Kisah Dewi dan Nurul, Guru yang Honornya Tak Sampai Rp 500 Ribu Tapi Tetap Mengajar di Pelosok

"Aduh, kalau hujan mah, yah, begitu, bukan cuma ban motor yang penuh lumpur. Kaki saya udah kaya orang habis tandur (menanam padi) penuh lumpur,"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Dewi Kumalasari dan Nurul Pertiwi, guru honorer saat terjebak oleh derasnya arus sungai menuju sekolah 

INI kisah unik Sekolah Negeri Satu Atap 1 Parungbanteng, yang terletak di Kampung Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta. Kampung tersebut berjarak cukuo jauh dan hampir terisolasi.

Jarak Kampung Cigorowek ke pusat Kecamatan Sukasari berjarak 20 kilometer dengan medan yang harus ditembuh berupa jalanan terjal berbatu.

Sungai yang berlokasi 3 kilometer sebelum sampai ke Sekolah Negeri Satu Atap 1 Parungbanteng memang menjadi medan penghalang paling sulit untuk mengakses sekolah tersebut.

Murid-murid SDN Satu Atap 1 Parungbanteng di Bukit Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, mengikuti ujian Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK)
Murid-murid SDN Satu Atap 1 Parungbanteng di Bukit Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, mengikuti ujian Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Jembatan yang belum rampung dibangun tentu saja sulit dilalui, baik untuk pejalan kaki apa lagi kendaraan, jika musim hujan tiba air sungai deras orang tak dapat menyebrangi sungai tersebut.

Para siswa dan guru yang hendak menunu sekolah, bahkan kerap kali tak kebingungan melintasi sungai tersebut.

Baca juga: Kisah Unandar, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Yang Bertugas di Pelosok Kabupaten Purwakarta

Hal itu dialami oleh juga dialami oleh Dewi Komalasari (45) dan Nurul Pertiwi (20), mereka bedua merupakan ibu dan anak yang kini berstatus guru honorer bertugas mengajar di Sekolah Negeri Satu Atap 1 Parungbanteng.

Dewi Komalasari sang ibu merupakan seorang guru honorer untuk SDN Satu Atap 1 Parungbanteng, sedangkan Nurul Pertiwi putrinya seorang guru honorer di SMPN Satu Atap 1 Parungbanteng.

Baca juga: Dari Mojang Hingga Menjadi Bupati, Ambu Anne Bertekad Jadikan Purwakarta Jalur Utama

Dewi bercerita, ia berangkat ke sekolah dengan jarak tempuh yang cukup jauh, yakni 17 kilometer. Ia saban hari berangkat berdua satu motor.

"Saya berangkat bareng sama Nurul, kebetulan kami ngajar bareng, kalau berangkat jam 6 pagi itu bisa sampai sekitar jam 07.30," ujar Dewi ketika diwawancara Tribun seusai menyiapkan laptop untuk ujian Asesmen nasional Berbasis Komputer (ANBK) SDN Satu Atap 1 Parungbanteng di Bukit Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, akhir pekan lalu.

Jarak yang ditempuh Dewi dan Nurul terkadang lebih lama dari itu, sebab jika musim penghujan tiba, mereka yang memang seorang perempuan punya keterbatasan fisik tentu kesulitan mengendarai sepeda motor di medan jalan yang berlumpur.

Baca juga: Brigadir Ruslan Hadiyatna Membangun Rumah untuk Ustaz Alfin, Guru Mengaji yang Difabel di Pamarican

"Aduh, kalau hujan mah, yah, begitu, bukan cuma ban motor yang penuh lumpur. Kaki saya udah kaya orang habis tandur (menanam padi) penuh lumpur," kata dia.

Dewi dan Nurul, kedua wanita tangguh ini tak seolah tak pernah punya rasa ampun meski diberi honor jauh dari layak. Saban hari mereka tetap menjalani profesi penuh resiko tersebut.

Unandar memandu siswa sekolah negeri Satu Atap 1 Parungbanteng, membangun jembatan menuju sekolah di Kampung Cigorowek, Kamis (25/11/2021)
Unandar memandu siswa sekolah negeri Satu Atap 1 Parungbanteng, membangun jembatan menuju sekolah di Kampung Cigorowek, Kamis (25/11/2021) (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Bahkan, Dewi dan Nurul juga sempat terisolasi karena derasnya arus sungai seusai diguyur hujan. Perjalanan mereka terhenti di bibir dungai yang berjarak 3 kilometer ke sekolah.

Kali ini giliran nurul yang bercerita pengalaman yang menurutnya lucu tersebut. Dara manis itu mengungkap, mereka tak jadi mengajar karena tak mampu menyebrangi derasnya arus sungai.

Baca juga: Inilah Ani Sumarni, Guru Honorer Cantik di Cianjur yang Kerap Merawat ODGJ di Jalan

"Waktu itu malamnya emang hujan deras, itu kira-kira bulan lalu. Pas kita sampai di dekat sungai malah bingung kita mau ngapain, gak mungkin kalo menyeberang," ujar Nurul sembari tertawa.

Pengalaman sepahit itu, ternyata masih bisa jadi humor bagi mereka. Padahal upah yang didapat Dewi dan Nurul tentu jauh dari kata layak. Dewi dan Nurul yang sempat tak jadi mengajar karena terhambat derasnya arus sungai tak mematahkan niat mereka untuk tetap memberikan pelajaran kepada anak-anak.

Baca juga: Kenny Dewi: Ibu Adalah Guru Pertama bagi Anak

"Kami naik ke kerangka jembatan, terus nunggu salah satu murid keluar, ada satu anak keluar kita panggil dia. Lalu saya kasih buku paket untuk tugas murid di kelas saya, begitu juga ibu ngasih tugas sama murid kelasnya," kata Nurul 

Ibarat Oemar Bakri masa kini, gajih mereka tak sampai Rp 500 ribu per bulannya. Sebab mereka mengajar dibayar berdasarkan hitungannya dengan upah belasan ribu perjamnya.

"Kalau dibilang cukup ya pasti gak cukup, saya malu nyebutinnya. Tapi ya gak sampai setengah juta lah pokoknya," ungkap Nurul.

Baca juga: Gadis yang Tinggal di Hutan Kaki Gunung Tangkuban Parahu Ini Bertekad Kuliah di Perguruan Tinggi

Nurul mengungkap, honor bukan lagi hitungan bagi mereka, "Saya sih mikir begini. Kalau kami kerja berpatokan pada gaji, meski belasan juta mungkin saya gak akan mau ngajar di sini. Tapi  saya melihat anak-anak, melihat semangat belajar mereka, senyuman mereka, berisiknya mereka di kelas termasuk berantemnya mereka, itu saya anggap sebagai bayaran untuk saya," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
578 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved