Asep Haspuloh, Pemilik Pabrik Teh Hijau di Purwakarta, Tiap Bulan Menjual 50 Ton Teh

"Yang kerja di pabrik ini ada 18 orang dan di kebun sekitar 60 orang, jadi total karyawan saya ada 78 orang belum termasuk sopir"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Asep Haspuloh sedang memilah teh hasil pengeringan di pabriknya, Desa Sindang Panon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta 

AIR teh merupakan minuman konvensional bagi masyarakat di Indonesia karena memiliki cita rasa khas, bahkan teh juga termasuk komoditas dibeberapa daerah dataran tinggi. 

Berlokasi di Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, terdapat pabrik pengolah teh bernama CV Bubut Sanjaya Mandiri yang telah berdiri puluhan tahun.

Pemilik pabrik teh, Asep Haspuloh mengatakan, teh yang diolahnya merupakan teh dari pucuk atau proses pengolahan dari awal.

"Kami beli pucuk hasil petikan petani langsung, harganya Rp 2.200 per kilogram," ujar Asep sembari menemani berkeliling pabrik teh, Kamis, 4 Oktober 2021.

Asep Haspuloh sedang memilah teh hasil pengeringan di pabriknya, Desa Sindang Panon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta
Asep Haspuloh sedang memilah teh hasil pengeringan di pabriknya, Desa Sindang Panon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Pucuk teh hasil petikan kemudian dikeringkan dengan cara digiling agar hilang kadar airnya, lalu disortir untuk memisahkan batang dengan serbuk teh. Pada penyortiran itu juga dilakukan pemisahan antara serbuk kasar dengan halus.

"Pengeringan itu dilakukan tiga kali di atas perapian menggunakan kayu secara konvensional, pertama menggunakan hong, tahap kedua hakson, ketiga pitrol, dan terakhir menggunakan bolti," kata Asep.

Baca juga: Mei Ping Chandra Raih Piala Bergilir Tea Educator, Mendidik Masyarakat Cara Menyeduh Teh yang Baik

Setelah proses itu selesai teh kemudian dikemas ke dalam karung lalu dikirim ke konsumen seperti Sukabumi, Garut dan beberapa kota di Jawa Tengah.

"Yang saya produksi ini adalah teh hijau, dan itu tetap saya pertahankan sejak dulu," ujar Asep.

Ia mengaku mulai terjun produksi teh hijau sejak 2006 melanjutkan usaha keluarganya. Pabrik dan proses pengolahan tetap dipertahankan sejak dulu yakni produksi teh hijau secara konvensional, dengan kualitas terjaga.

Baca juga: Teh Mican Tidak Pernah Berpikir Dua Kali untuk Memulai Usaha, Dari Usaha Butik Kini Jualan Kopi

Untuk menjaga kulitas, Asep hanya membeli pucuk teh hasil pemetikan dengan tempo panen 15 hari, "Saya hanya beli pucuk yang dipanen setiap 15 hari, kulaitasnya terjaga, pohon teh juga tetap subur," imbuhnya.

Selain produksi teh, Asep juga diketahui memiliki ribuan meter kebun teh di wilayah Bojong. "Saya juga punya kebun teh. Pemetikan pucuk teh di kebun saya dilakukan 15 hari sekali, selain pucuk teh kualitas baik, hal itu berguna untuk pemeliharaan pohon teh," katanya.

Baca juga: Kebun Stroberi Roy Beromzet Puluhan Juta Sebulan, Membangun Usaha dari Obrolan di Warung Kopi

Selama pandemi produksi teh di pabrik Asep memang menurun, semula 8 ton, kini hanya 4 ton perhari, namun ia tetap menjaga kulitas produksi meski bisa saja ia menerima pucuk teh yang belum 15 hari panen.

"Lebih baik sedikit tapi berkualitas, dulu 8 ton, terimbas pandemi ini sekarang jadi 4 ton, padahal bisa juga saya terima pucuk teh yang belum genap 14 hari, tapi saya menjaga kualitas " kata Asep.

Baca juga: Kesederhanaan Ustaz Sulaeman, Juragan Kopi di Rancakalong yang Kenalkan Kopi Sumedang di Mancanegara

Diketahui, penjualan teh hijau di pabrik Asep rata-rata mencapai 50 ton per bulannya, pabrik teh milik Asep kini telah memiliki puluhan pekerja dari mulai tukang kebun, pemetik hingga produksi.

"Yang kerja di pabrik ini ada 18 orang dan di kebun sekitar 60 orang, jadi total karyawan saya ada 78 orang belum termasuk sopir pengiriman barang" ucapnya. (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved