Produk Bumbu Rendos Buatan Cucu Yunengsih Dikenal Hingga Paris, Sempat Terpuruk Akibat Utang

"Sejak kecil ketika sakit, saya sering dibuatkan minuman jamu, dibuat dari jahe oleh buyut. Jadi, saya nggak terbiasa minum obat"

Tribun Jabar/Putri Puspita
Cucu Yunengsih dan produk Bumbu Rendos buatannya 

REMPAH jahe dan kunyit marak dikonsumsi selama pandemi virus korona. Padahal jauh sebelum itu, tanaman herbal ini banyak diolah dan dikonsumsi demi menjaga kesehatan tubuh sehari-hari.

Jahe dan kunyit tidak hanya bisa digunakan sebagai bumbu masak, tetapi juga sebagai minuman kesehatan atau lebih dikenal dengan nama jamu. Tidak semua orang menyukai minuman olahan tradisional itu, entah karena aroma rempahnya atau rasanya yang pekat di lidah.

Cucu Yunengsih justru “melawan arus” saat membangun Bumbu Rendos, usaha pengolahan dan penjualan jahe dan kunyit. Dia termotivasi dari pengalamannya sendiri yang merasakan manfaat minuman herbal itu.

Produk-produk Bumbu Rendos buatan Cucu Yunengsih dipamerkan di Pasar Kreatif Bandung di Cihampelas Walk, awal November 2021
Produk-produk Bumbu Rendos buatan Cucu Yunengsih dipamerkan di Pasar Kreatif Bandung di Cihampelas Walk, awal November 2021 (Tribun Jabar/Putri Puspita)

"Sejak kecil ketika sakit, saya sering dibuatkan minuman jamu, dibuat dari jahe oleh buyut. Jadi, saya nggak terbiasa minum obat," ujarnya saat ditemui di Cihampelas Walk, Kota Bandung, Selasa (9/11). Pada 2018, Cucu memulai dari usaha rumahan dan memanfatkan media sosial untuk penjualannya.

Pada awal usahanya, semua dikerjakan serba manual. Ia mengiris jahe sendiri hingga jari-jarinya seringkali terkena pisau.

Baca juga: Kisah Sukses Sepasang Kekasih Pengusaha Basreng, Omzet Rata-rata Rp 50 Juta Per Hari

"Bikin usaha sampai tangan berdarah-darah itu benar terjadi karena jari saya sering teriris. Saya juga menumbuk sendiri menggunakan lesung," ujar Cucu Yunengsih.

Perempuan kelahiran Bandung, 28 Desember 1974, itu mengatakan butuh waktu dan kesabaran untuk menumbuk jahe dan kunyit sampai benar-benar halus. Proses pengeringan jahe dan kunyit pun semula hanya mengandalkan sinar matahari.

Baca juga: Bisnis Jasa Titip Sepi Selama Pandemi, Zara El Maulida Sukses Jadi Pengusaha Camilan Buah Kering

Seiring waktu, Bumbu Rendos mendapatkan alat penjemur dan pengering dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) Pegadaian.

"Pengeringan jahe tanpa mesin bisa memakan waktu satu sampai empat hari tergantung cuaca apalagi jika musim hujan. Alhamdulillah, saya sudah memiliki alat dan mempermudah proses produksi," ucap Cucu Yunengsih.

Produk-produk Bumbu Rendos buatan Cucu Yunengsih dipamerkan di Pasar Kreatif Bandung
Produk-produk Bumbu Rendos buatan Cucu Yunengsih dipamerkan di Pasar Kreatif Bandung (Facebook Bumbu Rendos)

Bumbu Rendos memiliki beberapa varian produk, di antaranya bandrek dan kunyit. Menariknya, bandrek ala Bumbu Rendos tidak hanya berisi jahe. Cucu Yunengsih menambahkan beberapa bahan lainnya semisal lengkuas, serai, cabai jawa, lada hitam, dan kayu manis.

"Manfaat bahan-bahan tersebut untuk daya tahan tubuh, menghangatkan tubuh, dan mencegah kolesterol," ujar Cucu Yunengsih.

Baca juga: Menjadi Korban PHK Saat Pandemi, Omzet Maryamah Jualan Harum Manis Kini Rp 18 Juta Per Minggu

Pada awal serangan virus korona, usaha Cucu Yunengsih sempat terhenti. Uniknya, bukan karena kurangnya permintaan. Sebaliknya, konsumen semakin meningkat yang memicu kenaikan harga bahan dasar untuk produksinya. Harga jahe sempat menyentuh Rp 100 ribu per kilogram.

"Saya jual sebungkus Rp 45 ribu berisi 300 gram. Saat itu harga jahe sangat mahal, saya enggak mampu produksi. Sisa barang yang di rumah, saya bagikan untuk tetangga yang butuh," ujarnya.

Baca juga: Kisah Widayati, Ibu Rumah Tangga yang Sukses Berbisnis Brand Pakaian Muslimah di Bandung

Kini, olahan jahe dan kunyit Bumbu Desa tak dinikmati masyarakat lokal saja. Bandrek Bumbu Desa dikenalkan hingga ke India dan Paris.

Ia berharap Bumbu Rendos terus berkembang karena Cucu Yunengsih ingin agar usahanya bisa membantu masyarakat sekitar, terutama para perempuan yang tinggal di daerah Cigadung Raya, Bandung.

Cucu Yunengsih memperlihatkan produk Bumbu Rendos berupa bandrek dan kunyit asem buatannya di Pasar Kreatif Bandung di Cihampelas Walk.
Cucu Yunengsih memperlihatkan produk Bumbu Rendos berupa bandrek dan kunyit asem buatannya di Pasar Kreatif Bandung di Cihampelas Walk. (Tribun Jabar/Putri Puspita)


Sempat Terjerat Rentenir
Cucu Yunengsih sempat terjerat utang dari rentenir, tapi berhasil bangkit dari keterpurukan dan membangun kembali Bumbu Rendos. Saat ditemui Tribun Jabar di Pasar Kreatif, Cihampelas Walk, Bandung Cucu menceritakan perjalanan bisnisnya yang sempat bangkrut total.

Cucu Yunengsih berjualan kelontong untuk memenuhi kebutuhannya, namun ia justru utang terlilit rentenir karena tidak bisa mengembalikan modal.

Baca juga: Lepas dari Lilitan Utang, Dini Fitriyah Kini Punya 6.000 Agen Penjual Brand Mouza

"Tadinya nurani mau menolong sesama, banyak yang kasbon, sementara harus ada modal untuk beli barang lagi. Dari situ, satu per satu rentenir datang dan semua habis seperti kena tsunami," kata Cucu, Selasa (9/11).

Keadaan itu membuat mentalnya terjatuh. Bahkan, saat itu, Cucu sampai tidak mampu membeli makan untuk keluarganya. Sambil menahan haru, Cucu Yunengsih mengatakan selama dua tahun, ia berusaha untuk bangkit.

Baca juga: Ibu Muda Cantik Ini Pemilik Kos-kosan Mewah yang Dibangun dari Uang Tabungan, Tanpa Utang

Ia juga sempat berkeliling menitipkan dagangannya ke toko-toko. Kondisi yang tidak kunjung membaik pun membuat Cucu drop hingga memutuskan tidak mau berjualan lagi.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved