, Toto Rizaldi Banjir Pesanan di Masa Pandemi

Agar dapat membuat arang sendiri, Dani rajin memperhatikan cara pembuatan arang di perajin arang langganannya, yang harga arangnya mahal, tapi tetap terpaksa ia beli karena tak punya pilihan. Berbekal itu, Dani pun mencoba-coba membuat arang sendiri.

"Dari situlah awalnya saya akhirnya juga bisnis arang. Saat ini, perajin golok dari daerah lain pun kerap meminta dipasok arang dari sini," kata Dani.

Baca juga: Di Tangan Jajang Somana, Kayu Alba Terlihat Seperti Mentega, Mudah Dibentuk Jadi Wayang Golek

Dani mengaku mendapatkan pasokan bahan baku arang dengan membeli. Namun, itu didapat dari sisa penebangan pohon-pohon di daerah rawan di Cadas Pangeran, yang dilakukan Perhutani. Biasanya, kata Dani, mereka mengajaknya dalam penebangan.

"Bagian kayu besarnya dibawa Perhutani, sisanya seperti bagian yang tak bisa diolah dan bagian-bagian ranting, menjadi jatah saya. Saya memang tidak diupah, tetapi saya senang karena kayu-kayu basah itu akan menjadi uang bagi saya setelah dijadikan arang," ujarnya.

Baca juga: Rifal Raup Untung Jutaan di Tengah Pandemi, Sukses Beternak Kutu Air, Pesanan Terus Mengalir

Bersama istrinya, Ai Yayah Rohmah (40), Dani juga membuka warung di pinggir jalan Cadas Pangeran atas dan membuka lapak pencucian kendaraan sederhana di pinggir warungnya. Hasilnya lumayan.

"Saya yang tidak normal tak pernah mengeluh, tetap semangat. Pesan saya buat yang masih normal, jangan berhenti berusaha dan jangan lalai," kata Dani memungkas perbincangan. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
616 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved