Emil: OPOP Penggerak Ekonomi Keumatan di Jabar, Alumni dan Kiainya Kita Doakan Jadi Konglomerat

"Covid-19 sedang surut, kami pertahankan. Sehingga nanti 2022 mayoritas pembangkitan ekonomi. Salah satunya, ekonomi pesantren ini.

TribunJabar
Ridwan Kamil 

ONE Pesantren One Product (OPOP) atau Satu Pesantren Satu Produk menjadi program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menggerakkan ekonomi keumatan di Jawa Barat. OPOP terbukti ikut membangkitkan geliat perekonomian yang sempat terdampak pandemi Covid-19.

Program OPOP yang mulai diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada akhir 2018 sampai saat ini terus bergulir menciptakan pesantren unggulan. Program ini sampai 2021 telah diikuti 2.574 pesantren dari target 5.000 pesantren hingga akhir 2023.

Program yang diluncurkan oleh pasangan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum ini pada 2020 mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sebagai 45 Top Inovasi Pelayanan Publik 2020 Tingkat Nasional.

Melalui program One Pesantren One Product (OPOP), Jawa Barat mengekspor buah-buahan sampai produk busana muslim ke Uni Emirat Arab. Ekspor dari pesantren ini dilepas Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (13/12/2021)
Melalui program One Pesantren One Product (OPOP), Jawa Barat mengekspor buah-buahan sampai produk busana muslim ke Uni Emirat Arab. Ekspor dari pesantren ini dilepas Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (13/12/2021) (Tribun Jabar/Syarif Abdussalam)

Lantas bagaimanakah upaya Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat untuk terus menggeliatkan perekonomian lewat OPOP, berikut rangkaian wawancara jurnalis Tribun Jabar, Muhammad Syarif Abdussalam dengan Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengenai OPOP.

Bagaimanakah perkembangan OPOP sampai saat ini?
Alhamdulillah perkembangan sangat baik. Sampai hari ini dalam tiga tahun naik rata-rata hampir 1.000-an. Total sekarang sudah 2.500-an, terus akan kita tingkatkan. Yang terbaik kita beri apresiasi dan juga untuk menjadi pembina di level bawahnya.

Kemarin kita sudah ekspor ke luar negeri. Kapan pesantren bisa ekspor, ya alhamdulillah sekarang. Kita mengingatkan supaya mereka maju karena pada dasarnya setelah itu ada yang menghasilkan.
Alumni dan kiainya kita doakan menjadi konglomerat, jadi guru, pemimpin semua. Pada dasarnya nyantri sesuai syariat Islam kemudian kita harap ada peningkatan ekonomi keumatan.

Tahun 2022 ini tahun optimistis karena Covid-19 sedang surut. Kita pertahankan sehingga 2022 mayoritas pembangkitan ekonomi, salah satunya ekonomi pesantren.

Pemda Provinsi Jawa Barat berkomitmen meningkatkan program kesejahteraan dan kedakwahan pada masa mendatang. Program-program itu bertujuan untuk mendorong terwujudnya Jabar Juara Lahir dan Batin.

Untuk mewujudkan program-program tersebut, Pemda Provinsi Jabar tidak bisa berjalan sendiri. Butuh bantuan dan dukungan berbagai pihak. Kami bersiap meningkatkan lagi program-program kesejahteraan, program-program kedakwahan, agar Jabar Juara Lahir Batin.

Baca juga: Uu: Perda Pesantren Ini yang Pertama di RI, Kami Jalan Terus Meski Sempat Ditolak Mendagri

Selain di dalam negeri, program OPOP pun sudah merambah pasar luar negeri. Terakhir, mengekspor jengkol ke Dubai. Bagaimanakah kiat untuk memasarkan produk-produk pesantren di luar negeri?
Saya kira ekspor jengkol ini juga penting untuk mengjengkolkan masyarakat dan memasyarakatkan jengkol ke seluruh dunia. Kita ekspor ke Dubai hasil lobi-lobi yang kami lakukan saat Dubai Expo.

Ekspor ini juga menjadi langkah awal agar pesantren di Jawa Barat bisa mewujudkan kemandirian ekonomi. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa produk-produk pesantren bisa dijual ke pasar dunia.

Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Sehingga suatu hari, mimpi pesantren-pesantren di Jawa Barat itu mandiri penuh dengan kemandirian ekonomi akan terwujud. Dunia itu sangat luas tidak hanya dijangkau oleh level kabupaten atau provinsi atau nasional pasar itu seluas dunia ini.

Bagaimanakah cara mempertahankan ekspor dari pesantren ini?
Kami meminta agar kegiatan ekspor ini tidak berhenti sampai di sini. Perlu ada perluasan pasar ke negara-negara lainya agar semakin banyak produk-produk termasuk pesantren di Jawa Barat yang bisa mendunia.

Ini tangga pertama, kita harus jemput seratus tangga berikutnya perluas lagi produk-produknya. Untuk memperluas pasar ekspor, perlu peran aktif untuk memetakan kebutuhan masing-masing negara. Dari situ, Pemda Provinsi Jawa Barat bisa menghubungkan antara kebutuhan dengan produksi yang ada.

Seringkali kita amati dari pengalaman saya produk itu tidak memasuki pasar karena ketidakmampuan kita memiliki yang namanya market intelegence. Ketidamampuan kita mengetahui negara-negara itu butuh apa.

Langkah pertama adalah keliling dunia, ke dubes-dubes memetakan kebutuhan-kebutuhan apa. Dihubungkan nanti dengan produksi yang ada. Jadi nanti bisa saja ada pesantren yang merubah kebiasaan bisnisnya menjadi kebiasaan bisnis baru sesuai yang dibutuhkan.

Baca juga: Omzet Rp 150 Juta Per Bulan. Ini kisah Syakur Asauri, Pebisnis Barang Antik & Pendiri Pesantren

Pemda Provinsi Jabar menargetkan 5.000 pesantren bergabung dalam program OPOP, bagaimanakah cara mewujudkannya melalui digitalisasi?
Mudah-mudahan target 5.000 Pesantren sampai akhir masa jabatan, bisa diwujudkan dan kita bisa membuktikan bahwa semangat wirausaha semangat digitalisasi tidak hanya milik orang kota, tapi juga mereka-mereka yang ada di perdesaan.

Selama pandemi Covid-19, produk-produk pesantren yang tergabung dalam OPOP dipasarkan melalui pameran online. Hal ini untuk lebih memudahkan pembeli dan pesantren melakukan transaksi jual-beli.

Selama pandemi Covid-19 kita melakukan pameran online, jadi pembeli bisa mengeklik seolah-olah berada di tempat pameran dan produknya dan sehingga bisa melakukan transaksi kepada pesantren.

Pada dasarnya pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi pusat perubahan dalam berbagai bidang termasuk teknologi.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
608 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved