Di Tangan Jajang Somana, Kayu Alba Terlihat Seperti Mentega, Mudah Dibentuk Jadi Wayang Golek

"Saya tidak akan berhenti membuat wayang, wayang karakter seperti wayang mirip Pak Jokowi atau Sule, saya bisa buat"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Jajang Somana membuat wayang golek di kediaman mereka, Dusun Gamlung, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (12/9/2021). 

DI tangan Jajang Somana (45) dan pisau rautnya, bongkahan kayu alba terlihat seperti lilin yang mudah sekali dibentuk. Ia tak butuh lama membuatnya menjadi kepala wayang golek. Lengkap dengan berbagai detailnya.

Ditemui di rumah panggungnya yang asri di Dusun Gamlung, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (12/9/2021), Jajang tengah ditemani istrinya, Emay.

Ukiran kepala wayang goleknya sudah hampir selesai. Tinggal beberapa detail kecil, sebelum ke tahap selanjutnya: diamplas, didempul, dan dicat.

Membuat wayang memang sudah hampir seumur hidup dilakukan Jajang. Ia sudah akrab dengan pisau raut sejak kelas enam SD.

Jajang Somana membuat wayang golek di kediaman mereka, Dusun Gamlung, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (12/9/2021).
Jajang Somana membuat wayang golek di kediaman mereka, Dusun Gamlung, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (12/9/2021). (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Tapi, baru sejak SMP tahun 1991 saya mulai serius membuat wayang," ujar Jajang di sela-sela kegiatannya meraut wayang.

Keahlian membuat wayang, menurut Jajang, ia dapat dari Abah Cuhya, yang mewarisi ilmu pembuatan wayangnya dari maestro pembuatan wayang golek asal Kampung Gamlung, Abah Suganda. Kemudian bersama tema-teman segenerasinya yang juga belajar membuat wayang, mereka membentuk Kelompok Usaha Pemuda (KUP).

Baca juga: Tidak Perlu Waktu Lama untuk Epin Syaprudin Membikin Satu Wayang Golek, Wajah Terserah Pemesan

"Ada 15 orang pembuat wayang, yang kini hanya sisa 8 orang. Saya sendiri yang dikatakan paling mahir dan bertahan membuat wayang hingga tuntas dari mulai meraut, mewarnai, hingga membuat baju," katanya. 

Wayang yang dibuat Jajang beragam kualitasnya, sesuai pesanan. Wayang khusus untuk dipentaskan oleh dalang, Jajang tak bisa asal membuat. Diperlukan ketelitian khusus dan waktu yang cukup panjang untuk membuatnya. 

Selain karena detail, wayang untuk dipentaskan juga berukuran besar-besar. Misalnya, untuk tokoh pewayangan Yamadipati atau Bima, tingginya bisa mencapai satu meter. Wayang model ini, paling tidak, jika pembuatan badan wayangnya oleh Jajang dan baju wayangnya oleh istrinya dilakukan bersamaan, perlu waktu seminggu hingga wayang selesai.

Baca juga: Ramdan Kosasih, Penjual dan Perajin Wayang Golek yang Tersisa di Kawasan Braga Kota Bandung

Pemilihan kain belundru untuk baju juga menjadi kesulitan tersendiri. Belum lagi memasang payet yang banyak pada baju wayang itu, perlu ketelitian tingkat tinggi. Emay sendiri menjahit baju dan memasang payet hanya mengandalkan tangan. Namun, kesulitan itu sebanding dengan harga wayangnya yang mencapai minimal Rp 1,5 juta. 

Selain wayang untuk pentas, Jajang juga membuat wayang hias dan wayang untuk dijajakan secara eceran dengan harga bervariasi mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 300 ribu. 

Jajang Somana, perajin wayang golek
Jajang Somana, perajin wayang golek (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Saya tidak akan berhenti membuat wayang, wayang karakter seperti wayang mirip Pak Jokowi atau Sule, saya bisa buat. Apapun yang terjadi, sesepi apapun order saat ini, saya pasti buat wayang terus," kata Jajang yang mengaku disumpah sebagai bagian dari Badan Pelestari Nilai Bdaya (BPNB) Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.   

Jajang yang belakangan ini aktif sebagai Ketua RT di Gamlung juga kerap diminta untuk mengisi acara-acara pelatihan kerajinan. Ia juga kerap diminta menjadi pembicara, termasuk saat Jambore Pemuda Indonesia di Bengkulu. 

Baca juga: Maya Berlin Sulap Batok Kelapa Jadi Wayang Korona, Kreativitas Seorang Guru di Tengah Pandemi

Pandemi

Di tengah Pandemi Covid-19, permintaan gantungan kunci dan hiasan kulkas berbentuk miniatur ondel-ondel menjadi angin segar bagi Jajang dan Emay

"Dulu saya pernah mengerjakan pesanan wayang Thailand, pesanan dari Thailand langsung, tahun 2014. Pada tahun yang sama, pernah juga bikin pesanan wayang tiga peti, pesanan para bupati di Indonesia. Wah, uang saya waktu itu lebih besar dari gaji PNS," kata Jajang sambil tertawa. 

Jajang Somana dan istrinya membuat wayang golek di kediaman mereka, Dusun Gamlung, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan,  Sumedang, Minggu (12/9/2021).
Jajang Somana dan istrinya membuat wayang golek di kediaman mereka, Dusun Gamlung, Desa Pamulihan, Kecamatan Pamulihan, Sumedang, Minggu (12/9/2021). (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Meski piawai membuat wayang, mengerti detail wajah dan warna setiap tokoh pewayangan, Jajang mengaku tak bisa memainannya. Jajang juga tak hafal cerita wayang yang sering dipentaskan. 

Baca juga: Ujang Yaqub Tekuni Wayang karakter Sejak 1994, Hasil Karyanya Dijual Hingga ke Jepang dan Kanada

"Kan itu tugas dalang. Masing-masing punya keahlian tersendiri, toh dalang juga tidak bisa memainkan pisau untuk membuat wayang," katanya. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
492 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved