Kisah Uma Rusmana Sang Perajin, Ratusan Loyangnya Diborong Supermarket di Tasikmalaya

"Bahkan saya sampai berani memaklun pembuatan loyang untuk orang lain, yang penting terus berproduksi"

Tribun Jabar/Firman Suryaman
Uma Rusmana sedang mengerjakan loyang pesanan sebuah supermarket di Tasikmalaya 

BANYAK pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kolaps pada masa pandemi Covid-19 ini. Namun, tak sedikit pula yang mampu bertahan. Uma Rusmana (60), salah satunya.

Di tengah kondisi perekonomian yang melesu, loyang yang diproduksi Uma Rusmana justru laku keras. Ia mendapat pesanan dari salah satu supermarket terkenal di Kota Tasikmalaya.

"Jumlahnya banyak. Ratusan. Alhamdulillah berkah di tengah pandemi," ujar warga Jalan Paseh, Kota Tasikmalaya, itu ditemui di rumah produksinya, Minggu (19/12/2021).

Uma Rusmana berfoto di depan produk loyang pesanan sebuah supermarket terkenal di Kota Tasikmalaya
Uma Rusmana berfoto di depan produk loyang pesanan sebuah supermarket terkenal di Kota Tasikmalaya (Tribun Jabar/Firman Suryaman)

Loyang pesanan supermarket tersebut, kata Uma, adalah loyang untuk pembakaran kue semprit.

"Karena untuk supermarket, kualitas bahannya pun spesial dan harganya pun sedikit lebih tinggi," ujar UmaRusmana .

Beragam loyang sudah diproduksi Uma sejak tahun 70-an. "Kalau dulu hanya bikin loyang kue semprit. Sekarang sudah beragam seiring perkembangan zaman," katanya.

Baca juga: Giovanno Berdayakan Perajin Kayu di Jawa Barat Besarkan Bisnis Dekornata

Tidak hanya membuat loyang kue semprit, Uma Rusmana  juga membuat  loyang untuk pembakaran kue bolu dan brownies.

"Tapi tak jarang juga mendapat pesanan pembuatan langseng, serta jemblung untuk bakso atau bubur ayam," ujar Uma.

Saat ditanya bagaimana usaha pembuatan loyang miliknya tak sampai terpuruk di tengah pandemi Covid-19, Uma mengatakan, kuncinya adalah keteguhan dalam mempertahankan eksintensi.

Baca juga: Gemar Naik Gunung dan Terampil Tali Temali Membuat Dedi Suhandi Sukses Jadi Perajin Tali Jam Tangan

"Pelaku usaha lain, saya lihat banyak berhenti begitu omzetnya terjun bebas dan kemudian mencari usaha lain," kata Uma.

Uma sebaliknya. Ia terus berproduksi walau jumlah pesanannya sedikit. "Mempertahankan eksistensi usaha itu penting agar pasar tidak berpaling ke perajin lain," ujarnya.

Baca juga: Melongok Sentra Borondong di Ibun,Perajin Meneruskan Usaha Warisan Orang Tua

Ia mengakui omzet pesanan loyang selama pandemi sempat terpuruk hingga 50 persen dari biasanya. Namun demi mempertahankan keberadaannya, Uma Rusmana tetap menjalaninya dengan penuh keprihatinan dari sisi keuntungan.

"Bahkan saya sampai berani memaklun pembuatan loyang untuk orang lain, yang penting terus berproduksi," ujar Uma Rusmana.

Baca juga: Sucipno Bangga Jadi Perajin dan Penjual Produk-produk dari Tanah Liat

Perlahan tapi pasti, pesanan loyang kini mulai berdatangan lagi. "Ini berkat upaya saya mempertahankan produksi. Mereka mengetahui bahwa saya masih memproduksi," kata Uma.

Uma Rusmana  mengaku sangat bersyukur dengan kondisi tersebut. "Alhamdulillah. Mudah-mudahan ini pertanda perekonomian mulai normal lagi di tengah pandemi," ujarnya. (Tribun Jabar/Firman Suryaman)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
607 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved