Kisah Ebeh Halim, Kepala Desa Duren Karawang yang Menjabat 3 Periode, Bermula dari Aktivis Pertanian

"Saya mulai di dunia aktivis di Karawang sejak tahun 1992, mulai bergabung di KNPI, saya memang basic-nya aktivis pertanian"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Kepala Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Abdul Halim alias Ebeh Halim 

PERJALANAN hidup Kepala Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten KarawangAbdul Halim atau kerap disapa Ebeh Halim memang menarik untuk diulas. Sebelum ia berkiprah di dunia politik menjadi Kepala Desa, ia merupakan seorang aktivis aktif pada masanya. Ia  menjabat sebagai Kepala Desa Duren sudah tiga periode.

Ebeh Halim memang aktif berorganisasi sejak kecil, bahkan ia sempat menjadi Ketua OSIS selama dua periode pada saat duduk di bangku SMP, begitupun pada saat ia sekolah di bangku SMK.

Pria berusia 63 tahun ini, juga aktif di organisasi Pemuda Tani sejak tahun 1989, bahkan ia merupakan peraih predikat nilai terbaik pertama dalam latihan kepemimpinan pemuda tani hingga akhirnya ia bersama 10 orang lain menjadi perwakilan Indonesia untuk studi pertanian di Jepang pada tahun yang sama.

Abdul Halim alias Ebeh Halim
Abdul Halim alias Ebeh Halim (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

"Waktu itu memang saya pernah menjadi perwakilan Indonesia untuk studi pertanian di Jepang, karena dapat predikat terbaik pertama," ujar Ebeh Halim ketika ditemui seusai acara silaturahmi Kepala Desa di Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (18/12/2021).

Organisasi yang memang menjadi ruhnya kerap kali membuahkan banyak ilmu untuknya diaplikasikan, ia sempat memimpin penyuluhan kelompok tani di Karawang.

"Saya mulai di dunia aktivis di Karawang sejak tahun 1992, mulai bergabung di KNPI, saya memang basic-nya aktivis pertanian," kata dia.

Pada masa orde baru tersebut, ia juga sering memimpin aksi penolakan alih fungsi lahan, kala itu Karawang sebagai lumbung pangan nasional kerap kali menjadi sorotan investor untuk membuat kawasan industri.

"Waktu itu tahun 1989 Karawang masih dinobatkan sebagai lumbung pangan nasional, saya memang tidak terima dengan alih fungsi lahan teknis yang sedang marak saat itu, kami memperjuangan lahan teknis lumbung pangan hingga keluarnya Kepres Nomor 25 Tahun 1995 tentang alih fungsi lahan," katanya.

Berawal dari dunia aktivis ia kemudian mencoba peruntungan di dunia politik pada zaman orde baru, "Saya pernah aktif di PPP, tapi pada zaman reformasi NU membentuk PKB, pada tahun 1999 saya mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten, tapi gagal karena waktu itu aturannya berorientasi pada nomor urut, bukan raihan suara," ungkapnya.

Setelah itu, kariernya di dunia politik berhenti, ia hanya menjalani kehidupan sebagai tokoh masyarakat di Desa Duren, namun sebagai tokoh ia banyak berbuat untuk masyarakat. Sehingga akhirnya ia di dorong untuk mencalonkan Kepala Desa.

Ketika kebanyakan Kepala Desa lain mencalonkan, ia bahkan dicalonkan sebagai Kepala Desa oleh masyarakat Duren pada tahun 2006 silam.

Kepala Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Abdul Halim alias Ebeh Halim
Kepala Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Abdul Halim alias Ebeh Halim (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

"Saya dicalonkan, karena saya tidak tahu. Waktu itu panitia Pilkades hanya ngasih formulir untuk diisi dan kwitansi pendaftaran, padahal saya gak mau," kata Ebeh Halim.

Namun, waktu itu beberapa tokoh masyarakat membujuknya agar ia mencalonkan diri. Alhasil iapun meminta pendapat orangtua, iatri dan guru-gurunya mengenai pencalonan tersebut.

"Setelah saya konsultasikan dengan keluarga, akhirnya saya direstui lalu saya bersedia mencalonkan, meskipun saat itu saya belum tau apa yang harus saya lakukan," kata dia.

Saat itu, ia bahkan tak punya tim sukses atau pun kader. Dana kampanye yang didapatkannya bahkan hasil patungan masyarakat yang mengusungnya.

"Saya memang gak ada dana, tapi masyarakat yang datang bawa kopi, nganter beras, air mineral kemasan, saking banyaknya itu gak habis sampai hari pencoblosan," ucapnya.

Bermodalkan dukungan murni masyarakat, ia terpilih sebagai Kepala Desa Duren dengan raihan 5.000 lebih suara dari 14.000 lebih hak pilih, ia mengalahkan tiga calon lain yang salah satunya incumben, meski dicalonkan tanpa tim sukses.

"Bahkan setelah saya terpilih,  pakaian dinas upacara (PDU) untuk pelantikan saya juga dibelikan masyarakat," ujarnya.

Tahun ini, merupakan periode ketiganya pada masa bakti 2018-2024, sesuai aturan. Masa bakti Kepala Desa hanya terbatas sampai tiga periode, namun masyarakat tak mau kehilangan sosok Ebeh Halim.

"Dari tiga periode saya menjabat, bukan saya yang mencalonkan. Karena yang mencalonkan adalah masyarakat, sekalipun ini periode terakhir masyarakat tak mau kehilangan," kata dia.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
612 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved