Mengenal Darma Kara, Mitra BI yang Memberi Ruang Berkarya untuk Anak Autis, Karyanya Mengagumkan

Kami juga sertakan kartu berisi penjelasan kalau mereka membeli produk Dama Kara, berarti ikut mendukung terapi menggambar anak autis

Tribun Jabar/Nazmi Abdurahman
Tiara Nur Fajri (kanan) bersama gurunya menujukkan gambar hasil karyanya di Yayasan Our Dream Indonesia, Jalan Cigadung, Kota Bandung, Kamis (11/11/2021). 

IDE menggunakan gambar hasil penyandang autis terlintas di benak Nurdini Prihastiti, saat berkunjung ke Yayasan Our Dream Indonesia. Keinginannya pun terwujud setahun lalu. Kini, sudah beberapa gambar berbagai rupa menempel di pakaian dan aksesoris produk fesyennya.

Tiara Nur Fajri (21) tengah sibuk menggambar. Sesekali matanya menatap papan tulis, mengikuti gambar yang dicontohkan gurunya. Jemari tangannya telaten mencoretkan pensil ke kertas.

Setelah gambar selesai, Tiara kemudian mengambil krayon untuk mewarnai hasil gambar. Sesekali, terdengar suara menggumam dari balik masker yang digunakan Tiara.

Nurdini Prihastiti, pemilik Dama Kara saat menunjukan koleksi volume genap, hasil karya penyandang autis, di tempat produksinya Jalan Cihonje, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis (11/11/2021).
Nurdini Prihastiti, pemilik Dama Kara saat menunjukan koleksi volume genap, hasil karya penyandang autis, di tempat produksinya Jalan Cihonje, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Kamis (11/11/2021). (Tribun Jabar/Nazmi Abdurahman)

"Tiara, bunganya mau dikasih warna apa?" tanya Rusma, guru Tiara di Yayasan Our Dream Indonesia, Jalan Cigadung, Kota Bandung, Kamis (11/11).

Di kelas terapi menggambar Yayasan Our Dream Indonesia itu ada delapan siswa lain. Dibantu tiga guru lainnya, Rusma terus keliling, memastikan semua siswanya tetap tenang dan mengikuti intruksi yang diberikannya.

Sejurus kemudian, Albert, salah satu siswa lainnya, mulai bertepuk tangan atau flapping. Ia menghentikan proses menggambar, menghadapkan wajahnya pada hasil gambar yang setengah jadi itu, sambil flapping.

Baca juga: Cerita Milenial Peduli Gangguan Mental, Pulang Sekolah Datangi Yayasan Beri Hiburan ke ODGJ

"Kebiasaan penyandang autis itu salah satunya flapping. Ada juga yang teriak atau hanya menggumam seperti Tiara, biasanya kami langsung intervensi agar fokus lagi," katanya.

Terapi menggambar bagi peyandang autis di Yayasan Our Dream sudah berjalan tiga tahun. Satu tahun terakhir, biayanya mendapat bantuan dari Dama Kara, Jenama Fesyen mitra Bank Indonesia (BI).

Hasil terapi gambar para penyandang autis itu beberapa diaplikasikan Dama Kara ke dalam motif kain, sebagai bahan pembuatan pakaian, tas, topi dan aksesoris lainnya.

Baca juga: Inilah Ani Sumarni, Guru Honorer Cantik di Cianjur yang Kerap Merawat ODGJ di Jalan

"Sebelum datang Dama Kara, gambar hasil anak-anak ini paling ditumpuk. Baru kalau ada pameran dipamerin. Sekarang, karya anak-anak bisa dihargai oleh orang," ucapnya.

Saat ini, sudah ada tiga gambar karya siswa penyadang autis di Yayasan Our Dream yang diaplikasikan menjadi motif kain Dama Kara, termasuk gambar gunung dan bunga karya Tiara yang masuk dalam artikel volume genap.

Nurdini Prihastiti, pemilik Dama Kara mengatakan, dalam sebuah penelitian yang dilakukan Priherdityo, 2016 lalu, jumlah anak peyandang autis di Indonesia berjumlah sekitar 112 ribu jiwa. Peyandang autis, kata dia, selama ini masih dianggap sebelah mata oleh orang di lingkungan sekitarnya, termasuk keluarga.

Baca juga: Sungguh Mulia Ari Jalliludin, Spontan Berikan Pakaian untuk ODGJ di Tegallega Bandung

"Jadi, kami ingin memberikan ruang berkarya untuk teman-teman autis supaya mereka dapat rasa bangga dari keluarga dan lingkungan sekitar, bahwa setiap orang itu bisa berkarya. Kan, setiap orang itu istimewa yah, punya kelebihan dan kekurang masing-masing," ujar Nurdini.

Untuk mendukung itu semua, Dama Kara membagi koleksinya menjadi dua yakni volume genap dan ganjil. Koleksi volume ganjil mengangkat kain-kain tradisional. Hasil dari jualan volume ganjil, sebagian digunakan untuk mendukung biaya terapi menggambar bagi anak-anak penyandang autisme.

"Nah, hasil gambar dari kelas terapi tersebut kami angkat ke dalam koleksi volume genap. Di mana, anak yang hasil karyanya diangkat ke dalam koleksi volume genap ini, akan mendapatkan royalti setiap bulan," katanya.

Baca juga: Rukman Syamsudin Merawat dan Menyembuhkan Sekitar 300 Orang Disabilitas Mental di Cianjur

Kolaborasi Dama Kara bersama penyandang autis ini sudah berjalan satu tahun. Total sekitar 70 pakaian dan aksesoris dengan gambar karya dari penyandang autis di pasarkan baik secara online maupun offline.

Nurdini mengaku, dalam pemasarannya Ia tidak telalu mengeskpose kobalorasi Dama Kara bersama penyandang autis. Ia tak ingin konsumennya membeli produk Dama Kara karena kasihan.

"Saya ingin mereka membeli produknya karena bagus, bukan karena anak autis yang bikin. Kami juga sertakan kartu berisi penjelasan kalau mereka membeli produk Dama Kara, berarti ikut mendukung terapi menggambar anak autis dan mendukung karya anak autis," ucapnya.

Baca juga: Erry Erlangga, Seniman Penyandang Disabilitas yang Pantang Menyerah, Ciptakan Gitar Bambu Nusantara

Lisa Liliana Dewi, Ibu dari Tiara tak menyangka jika gambar karya anaknya dapat diaplikasikan menjadi motif untuk pakaian dan aksesoris.

"Ya, seperti titik balik. Ini mungkin yang dirasakan orang tua pada umumnya. Alhamdulillah banget, neneknya sampai nangis-nangis, ternyata dibalik istilahnya ada spesialnya cucunya ini, Alhamdulillah masih bisa memberikan kebanggaan bagi orang disekitarnya," ujar Lisa.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved