Di Usia 9 Tahun Nur Afaf Berjualan Tutut dan Rajin Sekolah, Pulang Belajar Cari Keong Air Sawah

"Saya kelas 4 sekolah di SDN 3 Inpres, kalau sekolah mah belum masuk, biasanya cuma ngasih tugas yang dikasih guru, pulang dagang nanti dikerjain"

Tribun Jabar/Irvan Maulana
Nur Afaf, bocah penjual tutut di sekitaran Alun-Alun Kabupaten Purwakarta 

NUR AFAF (9), seorang anak kelas 3 sekolah dasar rajin berjualan tutut (keong air sawah) di sekitaraN Alun-Alun Purwakarta. selain menjual tutut, ia juga menjual titipan cemilan dari tetangganya.

Saat ditemui tribun, Nur Afaf bersama adik sepupunya sedang berteduh di salah satu emperan toko di Jalan Dr. Mr. Kususmaatmadja dekat Alun-Alun Purwakarta, hujan memang yang menguyur wilayah Kabuptaen Purwakarta kala itu memang cukup deras.

Sesekali Nur Afaf dan sepupunya saling berpelukan sembari melindungi keranjang dagangannya untuk sekedar menghangatkan tubuh mereka.

Nur Afaf (9), bocah penjual tutut di sekitaran Alun-Alun Kabupaten Purwakarta
Nur Afaf (9), bocah penjual tutut di sekitaran Alun-Alun Kabupaten Purwakarta (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

"Aku jualan sayur tutut A, cemilan juga ada," ujar Afaf ketika dihampiri Tribun di tempat berteduhnya.

Raut wajah lelah terpancar dalam sorot matanya, "Kalau tutut ini Rp 7 ribu, kalau cemilan ada yang Rp 20 ribu, ada yang Rp 15 ribu," kata Afaf menawarkan barang dagangannya.

Ketika ditanyai soal aktivitas kesehariannya, ia menjelaskan dirinya berjualan dua kali dalam sehari.

Baca juga: Dari Mojang Hingga Menjadi Bupati, Ambu Anne Bertekad Jadikan Purwakarta Jalur Utama

"Kalau berangkat jam 8 pagi pulang jam 12 siang, makan dulu sambil ngerjain tugas sekolah di rumah terus berangkat lagi jam 2 sore pulang jam 5 sore," ujarnya.

Jika masa pandemi seperti kebanyakan anak lain belajar melalui daring, namun tidak bagi Afaf, ia memilih mengerjakan tugas langsung yang diberikan oleh gurunya.

"Saya kelas 4 sekolah di SDN 3 Inpres, kalau sekolah mah belum masuk, biasanya cuma ngasih tugas yang dikasih guru, pulang dagang nanti dikerjain terus dikumpulin," kata dia.

Baca juga: Marshanda Nurfitria Ingin Memberikan Hal Positif bagi Perkembangan Pariwisata Purwakarta

Tutut yang dijual Nur Afaf juga tutut yang ia cari di sawah seusai pulang berjualan, dalam satu hari ia bisa mendapat 1 ember kecil tutut untuk dimasak sang ibu.

"Tututnya saya yang nyari di sawah, yang masak mamah. Paling sehari bawa 15 bungkus, yang laku biasanya 10 bungkus," katanya.

Dengan uang Rp 70 ribu dari hasil penjualan 10 bungkus tutut Afaf bersama sang sepupu sudah cukup senang, ia bisa mendapat uang jajan Rp 20 ribu dari untung berjualan tutut.

Baca juga: Rhaisya Candrika, Kutu Buku yang Terpilih Jadi Putri Remaja, Akan Sosialisasikan Wisata Purwakarta

"Kalau laku 10 bungkus aku dapat Rp 20 ribu, yang Rp 5 ribu buat jajan, sisanya buat keperluan tugas sekolah," ucapnya.

Afaf mengatakan ibunya juga pedagang, sang ibu berjualan kupat sayur mangkal di depan rumahnya di Kaum Kaler, Kelurahan Nagri Kaler Kabupaten Purwakarta (Tribun Jabar/Irvan Maulana)

 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

  • Conny Dio

     
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved