Sejumput Kisah Rumah Lahir Raden Machjar Angga Koesoemadinata, Musikolog Sunda Pertama di Pulau Jawa

Di rumah tersebut terlahir seorang ahli musik Sunda, bahkan dinobatkan sebagai musikolog pertama di Pulau Jawa

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Rumah Raden Machjar Angga Koesoemadinata di Lingkungan Citamiang RT04/02 Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan, Sumedang. 

HANGAT matahari berkelindan dengan sejuk angin dari Taman Hutan Raya Gunung Kunci, Sumedang. Semilir angin itu sampai juga di halaman sebuah rumah yang berpagar rumput rapi setinggi dada orang dewasa.

Rumah di pinggir jalan di Lingkungan Citamiang RT04/02 Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang itu cantik dan tampak terawat. 

Sebagian ornamen rumah tersebut menampakkan bahwa rumah itu adalah rumah jaman dulu. Susunan batu di tembok setengah ke bawah semakin menegaskan rumah itu bergaya zaman penjajahan. Meski sebagian ornamen lainnya sudah modern. 

Sekilas, rumah itu seperti rumah-rumah tua pada umumnya di Kabupaten Sumedang. Namun, sesungguhnya rumah itu bernilai sejarah. 

Rumah Raden Machjar Angga Koesoemadinata di Lingkungan Citamiang RT04/02 Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan, Sumedang.
Rumah Raden Machjar Angga Koesoemadinata di Lingkungan Citamiang RT04/02 Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan, Sumedang. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Di rumah tersebut terlahir seorang ahli musik Sunda, bahkan dinobatkan sebagai musikolog pertama di Pulau Jawa. Dia adalah Raden Machjar Angga Koesoemadinata

Raden Machjar adalah penemu sistem notasi nada dalam musik Sunda, da-mi-na-ti-la-da. Dia juga yang menemukan 17  tangga nada dalam jalinan pelog dan salendro.  Di rumah itu, Raden Machjar lahir pada 7 Desember 1902. 

Baca juga: Azmy Aktif Lestarikan Tari dan Kawih Sunda, Rilis Single Menikah Bernuansa Pop Rock Melayu

"Betul di rumah inilah, rumah leluhur Raden Machjar sendiri, beliau dilahirkan," kata Beti Nurbaeti (70), cucu menantu Raden Machjar sekaligus yang sempat mengurus rumah kelahiran sang maestro itu selama 25 tahun. 

Beti yang dijumpai TribunJabar. id, mengatakan rumah tersebut kini hanya dipakai untuk pertemuan-pertemuan keluarga pada waktu-waktu tertentu. 

Baca juga: Cerita Bhatara, Hidup dari Wayang dan Dedikasikan Diri Jadi Dalang, Kini Geluti Wayang Kulit Sunda

"Rumah ini sempat dipugar dari bentuk aslinya. Di dalamnya disimpan alat-alat musik Sunda, terutama gamelan, " kata Beti. 

Ada sebuah gamelan yang fenomenal terkait dengan Raden Machjar, yakni gamelan "Ki Pembayun". Namun, gamelan itu sejak zaman penjajahan Jepang pun sudah raib. 

Baca juga: Ramdan Kosasih, Penjual dan Perajin Wayang Golek yang Tersisa di Kawasan Braga Kota Bandung

" Sekarang, karena suami saya yang merupakan cucu keturunan asli Raden Machjar sudah meninggal dunia, kepengurusan rumah ini diserahkan kepada adik suami," Kata Beti. 

Raden Machjar adalah sosok yang berjasa besar dalam perkembangan musik Sunda

Profesor  Ganjar Kurnia, akademisi kebudayaan Sunda, seperti dikutip dari www.unpad.ac.id mengatakan, pada usia 21 tahun, Raden Machjar telah mencipta serat kanayagan (notasi nada Sunda). 

Baca juga: Mojang Sumedang Bukan Sekadar Urusan Mahkota, Melly Mellyana Pilih Belajar di Tiongkok

Melalui temuannya, Raden Machjar dianggap sebagai musikolog pertama di tatar Jawa. 

Raden Machjar juga menulis buku Elmuning Kawih Sunda. Tulisan dengan judul yang sama berbentuk esai pernah terbit juga di dalam majalan Poesaka Soenda yang dikeluarkan Java Instituut pada Juli, 1927.

Baca juga: Kesederhanaan Ustaz Sulaeman, Juragan Kopi di Rancakalong yang Kenalkan Kopi Sumedang di Mancanegara

"Dulu, waktu kepengurusan rumah ini masih oleh saya, sering ada yang datang. Entah itu siswa, mahasiswa seni, atau dari instansi lainnya. Mereka datang bahkan hingga berziarah ke makam Raden Machjar di kawasan Batu Reog, tidak jauh dari rumah ini, " kata Beti.

Raden Machjar yang sempat likat berdiskusi soal seni musik dengan Jaap Kunst, seorang musikolog asal Belanda itu, meninggal dunia di Bandung,  9 April 1979. Raden Machjar dimakamkan di Sumedang di kompleks Batu Reog yang merupakan kompleks pemakaman keluarga. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved