Ratna Kenalkan Majalengka Melalui Batik, Omzet Batik Miranti Capai Rp 15 Miliar Per Tahun

Panggilan hati membawa saya memperdalam bisnis batik ini. Lalu, saya juga sengaja mengenalkan Majalengka melalui batik dengan membuat motif-motif khas

Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Ratna Dewiyani pemilik rumah produksi batik di Blok Gempungan, Kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan/Kabupaten Majalengka 

RATNA Dewiyani merupakan salah satu perajin batik yang terkenal di Kabupaten Majalengka. Sejak 2015 ia mulai merintis bisnis batik dengan nama khas 'Batik Miranti'.

Ratna sangat mencintai kota kelahirannya, oleh karena itu, ia membuat batik dengan motif yang hanya berasal dari Majalengka.

Ada tiga motif andalan Ratna Dewiyani demi mendongkrak popularitasnya sebagai perajin batik, yakni, motif angin, batu alam, dan kopi. Dari ketiga motif unggulan tersebut, masing-masing membawa ciri khas Majalengka.

"Panggilan hati membawa saya memperdalam bisnis batik ini. Lalu, saya juga sengaja mengenalkan Majalengka melalui batik dengan membuat motif-motif khas Majalengka. Seperti motif angin, kopi dan batu alam," ujar Ratna saat ditemui di rumah produksi batik di Blok Gempungan, Kelurahan Majalengka Kulon, Kecamatan/Kabupaten Majalengka, Sabtu (2/10/2021).

Ratna Dewiyani, perajin dan pengusaha Batik Merani di Majalengka sedang membimbing siswa SMA membatik
Ratna Dewiyani, perajin dan pengusaha Batik Merani di Majalengka sedang membimbing siswa SMA membatik (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Tujuannya mengenalkan Majalengka melalui batik karena ingin memberitahu masyarakat luas bahwa Majalengka yang sekarang bukanlah yang dulu.

Dari 26 kecamatan yang ada di Kota Angin, Ratna Dewiyani mengambil motif batik dari setiap kecamatan tersebut.

"Jadi ketika saya mengawali bisnis batik, saya sudah memiliki 26 motif batik khas Majalengka. Nah, yang unggulannya, yaitu motif angin, batu alam dan kopi," ucapnya.

Baca juga: Ridho dan Rido Bikin Produk Fesyen Bandung Berkibar di Eropa dan Kanada, Tak Terpengaruh Covid-19

Ratna Dewiyani memproduksi batik dengan dua cara, yaitu kain batik tulis dan batik cetak.

Ia memberdayakan belasan orang warga sekitar tempat tinggalnya untuk memproduksi produk batiknya.

Tidak selalu harus bekerja dari rumah produksi, Ratna menjelaskan para perajin di Batik Miranti ini dapat melakukan pekerjaannya dari rumah masing-masing.

Baca juga: Indy Ratna Pratiwi, Influencer Fesyen yang Gemar Memadupadankan Warna Busana

"Saya ingin usaha saya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar saya. Sehingga mereka juga ikut berdaya, punya kemampuan membatik, dapat menafkahi keluarganya, dan turut berkontribusi melestarikan keunikan corak batik khas Majalengka," katanya.

Meski ditengah masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, Ratna mengaku produksi batiknya tidak terlalu terpengaruh.

Pasalnya, pandemi yang sudah berjalan kurang lebih dua tahun ini, produksinya tetap berjalan. Bahkan, omzet per tahunnya bisa mencapai Rp 15 miliar per tahun.

Baca juga: Lidyasandy Ariviarahman Nyaman Saat Menjadi Perancang Busana

"Saya mulai merintis tahun 2015 itu pendapatan bisa mencapai Rp 1 miliar. Tapi dengan berjalannya waktu, dengan segala upaya yang kita lakukan, eksplor juga ke luar Majalengka, saya juga sudah banyak memiliki cabang, ya alhamdulilah sampai sekarang omzetnya diangka Rp 15 miliar per tahun," katanya.

Ratna Dewiyani, pengusaha dan perajin batik di Kabupaten Majalengka
Ratna Dewiyani, pengusaha dan perajin batik di Kabupaten Majalengka (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Untuk harga, Ratna Dewiyani membanderol kain batik cat maupun tulisnya di angka bervariatif. Bergantung kesulitan motif dan banyaknya warna yang digunakan.

Baca juga: Siti Yumna Shiba Jatuh Cinta Pada Mega Mendung, Jadi Perancang Busana di Usia Belia

"Paling murah itu Rp 100 ribu, sedangkan mahal Rp 700 ribu," ucapnya. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved