Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin Buktikan Jabar Bukan Jago Kandang

Jawa Barat selama empat tahun terakhir menerapkan sport science untuk meningkatkan prestasi di bidang olahraga

Tribun Jabar/M Syarif Abdussalam
Ketua KONI Jabar, Ahmad Saefudin 

KEMENANGAN Jawa Barat di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 Papua tidak bisa lepas dari peran Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jabar, Ahmad Saefudin. Ia berhasil menyusun strategi dan mengaplikasikannya untuk membawa Kontingen Jawa Barat menang dalam PON XX Papua.

Jabar berhasil meraup 133 emas, 105 perak dan 118 perunggu. Jumlah yang bahkan jauh lebih banyak dari ketika Jabar menjadi juara umum pada PON XIX/2016 di Bandung. Saat itu, meski keluar sebagai juara umum, Jabar janya meraup 217 emas, 154 perak, dan 158 perunggu.

Ahmad menyebut, kemenangan di Papua ini menjadi bukti bahwa Jabar bukan jaf=go kandang. Jabar bisa meraih kemenangan di manapun.

Lantas bagaimana cerita KONI Jabar mengantarkan Kontingen Jabar di PON XX Papua? berikut wawancara eksklusif jurnalis Tribun Jabar, Muhammad Syarif Abdussalam dengan Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin.

BERIKAN KADEUDEUH - Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat memberikan penghargaan dan kadeudeuh kepada peraih medali PON XX Papua 2021 dan Paralympic Tokyo 2020 di Halaman Timur Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (27/10/2021).
BERIKAN KADEUDEUH - Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat memberikan penghargaan dan kadeudeuh kepada peraih medali PON XX Papua 2021 dan Paralympic Tokyo 2020 di Halaman Timur Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (27/10/2021). (Humas Jabar)

Apa yang dibuktikan oleh Jabar setelah menjadi juara umum PON XX Papua?
Dengan kemenangan Jabar di Papua, tuduhan yang ditujukan kepada Jabar yang menang karena menjadi tuan rumah pada PON XIX lalu terbantahkan.
Saya sangat senang, sangat bersyukur, oleh karena kita sudah mampu memberikan jawaban kepada siapapun yang meragukan kepada kita, KONI Jawa Barat, bahwa PON XIX pada 2016 itu adalah karena kita tuan rumah. Tetapi sekarang kita juga membuktikan bahwa bukan hanya di rumah sendiri, tapi di rumah orang lain pun ataupun di kandang lawan, kita bisa menang.
Ini memberikan gambaran bahwa Jabar bukan jago kandang, tapi memang jelas bahwa Jawa Barat unggul dari berbagai aspek.

Apa yang menjadikan Jabar bisa meraih gelar juara umum?
Kemenangan Kontingen Jawa Barat dipicu banyak komponen dan aspek yang ada di dalamnya. Dari mulai aspek atlet, pelatih, pengurus cabor, ada KONI, suporter, sampai dukungan dan kehadiran para kepala daerah dari provinsi sampai kabupaten dan kota.
Mengenai faktor teknik dalam memenangkan pertandingan, bisa dikatakan semua provinsi memiliki kemampuan yang sama dalam melatih atletnya, sama-sama memiliki teori, sama-sama memiliki SDM yang terbaik. Tapi mengapa kita bisa berbeda, bisa kita unggul, itulah mungkin yang membedakan bahwa penguasaan teknik oke sama, tetapi bagaimana tata cara mengimplementasikan itu. Berarti kita Jawa Barat mampu mengimplementasikan teori dan unsur lainnya tadi dengan baik.

Baca juga: Maulidio Fernando Lebih Sering Latihan di Kolam renang Tapi Mampu Raih Emas PON di Selam Laut

Bagaimana strategi yang dijalankan KONI Jabar?
Strategi utama dalam menghadapi PON XX Papua adalah tetap menjalankan persiapan selama pandemi. Sejak dinyatakan sebagai pamdemi pada awal 2020, KONI Jabar langsung merancang strategi latihan para atlet dalam mempersiapkan PON.
Bagaimana tata cara menghadapi latihan, tuntutan latihan, supaya dapat dilakukan latihan dengan baik walaupun pandemi. Sewaktu itu kita katakan harus normal latihan dalam situasi yang tidak normal. Kalau pemerintah mengadakan Adaptasi Kebiasaan Baru, saya katakan latihan normal dalam kondisi yang tidak normal.
Pelatihan pun, harus tetap dilakukan, menyesuaikan dengan protokol kesehatan yang berlaku. Karenanya, KONI dalam waktu singkat membuat sebuah buku panduan pelatihan selama pandemi yang dijadikan petunjuk dalam kegiatan-kegiatan pelatihan.

Gubernur Jabar menyatakan telah mengoptimalkan Sport Science, bagaimana penerapannya?
Jawa Barat selama empat tahun terakhir menerapkan sport science untuk meningkatkan prestasi di bidang olahraga. Sport science sendiri mengombinasikan ilmu-ilmu pertumbuhan fisik dengan prestasi, dan berbagai keilmiahan mengenai aspek-aspek dalam cabang olah raga.
Semua kegiatan harus menggunakan pendekatan teori ilmu sains. Pengetahuan ini menjadi referensi untuk menggunakan pilihan metode dan aspek dalam meraih prestasi di bidang olahraga.
Kita memiliki desain, bagaimana arah yang dibangun untuk menuju sebuah kemenangan. Setelah kita menguasai bagaimana kemampuan atlet kita, bagaimana kemampuan calon lawan kita, kemudian kita harus seperti apa supaya bisa mengungguli.

MEMOTIVASI - Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin saat memotivasi para atlet polo air di PON XX Papua 2021
MEMOTIVASI - Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin saat memotivasi para atlet polo air di PON XX Papua 2021 (Instagram Ahmad Saefudin)


Bagaimana meningkatkan power endurance, dan lainnya. Jadi sport science itu sudah keniscayaan yang kita lakukan di Jawa Barat bersama beberapa universitas yang ada di dalamnya. Karena SDM universitas tentang hal itu memang ada di kita.
Kita memiliki rancang bangun yang clear karena kita ingin mengungguli lawan dari posisi apapun juga. Sehingga di masa pandemi, kita bisa terlaksanakan pelatihan. Kita langsung bikin buku manajemen latihan di masa pandemi, itu kelebihan kita, satu bulan setelah tanggal 26 Maret 2020 itu. Kita sudah menggunakan buku itu dan kita sosialisasikan dengan cabang-cabang olahraga dan kita laksanakan sentralisasi terbatas.

Baca juga:  Atlet Indramayu Lena-Leni Bangkit Raih Medali Emas Takraw PON XX, Sebelumnya Sempat Down

Bagaimana apresiasi untuk para atlet berprestasi di PON?
Setelah para atlet ini berhasil meraih prestasi, kami pun memberikan berbagai bentuk apresiasi. Begitupun yang dilakukan Pemprov Jabar kepada para atlet. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sudah memberikan penghargaan dan kadeudeuh.
Mereka sudah mendapatkan apresiasi dari provinsi mereka sudah mendapatkan apresiasi kabupaten kota bahkan dari desa pun mereka mendapatkannya.
Banyak atlet yang melaporkan bahwa mereka bahkan mendapat bingkisan dari mulai kambing sampai buah-buahan dari warga tempat tinggalnya. Hal inilah yang menjadikan para atlet merasa lebih bahagia telah mengharumkan nama daerahnya.(*)

Baca juga: Saat SMP Sering Dijuluki Kapsul, Kini Putri Desiyanti Membuktikannya dengan Meraih Emas PON XX

Kiprah Ahmad Saefudin Berawal dari Beladiri

BAGI Ahmad Saefudin, perjalanan hidupnya untuk sampai di dunia olahraga dan menjadi Ketua KONI Jabar dijalaninya secara mengalir.

Ia menceritakan berasal dari keluarga sederhana yang dididik oleh sosok ayah yang merupakan seorang guru dan ibu yang serius membesarkan anak-anaknya. Pendidikan menjadi hal terpenting dalam keluarganya sampai ia dan saudara-saudaranya berhasil meraih karier masing-masing.

MINTA RESTU - Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin (kanan) meminta restu sang Ayah sebelum bertugas.
MINTA RESTU - Ketua KONI Jabar Ahmad Saefudin (kanan) meminta restu sang Ayah sebelum bertugas. (Instagram Ahmad Saefudin)

"Saya seorang yang dilahirkan di lingkungan situasi yang tidak mudah. Artinya semua sesuatu itu harus melalui perjuangan, untuk makan saja saya harus berjuang. Saya dilahirkan bukan dari keluarga terpandang yang memiliki kelebihan, tetapi dari keluarga yang berjuang," katanya.

Latar belakang pendidikan orangtuanya memang tidak terlalu luar biasa, katanya, seperti ibunya yang SD saja belum lulus. Tapi memang ayahnya adalah seorang guru.

Baca juga: Dari Iseng Hingga Masuk Pelatnas, Audrey Meraih 3 Medali Emas dan 2 Perak Cabang Menembak PON XX

"Mungkin dari situasi itu saya bangkit, oleh karena ingin memiliki kesempatan seperti mebanyakan orang. Saya juga sekolah, masuk tentara dengan tata cara mandiri. Dari hasil kehidupan hari-harinya luar biasa prihatin, kakak saya juga seorang dosen, adik saya juga lulusan ITB, dia punya pangkat dan jabatan cukup, adik saya insinyur dan dokter, artinya perjuangan melahirkan kesuksesan, itu yang saya tangkap," katanya.

Ia mengatakan persentuhannya dengan dunia olahraga yakni saat SMA dengan menjadi atlet beladiri. Namun ia mengatakan tujuan utamanya bukan menjadi atlet olahraga seperti yang ada sekarang, melainkan untuk memproteksi diri dan keluarga.
"Karena dulu kehidupannya tidak semudah sekarang. Kemudian saya juga menjadi pelatih. Saya pernah melatih di SMA. Saya pernah melatih di UPI. Tetapi mungkin itulah yang mengantarkan referensi kepada saya bagaimana dunia olahraga," katanya.

Baca juga: Rendi Maulana Serasa Bermimpi Mampu Meraih Medali Emas PON Papua Cabang Dayung

Ia mengatakan pertama menjadi atlet pada 1979, dan pada 1980 sudah melatih beladiri. Ia kemudian mendaftar menjadi TNI. Saat menjadi anggota TNI pun, ia bisa melakoni sejumlah cabang olahraga, tapi belum bisa dikatakan profesional.
"Saya bisa macam-macam tapi tidak profesional. Pernah menjadi atlet menembak sampai tingkat Mabes TNI. Saya juga pernah jadi atlet lari walaupun di tentara itu hanya atlet jarak jauh, yaitu endurance 20 kilometer dan 40 kilometer," katanya.

Ia pun pernah menggeluti cabang olah raga karate dan tenis lapangan. Kemudian di KONI Jabar ia menghadapi jalan berliku sampai akhirnya menjadi Ketua KONI Jabar.

Baca juga: Peraih Medali Emas Selam di PON XX, Dheya Akan Kembali Belajar di SMAN 1 Ciamis

"Karena saya tentara, banyak yang menolak, tetapi banyak juga yang mendukung. Tapi Tuhan bercerita lain. Saya diberikan keleluasaan untuk mampu memimpin, membuktikan bagaimana hasil saya. Dan alhamdulillah setelah pensiun pun saya di sini. Jadi kalau dikatakan apakah itu cita-cita, mungkin tidak juga. Tapi mengalir begitu saja," katanya.

Ia mengatakan berupaya menjadikan olahraga sebagai role model, atau gaya hidup masyarakat. Jika olahraga sudah menjadi gaya hidup masyarakat, ujarnya, akan terbentuk sumber daya manusia (SDM) yang terbaik. (Tribun Jabar/M Syarif Abdussalam)

 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved