Kisah Unandar, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Yang Bertugas di Pelosok Kabupaten Purwakarta

"Kami setiap hari berangkat dari rumah di Kecamatan Tegalwaru menuju SDN 1 Parungbanteng menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Unandar sedang memandu siswa sekolah negeri Satu Atap 1 Parungbanteng, membangun jembatan menuju sekolah di Kampung Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Kamis (25/11/2021) 

HARI guru yang diperingati setiap tanggal 25 November setiap tahunnya tinggal hitungannya, kisah menarik perjuangan seorang guru tentu sangat menarik untuk diulas.

Seorang guru bernama Unandar berusia 39 tahun ini, bertugas di pedalaman Kabupaten Purwakarta. Ia merupakan seorang guru pengajar di SDN 1 Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta.

Setiap harinya Unan sapaan akrab Unandar harus berjuang menempuh jarak 20 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam menuju ke sekolah tempat ia mengajar.

Unandar, seorang guru yang bertugas di Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta tengah berangkat menuju sekolah, Rabu (24/11/2021)
Unandar, seorang guru yang bertugas di Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta tengah berangkat menuju sekolah, Rabu (24/11/2021) (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Waktu tempuh yang begitu lama dikarenakan kondisi jalan yang licin dan berbatu terbilang cukup ekstrem untuk dilalui sepeda motor yang dikendarai Unan.

"Kami setiap hari berangkat dari rumah di Kecamatan Tegalwaru menuju SDN 1 Parungbanteng menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam," ujar Unan ketika diwawancara saat pulang sekolah di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Rabu (24/11/2021).

Baca juga: Pelajar SMPN 1 Majalengka Bikin Wayang dari Paralon, Guru Jadi Dalangnya, Sambut Hari Wayang

Hambatan Unan menuju ke sekolah terbilang cukup banyak, bahkan terkadang cuaca juga menjadi penyebab memperlambat perjalanan Unan.

"Kalau musim hujan kaya gini memang lebih parah, dalam kondisi jalanan kering saya memang bisa menempuh satu jam. Tapi kalau hujan bisa dua kali lipat lebih lama," kata dia.

Baca juga: Brigadir Ruslan Hadiyatna Membangun Rumah untuk Ustaz Alfin, Guru Mengaji yang Difabel di Pamarican

Selain jalanan licin berbatu, kondisi jalan berliku nan terjal itu juga dipenuhi lumpur tanah merah yang menghambat roda kendaraan.

"Selain ban motor sering slip terhambat lumpu kalo musim hujan. Jembatan yang saya lalui juga masih belum selesai dibangun, di situ berbahaya juga," imbuhnya.

Baca juga: Lili Supriatna, Guru SMKN 1 Cipaku Ciamis, Tanam & Kembangkan Bayam Brazil yang Berkhasiat

Jika bukan musim penghujan seperti saat ini, Unan bisa saja melintasi sungai, namun ketika musim hujan aliran sungai cukup deras dengan muka air lebih tinggi.

Terpaksa Unan pun harus mendorong sepeda motornya untuk melintas di atas jembatan yang masih berbentuk setengah kerangka.

"Kalau gak lewat darat, saya juga bisa lewat jalur air engan menyeberang Waduk Jatiluhur menggunakan perahu jukung," kata Unan.

Unandar sedang memandu siswa sekolah negeri Satu Atap 1 Parungbanteng, membangun jembatan menuju sekolah di Kampung Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Kamis (25/11/2021)
Unandar sedang memandu siswa sekolah negeri Satu Atap 1 Parungbanteng, membangun jembatan menuju sekolah di Kampung Cigorowek, Desa Parungbanteng, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Kamis (25/11/2021) (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Namun menyebrangi waduk dengan perahu jukung juga masih berisiko bahaya tinggi bagi Unan, sebab kondisi musim seperti ini bisa saja cuaca tiba-tiba ekstrem angin menghembus lebih kencang mengancam keseimbangan perahu. Belum lagi hamparan eceng gondok yang selama ini menjadi masalah di waduk tersebut.

"Bisa saja kehilangan keseimbangan diterpa angin kencang, bahkan bisa juga terjebak eceng gondok kalau lewat danau. Jadi mau lewat darat maupun jalur air tetap ada resiko," ungkapnya.

Baca juga: Kenny Dewi: Ibu Adalah Guru Pertama bagi Anak

Sebelumnya, Unan mengabdi sebagai guru honorer selama 20 tahun di SDN dan SMPN Satu Atap 1 Parungbanteng, Unan diketahui lulus tes CPNS dan berhasil dingkat jadi PNS pada tahun 2010 silam.

Tak hanya Unan yang mengalami kondisi tersebut, guru lain dan siswa lain juga mengalami hal serupa dengan Unan.

Akibat kondisi tersebut, Unan mengaku tak jarang ia terlambat datang ke sekolah. Sebab kondisi akses yang ia lalui juga terbilang tidak ramah.

Baca juga: Rahmat Ali Jalani Profesi Tukang Tensi Darah Keliling, Sekolahkan Anak Hingga Jadi Guru

Kendati demikian, Unan mengaku tak kehilangan semangat dalam menunaikan tugasnya untuk mencerdaskan anak bangsa.

"Tetap harus kami jalani karena ini sudah menjadi kewajiban kami, bagi kami tidak ada kata rintangan, yang ada hanya tantangan," ujarnya.

Baca juga: Maya Berlin Sulap Batok Kelapa Jadi Wayang Korona, Kreativitas Seorang Guru di Tengah Pandemi

Unan berharap, pemerintah dan pihak terkait bisa melihat kondisi yang terjadi di SDN dan SMPN Satu Atap 1 Parungbanteng, sebab kondisi mereka jauh tertinggal dibanding sekolah-sekolah lain di sekitar perkotaan.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
574 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved