Mengenal Angklung Dog-dog Lojor di Kasepuhan Sinar Resmi Sukabumi, Tak Ada Nada Doremi tapi Merdu

"Bahannya diambil dari alam yaitu bambu, tapi gak semua jenis bambu bisa dibuat Dog-dog Lojor atau Angklung, bambu hitam bisa yang seperti ini"

Tribun Jabar/M Rizal Jalaludin
Angklung Dog-dog Lojor di Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, 

ANGKLUNG merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia, tepatnya berasal dari Jawa Barat. Pada umumnya angklung memiliki nada multitonal (bernada ganda).

Namun, di Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat berbeda.

Perbedaan pertama dari namanya, di Kasepuhan Sinar Resmi Angklung ini disebut angklung Dog-dog Lojor. Kedua, ukurannya pun berbeda, di Kasepuhan ukuran Angklung teihat lebih besar, dimana memiliki tinggi sekitar 1 meter, bahkan ada yang lebih dari 1 meter dan dihiasai dedaunan yang disebut daun Seel.

Setiap ukuran Angklung Dog-dog Lojor Kasepuhan Sinar Resmi ini memiliki nama berbeda, ada yang disebut Gong-gong, Panempas, King-king, dan Inclok.

Angklung Dog-dog Lojor
Angklung Dog-dog Lojor (disparbud.gov.id)

Diketahui, Kasepuhan Sinar Resmi dipimpin oleh Abah Asep Nugraha. Ia mengatakan,angklung Dog-dog Lojor ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Uniknya, ada waktu tertentu untuk pembuatan angklung ini, yakni di bulan Maulid atau Rabiulawal dan juga di hari Rebo Wakasan. Menurutnya, selain di hari-hari besar seperti Seren Taun, Angklung ini juga dipakai sebagai pengiring saat menanam padi.

"Di sini disebutnya angklung Dog-dog Lojor, disebut Dog-dog Lojor itu karena Dog-dognya panjang, jadi ini kesenian sudah ada sejak dulu. Jadi kalau ada menanam padi itu diiringi dengan Dog-dog Lojor. Dimana-mana mau tanam padi, panen, mipit harus diiringi Dog-dog Lojor yang memang angklung keturunan dari Karuhun," ujar Abah Asep Nugraha beberapa waktu lalu.

Baca juga: Sara Fajira Ingin Punya Pengalaman Berkolaborasi, Gabungkan Musik Tradisional dan Modern

"Bahannya diambil dari alam yaitu bambu, tapi gak semua jenis bambu bisa dibuat Dog-dog Lojor atau Angklung, bambu hitam bisa yang seperti ini, bambu tali bisa, malah kalau yang disebut awi leuweung (bambu hutan) itu lebih bagus, lebih bagus suaranya lebih keras dan lebih halus," ucapnya.

Ia mengatakan, Angklung ini tidak memiliki nada Doremi, tapi saat dimainkan suaranya tidak kalah merdu dengan Angklung biasa.

Baca juga: Sejumput Kisah Rumah Lahir Raden Machjar Angga Koesoemadinata, Musikolog Sunda Pertama di Pulau Jawa

"Kalau mengayunkannya, memainkannya sama kaya angklung pada umumnya, cuma di sini gak punya nada Do Re Fa So La Si Do saja, namanya itu ada Gong-gong, Panempas, King-king dan Inclok," ujar Abah Asep Nugraha.

Mendengar adanya kesenian tradisional Angklung Dog-dog Lojor, Agus Ramdhan, Ketua umum Dunia Bambu Sukabumi (DBS) mendatangi Kasepuhan Sinar Resmi dan langsung mencoba memainkannya bertepatan pada hari Angklung Internasional, Selasa (16/11/2021) kemarin.

Ia mengatakan, selaku organisasi yang berkecimpung di bidang bambu akan berupaya melestarikan dan memperkenalkan kepada dunia tentang Angklung itu. Terlebih, Kasepuhan Sinar Resmi masuk dalam Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGG) atau lebih dikenal Geopark Ciletuh.

"Ini di Kasepuhan Sinar Resmi ada Angklung Dog-dog Lojor, ternyata ini sudah ratusan tahun dan masuk dalam kawasan Geopark Ciletuh. Kepedulian dari DBS ingin melestarikan supaya kelestarian tradisional ini supaya tidak punah. Dan Angklung di Sinarresmi dengan angklung di tempat lain itu berbeda, di sini tidak ada nada Doremi, di sini mengandung syarat makna," kata Agus Ramdhan.

Baca juga: Rumah Budaya Rosid Hadirkan Berbagai Etnik Pedesaan dalam Berkesenian

"Kaitan mengembangkan kita dari DBS sangat konsen karena ini juga mayoritas semua terbuatnya dari Awi (Bambu), seperti Abah katakan bahwa zaman dulu itu perlu yang namanya hiburan, perlu kesenian. Namun tidak seperti zaman modern sekarang bisa ada saksofon, piano, cuma kembali ke alam adanya bambu, jadi memanfaatkan yang ada supaya ada nadanya keluar," ucapnya.

Salah satu acara budaya tradisional yang menggunakan angklung Dog-dog lojor
Salah satu acara budaya tradisional yang menggunakan angklung Dog-dog lojor (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Mendengar niat baik DBS, Abah Asep Nugraha pun sangat mengapresiasi dan mendukung langkah yang akan dilakukan DBS.

"Bagus sekali, mengapresiasi, jadi masih ada yang peduli kepada kesenian karuhunan, kesenian keturunan, kenyataannya memang kesenian-kesenian yang diturunkan leluhur kita harus dirumat, dirawat, diruwat," timpal Abah Asep Nugraha. (Tribun Jabar/M Rizal Jalaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved