Kisah Sukses Bos Persib Umuh Muchtar, Sempat Jadi Tukang Kredit Celana dan Jualan Tanah

"Saya coba dengan 30 potong celana dahulu, dikreditkan dalam tiga bulan. Ternyata responsnya baik, semua suka. Orang banyak minta"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Haji Umuh Muchtar, Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) 

HAJI Umuh Muchtar, Komisaris Persib Bandung Bermartabat'>PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) adalah yang paling royal dan loyal kepada Persib. Sifat royal tersebut tenyata sudah dimiliki Umuh sejak lama. Bahkan sebelum kehidupan ekonominya sebaik sekarang.

Dulu, Uwa Haji Umuh, begitu pria kelahiran Bandung, 2 Juni 1948 itu biasa disapa, hanyalah pekerja biasa di perusahaan pembuatan televisi dan transistor radio di Kota Bandung. Namun, sejak dahulu, meski hanya sebagai bobotoh, Umuh selalu memberikan uangnya kepada para pemain Persib jika Persib menang dalam bertanding.

"Adeng Hudaya, Robby Darwis, Yusuf Bachtiar, dan yang lain, selalu saya beri bonus sejak dahulu. Bisa ditanyakan langsung," kata Umuh saat ditemui di kediamannya di Ciluluk, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Senin (13/12).

Haji Umuh Muchtar,  di kediamannya, Ciluluk, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang,
Haji Umuh Muchtar, di kediamannya, Ciluluk, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Lantas, bagaimana kisah suksesnya hingga kini menjadi orang nomor satu di Persib Bandung?
Umuh memulai kariernya sebagai pekerja biasa di perusahaan milik Belanda, NV Philips Fabricageen Handels Maatschappij. Dia dibawa seorang bersuku Minangkabau yang sudah dia anggap sebagai keluarga untuk bekerja di perusahaan itu pada 1970, setahun setelah dia menikah.

"Saya pertama bekerja di bagian mesin kayu. Mesin kayu itu maksudnya untuk membuat boks televisi. Tetapi di situ saya tidak lama, kemudian saya ditarik untuk duduk di meja administrasi gudang," kata Umuh.

Baca juga: Ryuji Utomo Prabowo, Sosok Lulusan Diklat Persib yang Kembali Diincar Tim Maung Bandung

Dengan tugas itu, dia memegang kendali pengiriman televisi dan radio ke sejumlah afdeling atau daerah administratif setingkat kabupaten/kota.

Cukup lama Umuh di bagian ini. Namun, pengalaman ini juga yang membuat Umuh berani mengambil langkah pertama sebagai pengusaha.

Baca juga: Roni Bocung Pendiri Viking Karawang, dari 20 Orang Kini Memiliki Fans Persib Terbanyak di Indonesia

Dari meja administrasi, dia memperhatikan jumlah karyawan perusahaan itu yang jumlahnya sekitar 500 orang. Dia kemudian terpikir untuk menjual celana kepada para karyawan. Sistem yang ia gunakan sistem kredit. Celana ia berikan lebih dulu, dan pembayarannya dicicil.

"Saya coba dengan 30 potong celana dahulu, dikreditkan dalam tiga bulan. Ternyata responsnya baik, semua suka. Orang banyak minta. Akhirnya nyaris 70 persen orang pabrik mengambil celana dari saya. Bisa habis 250-300 potong," kata Umuh.

H Umuh Mochtar
H Umuh Mochtar (kolase Tribun Jabar)

Dia menggambarkan keuntungannya dahulu dengan ilustrsi gaji seribu. Jika dia mendapatkan gaji Rp 1.000 dari perusahaan, dia dari usaha jualan celana mendapatkan keuntungan Rp 30.000.

Usaha celana itu terus dikembangkan. Bahkan celana disebar ke setiap afdeling dengan sistem kredit yang sama.

Dari bagian administrasi, dia kemudian ditarik ke bagian produksi. Di bagian inilah Umuh mulai bermain dalam urusan usaha limbah.

Baca juga: Kala Muda, Asep Dayat Menjadi Pemain Persib yang Direkrut PSSI Primavera dan Belajar di Italia

Limbah yang pertama kali dia jual berasal dari dalam pabrik di mana dia bekerja. Ketika itu, banyak sekali limbah logam campuran bernama kuningan.

"Say usaha limbah selama di Philips saja. Saya jual kuningan. Uangnya besar. Untungnya terus dibagi-bagi," kata Umuh.

Baca juga: Ajat Sudrajat, Striker Persib Paling Flamboyan, Ikon Maung Bandung yang Kini Melatih SSB

Guratan nasib baik tampaknya tidak berhenti di urusan limbah. Umuh kemudian menjadi juragan tanah. Berawal dari tanah milik orang tuanya yang terkena pembebasan untuk proyek sungai.

Uang hasil pembebasan lahan itu dipakai kedua orang tua Umuh untuk berangkat haji. Uang sisa dari ongkos haji, kata Umuh, dititipkan orang tuanya kepadanya.

Baca juga: Boy Jati Asmara, Sosok Petarung dan Petualang Sejati yang Disukai Bobotoh Persib

"Itu tahun 1973. Karena saya pegang uang titipan itu, saya beli tuh tanah yang mau kena proyek dan belum dibebaskan. Saya beli dengan harga pantas dan dengan pembayaran segera, terus saya jual dengan cara kavling. Masyarakat mau saja menjual ke saya karena saya bayarnya jelas dan segera, daripada mereka jual ke calo (makelar)," kata Umuh.

Dia mengatakan, sejak tahun itu hingga 1985, dia terus berbisnis jual beli tanah. Dia mengatakan, jual beli tanah seperti jual beli kacang goreng.

Baca juga: Dadang Hidayat, Pemain yang Berawal dan Berakhir di Persib, Pillih Pensiun Dini Demi Regenerasi

Pada rentang waktu berbisnis tanah itu, pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Tepatnya pada 1984, pabrik melelang semua alat-alat dan komponen untuk pembuatan televisi dan radio.

Umuh yang semakin tajam perhitungannya dalam berbisnis bertanya ke pabrik bagaimana harga komponen-komponen itu yang kemudian berlanjut pada kesepakatan Umuh untuk mencarikan lubang penjualannya.

Baca juga: Momen Tidak Terlupakan Saat Melawan Persija di Stadion Siliwangi 2006, Abo Jadi Pahlawan Persib

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
603 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved