Mengenal Pagelaran Seni Ritus parahyangan yang Lekat dengan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan

"Khususnya untuk kami sebagai orang Sunda dan penghayat kepercayaan leluhur dan karuhun"

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat 

SUARA gemercik hujan begitu terdengar syahdu saat diiringi alunan alat musik tradisional yang menggema dari Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (10/11/2021) malam. 

Di dalam gedung, gemerlap lampu berwarna warni menyorot ke pagelaran seni Ritus Parahyangan yang digelar Generasi Muda Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Taruna Budidaya yang bekerjasama dengan Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 

Dalam pagelaran seni tersebut menampilkan, seni rengkong, tarawangsa, sintren, pencak silat, dan kesenian lainnya yang sangat kental dengan budaya Sunda, sehingga riuh tepuk tangan dari para penonton pun juga menggema saat mereka tampil.

Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (10/11/2021) malam
Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (10/11/2021) malam (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Irama musik Sunda diiringi suara merdu sinden, diikuti sekelompok penari wanita yang memakai baju kebaya, sedangkan untuk pria memakai baju pangsi hitam sambil menenteng hasil bumi saat masuk ke dalam gedung pertunjukan.

Para penari wanita maupun pria tampak luwes saat menunjukan penampilannya dihadapan ratusan penonton yang memenuhi setiap sudut gedung.

Saat mereka beraksi, lampu utama gedung dimatikan, sehingga hanya sorotan lampu panggung berwarna merah, kuning, dan hijau yang menyala untuk memberikan kesan sakral pada pagelaran kesenian tersebut. 

Di sudut lainnya, terlihat juga ada pertunjukan dari segelintir orang yang tengah menempa senjata dalam tungku api dengan bara menyala, hingga membuat pagelaran seni ini semakin kental dengan budaya sunda.

Ketua panitia Pagelaran Seni Ritus Parahyangan, Asep Setia Puja Negara, mengatakan, Pagelaran Seni Ritus Parahyangan ini merupakan gambaran masyarakat penghayat yang sangat erat dengan ritus sebagai ungkapan terima kasih kepada alam semesta.

"Bagi masyarakat penghayat itu kan diungkapkan dengan seni dan ritual," ujar Asep di sela Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2 Lembang.

Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (10/11/2021) malam
Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (10/11/2021) malam (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Atas hal tersebut, pagelaran seni ritus ini juga bisa dimaknakan sebagai cara para penghayat kepercayaan dalam mengungkapkan terima kasih pada alam semesta atas pemberian keberkahan yang melimpah.

Dengan acara ini, kata Asep Setia Puja Negara, harapannya masyarakat awam bisa sedikit terbuka dan memahami bahwa ritus itu tidak identik dengan klenik atau dengan hal mistis saja.

"Ini merupakan ungkapan persembahan pada karuhun dan leluhur kita semua," katanya.

Pagelaran itu juga menjadi ajang memproklamirkan jika kehidupan sehari-hari masyarakat penghayat kepercayaan sangat erat dengan kearifan lokal, sehingga sudah menjadi kewajiban generasi muda untuk melestarikan budaya sunda.

"Khususnya untuk kami sebagai orang Sunda dan penghayat kepercayaan leluhur dan karuhun," ucap Asep yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Organisasi Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Budidaya ini.

Pagelaran Seni Ritus Parahyangan yang baru pertama kali digelar ini memang banyak melibatkan generasi muda karena hal ini menjadi keprihatinan terjadi degradasi nilai kesenian tradisional yang dimiliki generasi muda saat ini.

Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (10/11/2021)
Pagelaran Seni Ritus Parahyangan di Gedung BHHH2, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (10/11/2021) (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Misalnya, kata dia, banyak generasi muda yang sangat awam dengan tari tradisional sunda, kesenian tarawangsa, sintren, angklung buncis, dan bentuk kesenian lainnya, sehingga hal itu bakal mengikis nilai bangga budaya sesepuh pada generasi muda. 

"Mereka lebih tertarik dan mengenal budaya asing. Mungkin ini jadi PR kita semua untuk kembali memahami jati diri sunda," ujarnya.

Jika melihat dari sudut pandang penghayat kepercayaan, kata dia, esensi dari hidup itu yakni menjalani apa yang sudah menjadi kodratnya. Misalnya, seseorang yang lahir di tanah pasundan, perlu memahami kodratnya sebagai suku sunda.

Hal tersebut, kata dia, karena sunda itu punya budaya, adat, dan bahasa. Sehingga, bagi penghayat itu salah satu kodrat yang harus dijalankan sebagai orang yang lahir di tanah sunda.

"Esensinya hidup itu kan menjalani apa yang menjadi kodratnya, dan menyikapi generasi muda yang tak paham kodratnya sebagai suku sunda, itu jadi tanggungjawab semua," kata Asep. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved