Sosok Panglima TNI di Mata Adik Bungsunya: Mas Andika Itu Hatinya Lembut, Enggak Tegaan

"Mas Andika lalu menasihati pencuri itu dan memberinya uang Rp 100 ribu. Saya lupa waktu itu Mas Andika masih kapten atau sudah mayor"

dokumentasi pribadi Bhirawa Braja
Kabid Propam Polda Metro Jaya Kombes Pol Bhirawa Braja Paksa bersama sang kakak, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, dalam acara sertijab Andika sebagai KSAD pada 29 November 2018 silam. 

PANGLIMA TNI Jenderal Andika Perkasa dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin, dan tak segan memberikan sanksi kepada jajarannya yang bersalah. Siapa sangka, di balik semua itu, Andika adalah sosok berhati lembut, bahkan tidak tegaan.

Sosok Jenderal Andika Perkasa yang lembut dan tak tegaan itu diungkapkan adik kandung Andika, Komisaris Besar Polisi Bhirawa Braja Paksa, yang kini bertugas sebagai Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabid Propam) di Polda Metro Jaya.

"Mas Andika itu orang yang suka bercanda dan hatinya lembut. Walaupun dia Kopassus minded tapi dia hatinya lembut. Sama orang enggak tegaan. Orangnya gitu. Jadi lihat ada orang butuh pertolongan, langsung tuh (dibantu)," ujar Bhirawa, saat khusus dengan Tribunnetwork, di ruang kerjanya, Jumat (19/11).

Bhirawa Braja Paksa dan Andika Perkasa
Bhirawa Braja Paksa dan Andika Perkasa (kolase Tribun Manado)

Sedikit menengadah, Bhirawa berusaha mengingat cerita yang dianggapnya sangat menyentuh hati dan membuktikan Andika adalah sosok berhati lembut. Peristiwanya, kata Bhirawa, terjadi ketika Andika masih muda.

Kala itu, rumah Andika yang masih berada di kawasan Cibubur dibobol maling. Pencuri itu kemudian tertangkap. Namun, Andika tidak melaporkannya ke polisi.

Alih-alih melaporkannya, Andika, kata Bhirawa justru memanggil pencuri itu untuk menemuinya di ruang tamu.
"Mas Andika lalu menasihati pencuri itu dan memberinya uang Rp 100 ribu. Saya lupa waktu itu Mas Andika masih kapten atau sudah mayor," ujarnya.

Baca juga: Menjabat Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Agus Subiyanto Merasa Pulang ke Kampung Halamannya

"Itu nyata, saya enggak ngarang. Silakan kroscek ke Pak Andika. Jadi bukan dilaporkan ke Polsek, tapi dipanggil, dinasehatin, dikasih uang, ya gitu lembut hatinya, orangnya enggak tegaan," ujar Bhirawa.

Andika di mata keluarga besar juga selalu membanggakan dan rajin berkomunikasi. Selama ini komunikasi antar keluarga besar disebutnya dilakukan via aplikasi percakapan WhatsApp (WA) dalam sebuah grup. Bahkan sebelum pandemi, kata Bhirawa, Andika rutin berkumpul dengan keluarga besar untuk sekadar bercengkrama dan bersantap bersama. Namun tentu itu semua menyesuaikan dengan kesibukan Andika.

"Seperti waktu jadi Danpaspampres, kan sibuk. Itu setahun bisa cuma tiga kali (bertemu keluarga) karena mengikuti presiden. Waktu jadi Pangdam juga sama, karena di Kalimantan, ya pas beliau pulang saja kumpul. Biasanya kita kumpul di rumah, kumpul makan di restoran," ujar Bhirawa

Baca juga: Pemakaman Kabinda Papua di TMP Kalibata, Ini Sosok Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya

Bhirawa yang pernah menjabat Analis Madya Bidang Kamsel di Korlantas Mabes Polri itu juga mengatakan, ia dan keluarga langsung memberikan selamat ketika Andika resmi dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Panglima TNI. Menurutnya setiap kali Andika berhasil naik pangkat dan memiliki jabatan serta amanah baru, setiap anggota keluarga selalu memberikan ucapan selamat.

Akan tetapi, dia hanya memberikan selamat melalui pesan WA. Itu karena keluarga memahami kesibukan Andika yang setara dengan kesibukan menteri-menteri. Keluarga, kata Bhirawa, juga tak pernah menuntut agar sang kakak selalu merespons.

"Kalau ditelepon kan kadang beliau sibuk, mending WA kan. Enggak mungkin kita menelepon, karena beliau sudah pejabat tinggi selevel menteri, tanggung jawabnya besar dan kesibukannya luar biasa. Yang menelepon beliau pasti banyak, jadi kami sebagai keluarga mengerti, artinya nggak menuntut, WA saja, dibalas tidak dibalas nggak apa-apa karena beliau orang sibuk," ujarnya.

Baca juga: Agus Prayitno Teman Kecil Jenderal Dudung Abdurrahman Sebut Dudung Setia Kawan dan Selalu Dirindukan

Sederhana
Bhirawa adalah anak bungsu dari delapan bersaudara pasangan Kolonel Czi (Purn) FX Soenarto dan Udiati. Andika anak keempat. Mereka berasal dari keluarga yang sederhana, yang hanya mengandalkan gaji dari sang ayah yang berpangkat kolonel.

"Bapak dan ibu itu enggak punya rumah pribadi, enggak punya mobil pribadi, sampai meninggal dunia dua-duanya. Dengan gaji saja, membiayai delapan orang anak, saya paling bungsu," ucapnya.

Keterbatasan ekonomi, membuat hanya satu dari delapan bersaudara itu yang mampu mengenyam pendidikan hingga Strata 1 (S1). Berbekal kondisi itu, Bhirawa menceritakan Andika tak ingin menyusahkan orang tua sehingga memutuskan masuk AKABRI. Begitu pula yang tercetus di pemikirannya.

Bhirawa baraj paksa (kiri) dan Andika Perkasa
Bhirawa baraj paksa (kiri) dan Andika Perkasa (dokumentasi pribadi Bhirawa Braja)

Sempat berpikir akan masuk militer, namun Bhirawa terganjal karena ketentuan dimana jurusan yang dia masuki adalah sosial. Sementara untuk masuk militer, kuliah yang dimasuki kala itu mengharuskan eksakta.

"Kenapa saya masuk polisi itu karena saya jurusannya sosial. Dulu kan kalau mau masuk militer harus paspal, dulu kita menyebutnya ada A1, A2, fisika dan biologi, eksak gitu. Nah, yang A3 itu sosial, saya kuliahnya sosial. Ya sudah enggak ada pilihan lain kan, tapi kalau cita-cita awal saya mau jadi aparatur itu enggak ada," ujarnya.

Baca juga: Kopka Hamim yang Sederhana dan Penuh Dedikasi ini Mendapat Rumah Layak Huni dari Waka Polres Subang

Bhirawa juga mengaku tak pernah berpikir bahwa kariernya akan ikut melesat seiring diangkatnya Andika menjadi Panglima TNI. Pemilik nama baptis Fransiskus Xaverius tersebut menyerahkan segalanya kepada Tuhan, karena dia menganalogikan dirinya hanyalah butiran debu di dunia ini.

"Saya serahkan semua kepada kemurahan Tuhan. Saya cuma manusia biasa yang bukan siapa-siapa, saya hanya debu, enggak perlu ada yang disombongkan," kata Bhirawa.

"Saya serahkan semua kepada Tuhan dan serahkan semua kepada pimpinan, keputusan pimpinan apapun itu. Saya enggak mau berandai-andai dan menentukan, itu bukan kewenangan saya," tandasnya. (tribunnetwork/vincentius jyestha)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved