Pilihan Aulia Puji Lestari jadi Muralis Sempat Ditentang Orang Tua, Banyak yang Minta Dilukis Mural

"Ketika bekerja aku merasa capek, suntuk, dan stuck. Pas pulang kerja, aku sudah keburu capek dan nggak bisa melakukan hal kreatif"

dok Aulia Puji
Aulia Puji Lestari, muralis 

AKHIR-akhir ini mural sedang ramai jadi perbincangan masyarakat. Media yang menjadi bentuk ekspresi untuk menuangkan kreativitas ini cukup banyak diminati masyarakat.

Mural berasal dari bahasa Latin yang diambil dari kata murus, memiliki makna dinding.

Berbeda dengan melukis di kanvas, atau menggambar di kertas, mural menjadi wadah menggambar dan melukis pada media permanen seperti dinding.

Muralis, Aulia Puji Lestari (24), mengatakan senang menggambar sejak kecil. "Sejak kecil, aku udah iseng menggambar di kamar hingga akhirnya aku memilih kuliah seni rupa," ujar Aulia saat ditemui di Taman Saparua, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (9/10).

Aulia Puji Lestari
Aulia Puji Lestari (dok Aulia Puji)

Keinginan Aulia menjadi muralis sempat ditentang orang tuanya lantaran berharap anak mereka mengambil pendidikan di bidang kesehatan. Aulia memahami kekhawatiran orang tuanya yang ingin putri mereka terjun ke pekerjaan sudah pasti dan dikenal masyarakat.

"Waktu di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) kan ambil pendidikan. Jadi, orang tua bilang ya sudah nggak apa-apa, nanti bisa jadi guru," katanya.

Setelah lulus kuliah, Aulia justru lebih fokus menjadi muralis dan aktif di komunitas mural Bandung. Ketika masuk ke dunia seni rupa dan belajar mural, ia merasa nyaman meskipun bertemu dengan banyak orang baru.

Baca juga: Mural Hitam Putih Karya Seniman Misterius Ini Mempesona di Kala.Borasi

Belajar soal mural, ucapnya, dilakukan secara otodidak. Ia pun sedang mempelajari ilustrasi digital dan menambah portofolio. "Cara menunjukkan apa yang aku lakukan adalah dalam bentuk karya," ujarnya.

Perempuan kelahiran Subang, 11 Agustus 1997, tersebut mengatakan dunia seni gambar saat ini mulai beralih ke digital. Itu pula alasannya belajar tentang media digital untuk mengikuti dunia yang berubah.

"Di kampus engggak diajarin soal digital. Jadi, sekarang harus konsisten karena dibutuhkan sekarang adalah banyaknya konten sosial media," ujarnya.

Baca juga: Pelukis di Jalan Braga Bandung Kian Sulit Menjual Lukisannya, Ini Kisah Ade Rahmat  

Dunia digital tak membuat Aulia melepaskan kegiatan mural yang jadi hobinya. Menggambar di dinding bersama para muralis lainnya justru jadi sebuah tantangan tersendiri bagi Aulia.

"Biasanya satu dinding itu diisi beberapa muralis. Di situ kami harus menurunkan ego karena pasti setiap seniman punya gayanya masing-masing," kata Aulia.

Berbagai kegiatan mural pernah diikuti oleh Aulia, misalnya menggambar mural di Taman Sari dan sekarang di Taman Saparua. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya akan menjadi apa seorang muralis.

Baca juga: Odang Berharap Lukisannya Laris Seperti Sebelum Ada Pandemi, Dulu Bisa Laku 150 Lukisan Per Bulan

Aulia mengatakan karya seni abadi dan jadi hal yang indah. "Banyak yang minta tempatnya di mural seperti untuk mempercantik rumah, kafe, dan klinik," ucapnya.

Aulia Puji Lestari saat membuat mural bersama kawan-kawannya
Aulia Puji Lestari saat membuat mural bersama kawan-kawannya (dok Aulia Puji)

Ekspresi Pelepas Stres
Setiap orang pun memiliki cara untuk melepaskan stres demi menjaga kesehatan mentalnya. Satu di antaranya menuangkan emosi dalam bentuk karya seperti melukis atau menggambar.

Ini yang dilakukan muralis Aulia Puji Lestari yang sempat merasa lelah karena pekerjaan.
"Ketika bekerja aku merasa capek, suntuk, dan stuck. Pas pulang kerja, aku sudah keburu capek dan nggak bisa melakukan hal kreatif," ujar Aulia saat ditemui di Taman Saparua, Sabtu (9/10).

Baca juga: Odang Berharap Lukisannya Laris Seperti Sebelum Ada Pandemi, Dulu Bisa Laku 150 Lukisan Per Bulan

Diakui Aulia, hal ini membuat mentalnya lelah apalagi ia tipikal orang yang sulit untuk mengekspresikan emosinya. "Kalau ada yang dirasa marah atau sedih, aku luapin di sini karena pas kerja kan nggak bisa," kata Aulia.

Sebagai sarana untuk menuangkan ekspresi, tidak bisa semua tembok dijadikan media untuk mural. Untuk menggambar di dinding, ucapnya, harus ada izin. Jika tidak, maka akan masuk dalam vandalisme.

Baca juga: Fifi Mengejar Mimpi dari Hobi Menggambar, Bikin Animasi Karakter Seperti Wajah Aslinya

Menggambar di media yang luas dan biasanya dilakukan bersamaan, tentu tidaklah mudah. Perempuan kelahiran Subang, 11 Agustus 1997, ini sempat grogi ketika banyak orang yang melihat hasil karyanya.

Aulia Puji Lestari
Aulia Puji Lestari (dok Aulia Puji)

"Aku juga sempat keringat dingin apalagi ketika melihat karya orang lain yang ternyata jauh lebih keren," katanya. Bahkan, ia pun sempat tak percaya diri karena hasil muralnya sempat dipandang sebelah mata.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved