Melongok Juara Si Lasik di SMAN 1 Ciamis, Mata Mereka Berbinar Saat Bicara Pengolahan Sampah Plastik

“Lama-lama kepikiran juga, kenapa enggak dibikin stoples sekalian. Kan lebih banyak manfaatnya. Tidak hanya jadi pot untuk tanam cabai rawit"

Tribun Jabar/Andri M Dani
Nazwa Resti Agustin (kanan) dan Lidiya Mustajab, tersenyum gembira saat menunjukkan karya mereka di SMAN 1 Ciamis, Jumat (3/12). Karya tersebut menjadi juara Kreasi Plastik Jadi Cantik (Si Lasik) yang digelar Pusaka Naraya di Telkom University, beberapa waktu lalu. 

BAGI Nazwa Resti Agustin (16) dan Lidiya Mustajab (15), sampah plastik sudah seperti teman bermain. Kedua mata mereka selalu berbinar setiap kali menceritakannya.

Bisa berjam-jam kedua siswa SMAN 1 Ciamis itu menghabiskan waktunya untuk "bermain" dengan sampah plastik. Sampah-sampah plastik apapun yang mereka hasilkan di rumah selalu bisa mereka ubah menjadi sesuatu yang cantik dan fungsional.

Mulai dari yang sederhana seperti pot bunga atau sayuran hingga yang lebih rumit seperti pernak-pernik hiasan meja, bunga-bunga plastik, wadah lilin aroma terapi, dan sebagainya, termasuk, toples cantik dari botol plastik bekas serta tikar dan sejadah yang indah dari bungkus bekas kopi saset.

Nazwa Resti Agustin, siswi kelas X MIPA 2 SMAN 1 Ciamis pemenang lomba daur ulang sampah plastik Telkom University  kategori “Si Terbaik” dengan karya stoples kue
Nazwa Resti Agustin, siswi kelas X MIPA 2 SMAN 1 Ciamis pemenang lomba daur ulang sampah plastik Telkom University kategori “Si Terbaik” dengan karya stoples kue (Tribun Jabar/Andri M Dani)

Dua yang terakhir ini bahkan menjadikan mereka juara lomba daur ulang sampah Kreasi Plastik Jadi Cantik (Si Lasik), yang digagas Pusaka Naraya dalam rangkaian acara Urban Villace 2021, Peminatan Marketing Komunikasi Telkom University, akhir November lalu.

Stoples cantik yang dibuat dan dipresentasikan Nazwa meraih juara pertama kategori Si Terbaik, sementara tikar dari bungkus kopi saset bekas yang dibuat Lidiya meraih juara pertama kategori Si Gemoy.

Baca juga: Film Pulau Plastik Sebagai Peningatan untuk Meningkatkan kewaspadaan Terhadap Sampah Plastik

Ditemui di kampus SMAN 1 Ciamis, Jumat (3/12) siang, Nazwa Resti Agustinmengatakan, karyanya yang menjadi Si Terbaik dalam lomba Si Lasik terbuat dari botol bekas kemasan softdrink “Big Cola” ukuran 3 liter.

“Di rumah memang banyak botol (Big Cola). Apalagi waktu Lebaran kemarin, banyak yang suka,” ujar Nazwa.
Biasanya, ujar Nazwa, botol plastik bekas minuman bersoda tersebut hanya digunakan sebagai wadah untuk menanam berbagai jenis cabai, aneka sayuran. dan kembang di halaman rumahnya di Jalan Pelita, Lingkungan Desa, Kelurahan Cigembor, Ciamis.

Baca juga: KSM Al Falah Garut Ubah Sampah Menjadi Abu untuk Dibuat Paving Block, Berharap Ada Mesin Pencacah

“Lama-lama kepikiran juga, kenapa enggak dibikin stoples sekalian. Kan lebih banyak manfaatnya. Tidak hanya jadi pot untuk tanam cabai rawit, atau sayur mayur. Apalagi bekas botolnya kan cukup besar,” ujarnya.

Selain tak terlalu sulit, kata Nazwa, membuat toples dari botol plastik bekas ini juga sangat menasyikan. Pertama, botol ini digunting untuk dibuat toples ukuran sedang. Di bagian bawahnya sebagai alas, menggunakan bekas tutup botol, bekas tutup toples, dan serpihan kardus.

Lidiya Mustajab, siswi kelas X MIPA 1 SMAN 1 Ciamis pemenang lomba daur ulang sampah plastik Telkom Unversity kategori “Si GemboY. Dengan karya berupa tikar dari bekas bungkus kopi saset
Lidiya Mustajab, siswi kelas X MIPA 1 SMAN 1 Ciamis pemenang lomba daur ulang sampah plastik Telkom Unversity kategori “Si GemboY. Dengan karya berupa tikar dari bekas bungkus kopi saset (Tribun Jabar/Andri M Dani)

“Jadi, semuanya sampah plastik. Kecuali cat semprot, lem, dan mata rantai sebagai aksesoris,” ujar bungsu dari dua bersaudara, putri pasangan Agus Gunawan dan Ny Lia Herliani tersebut.

Dengan memanfaat waktu senggang usai pulang sekolah, sekitar 2,5 jam siswi kelas X Mipa 1 ini bisa menyulap limbah plastik tersebut menjadi toples yang indah yang menarik.

Baca juga: Anwar Permana, Indra Sumedi, Iwan Ridwan, dan Yusuf Suhara Bikin kaki Palsu Berbahan Daur Ulang

“Toples ini bisa dimanfaatkan untuk wadah. Wadah camilan, wadah kue, keripik, dan sebagainya. Untuk lilin aroma terapi juga bisa, tapi tutup toplesnya harus dibuka,” ujar Nazwa Resti Agustin.

Nazwa juga mengaku kerap memanfaatkan botol plastik kemasan air mineral jadi kembang.

“Botol air mineralnya dibakar dulu, kemudian dibuat jadi kembang. Bikinnya lama juga sampai empat jam,” ujar Nazwa seraya mengatakan di rumahnya tersedia wadah khusus untuk menampung berbagai sampah plastik terutama berupa botol bekas air mineral, wadah minuman kemasan lainnya seperti teh gelas, dan sebagainya.

Baca juga: Mojang Cantik Purwakarta Ini Ubah Eceng Gondok Jadi Kerajinan untuk Mengurangi Dampak Buruk

“Kalau enggak sempat didaur ulang, sampah-sampah plastik yang terkumpul, kadang suka dijual," ujar Nazwa Resti Agustin sambil tertawa.

"Lumayan juga, hasilnya untuk jajan, yang penting sampah-sampah plastik yang susah lapuk itu tidak berserakan dan tidak jadi tempat genangan air. Kalau ada wadah bekas air mineral yang berisi air di musim hujan, bisa menjadi sarang jentik-jentik nyamuk," tambahnya.

Hal senada diungkapkan Lidiya Mustajab. Apalagi, tempat tinggalnya di Jalan Mr Iwa Kusumasumantri, Ciamis, ujar Lidiya Mustajab, adalah juga toko kelontong yang setiap hari menghasilkan banyak sampah plastik.

Baca juga: Aep Saepudin, Sosok Penyandang Difabel yang Kreatif di Tengah Pandemi, Membuat Berbagai Kerajinan

"Banyak sekali, terutama sampah cangkang kopi sachet. Namanya juga toko kelontong, tiap hari ada yang minta diseduhkan kopi. Cangkang kopi itu dikumpulkan, lama-lama banyak juga, yang jaga warung kan Mamah,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara, putri pasangan Lili Barli dan Wanti tersebut.

Siswi kelas X MIPA 2 ini mengaku tak pernah menghitung persis berapa ratus cangkang kopi yang sudah terkumpul dalam kantong kresek. "Banyak." ujarnya.

Untuk membuat tikar, ujar Lidiya Mustajab, satu persatu bungkus kopi sachet bekas itu dipotong bagian atas dan bawahnya. Kemudian dilipat empat kali dan disusun atau dianyam secara khusus sehingga sambung-menyambung, terkunci tanpa perlu dijahit.

Baca juga: Erry Erlangga, Seniman Penyandang Disabilitas yang Pantang Menyerah, Ciptakan Gitar Bambu Nusantara

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
590 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved