Meskipun Los Sayuran Pasar Senen Purwakarta Kian Sepi, Nenek Mimi Tetap Berjualan

"saya bawa satu kuintal  saja kadang habis kadang enggak, sehari paling dapat Rp 300 ribu, dulu dapat Rp 3 juta, sekarang cuma bisa buat beli makan"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Nenek Mimi tetap berjualan sayuran di Pasar Senen, Kabupaten Purwakarta meski penghasilannya turun drastis 

MEMILIH tetap berjualan di los Pasar Senen Kabupaten Purwakarta, Nenek Mimi ungkap penurunan penghasilan secara drastis. Mimi (72), merupakan salah satu pedagang sayuran di Pasar Senen, Kabupaten Purwakarta, ia jadi pedagang sayur sudah lebih dari 20 tahun lamanya.

Seiring berjalannya waktu, Pasar Senen mengalami beberapa kali pembangunan, dengan adanya pembangunan tersebut para pedagang tentu terimbas terelokasi sementara.

Pembangunan atau renovasi terakhir Pasar Senen terkahir kali pada tahun 2015, pada pembangunan tersebut, pemerintah menempatkan los pedagang sayur di bagian dalam pasar.

Los para pedagang sayur yang berukuran 1,5x0,7 meter tersebut berlokasi di bagian dalam pasar dengan tempat tertutup.

Los para pedagang sayur di Pasar Senen Purwakarta yang ditinggalkan para penjualnya
Los para pedagang sayur di Pasar Senen Purwakarta yang ditinggalkan para penjualnya (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Akibatnya para pedagang sayur tak nyaman dan memilih pindah tempat menggelar tikar di trotoar, atau mereka memilih menjadi pedagang kaki lima (PKL).

Mimi salah satu pedagang yang memilih bertahan berjualan di los, sebelum los itu dibangun, ia berjualan di kios yang berlokasi di depan sekolah dasar di wilayah Pasar Senen, lokasi tersebut memang cukup strategis karena dekat dengan jalan raya.

"Dulu saya di depan SD sebelum disuruh pindah ke sini, di sana itu ramai karena di pinggir jalan," ujar Mimi ketika ditemui Tribun di los Pasar Senen, Senin (11/10/2021).

Baca juga: Wasekjen Pinsar Abbi Angkasa Sebut Pengusaha Besar dan Peternak Rakyat Kini Bersaing di Pasar Becek

Mimi mengungkap pada saat ia berjualan di depan sekolah dari tahun 2010 hingga 2015 hasil penjualannya laku pesat.

"Kalau dulu biasanya saya bawa barang tiga kuintal sayur, pendapatan lumayan, sehari bisa Rp 3 juta," kata dia.

Diceritakan Mimi, hasil penjualan tersebut merupakan hasil rata-rata perhari, namun setelah pindah ke los. Ia harus pasrah dengan hasil penjualan yang menurun drastis.

Baca juga: Ade Londok Tidak Mau Lagi Berkiprah di Dunia Hiburan, Pillih Kembali jadi Penjahit di Pasar Kosambi

"Semenjak di los, saya bawa satu kuintal  saja kadang habis kadang enggak, sehari paling dapat Rp 300 ribu, dulu dapat Rp 3 juta, sekarang cuma bisa buat beli makan," ujar Mimi sembari menata dagangannya.

Mimi memilih tidak ikut pindah berjualan di luar los karena ia merasa repot, "Saya sudah tua, gak bisa angkat barang, apa lagi beresin dagang yang digelar. Kalau disini beres jualan kita simpan di peti, terus dikunci udah beres," imbuhnya.

Kendati demikian, meski kondisi jauh berbeda dengan dulu Mimi tak takut kekurangan penghasilan. "Rezeki diatur Allah, kalau memang sudah hak kita pembeli pasti datang kesini," kata dia.

Baca juga: Alo Saepudin Setia Menanti Penumpang Kereta Kudanya di Pasar Baleendah Kabupaten Bandung

Mimi tidak sendiri berjualan di los, ada dua pedagang sayuran lain yang tetap bertahan berjualan di los bersama Mimi.

Terpisah, salah satu pedagang sayur yang bertahan di los, Abidin (62) mengatakan, ukuran los pasar untuk pedagang sayur memang kecil.

"Sebelum di sini, saya pernah berjualan di Pasar Cikampek, ukurannya sama. Mungkin mau di pasar manapun juga tetap ukuran los nya segini," kata Abidin.

Baca juga: Kisah Pilu Nenek Edoh di Cianjur, Satu Matanya Buta, Mengais Jerami untuk Peroleh Butiran Padi

Abidin yang juga sudah berusia renta tak ikut berjualan di luar, ia berpikir dimanapun tempatnya sama saja. "Harapan saya, yang pemerintah ngaturnya yang bener, harus baik sama pedagang," ucapnya. (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved