Rosidah Avifah Nurzannah Lulusan Terbaik Fkominfo Uniga, Berjuang Lawan Kanker Sejak SD

"Kalau tidak ada mereka, saya tak akan sampai. Selain jadi teman atau sahabat mereka benar-benar menjadi langkah saya"

Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
Rosidah Avifah Nurzannah, lulusan terbaik Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut (Uniga) 

BERJUANG melawan kanker sejak di sekolah dasar (SD), Avifah Nurzannah'>Rosidah Avifah Nurzannah lulus dari Fakultas Komunikasi dan Informasi (FKominfo) Universitas Garut (Uniga) dengan predikat cum laude dalam sidang kelulusan Uniga, Sabtu (18/9).

"Kanker ini dari 2008 atau tiga belas tahun yang lalu saat saya kelas 4 SD. Saya sudah dua kali operasi. Setelah operasi yang kedua, saya kuliah pakai kursi roda selama satu semester," ujarnya.

Avif mengakui tidak akan pernah berhasil menyelesaikan pendidikannya tanpa dorongan dan dukungan dari teman-teman kuliahnya yang sukarela membantu dalam proses perkuliahan.

Rosidah Avifah Nurzannah
Rosidah Avifah Nurzannah (Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari)

Menurutnya, teman dan dosen kerap membantunya menaiki tangga dengan cara mengangkat kursi rodanya. "Saya ingin mengapresiasi terbesar untuk teman-teman dan dosen, karena memang sangat support, apalagi kan di Fikom belum ada lift jadi pakai tangga," katanya.

Ia mengatakan harus melewati banyak jalan terjal selama kuliah, termasuk sulitnya berdamai dengan keadaannya sendiri. Ia sempat tertekan dan hampir putus asa, tapi seketika sirna karena banyaknya dukungan dari teman-temannya.

"Bisa dibayangkan, kalau tak ada keluarga, teman-teman, saya dari gerbang utama ke Fikom atau ke kelas. Kalau tidak ada mereka, saya tak akan sampai. Selain jadi teman atau sahabat mereka benar-benar menjadi langkah saya," ujarnya.

Baca juga: Kapolres Garut AKBP Wirdhanto Hadicaksono Terus Menekan Laju Covid-19 dan Memberantas Preman

Pencapaiannya sekarang pun merupakan hasil proses yang panjang. "Saya pernah mengalami titik-titik mati rasa, marah kepada Allah ‘kenapa keadaan ini sampainya pada saya?’ Namun, pada akhirnya, ketika semua itu sudah dilewati, ternyata banyak hal besar yang telah Allah berikan," katanya.

Ia pun selalu berpegang pada harapan “setelah hujan badai, pasti ada pelangi”. Saat duduk di kelas 5 SD, ia divonis hidupnya hanya akan bertahan dalam waktu 27 hari lagi. Takdir Tuhan berkata lain dari prediksi medis, ia melewati fase itu hingga jadi lulusan terbaik di Uniga.

"Saya berpikir, kalau Allah masih mengizinkan saya hidup dan berdiri, itu artinya saya masih bisa," ujarnya.

Baca juga: Semula Eman Suherman Pegang Rp 5 Ribu untuk Beli Nasi Padang di Garut, Kini Punya Rp 100 Juta Lebih

Dekan Fkominfo Uniga, Prof Ummu Salamah, mengapresiasi para lulusan terbaik, termasuk Avif. "Afivah itu selama perkuliahan rajin, referensi buku bacaannya juga banyak. Jadi, dia memang aktif selama di kelas," katanya.

Menurutnya, mahasiswa Uniga diwajibkan untuk memiliki banyak referensi bahasan kuliah di luar materi yang diberikan dosen.

"Sistemnya student active learning. Avifah satu di antara yang mampu membawa banyak referensi ke kelas saat perkuliahan. Ia mampu mengamalkan ilmu, iman, dan amal sebagai filosofi dari Uniga," ucapnya. (Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved