Keramik Karya Heri Terjual ke Amerika dan Afrika, Gunakan Kaolin Belitung dan Tanah Liat Sukabumi

"Dulu sebelum pandemi saya bisa habiskan dua ton bahan baku per bulan. Sekarang sih hanya 500 kilogram kaolin dan 500 kilogram tanah liat per bulan"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Keramik cantik berkualitas tinggi karya Heri Durahman di bengkel keramik di belakang rumahnya, Kampung Cibuntu, Desa Mekarbakti, Kecamatan Pemulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (5/9/2021). 

USIA Heri Durahman sudah lewat setengah abad. Namun, tangannya yang padat dan kasar masih mengakrabi kaolin dan tanah liat di bengkel keramik di belakang rumahnya. 

Ditemui di bengkel yang ada di belakang rumahnya di Kampung Cibuntu, Desa Mekarbakti, Kecamatan Pemulihan, Kabupaten Sumedang, Minggu (5/9), tangan Heri masih belepotan tanah liat yang kering. Sambil mempersilakan masuk, Heri menepuk-nepukkan lengannya pada bagian belakang celananya. Tapi, tetap saja noda tanah yang kering masih tersisa.

"Semuanya saya yang kerjakan, dari mulai membentuk keramik, menggambar, mewarnai, hingga membakar. Anak-anak tak ada yang meu meneruskan," kata Heri.

Heri Durahman
Heri Durahman (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Rumah Heri di Kampung Cibuntu, berada tak jauh dari jalan utama, Jalan Raya Parakanmuncang-Simpang. Dari bengkelnya suara knalpot dan klakson kendaraan bermotor masih jelas terdengar. Terutama jika yang melintas sepeda motor RX King dengan raungannya yang khas. 

Heri memiliki tiga pegawai. Namun, kemampuan masing-masing dari mereka tidak ada yang paripurna. Meski sudah dicoba dilatih berkali-kali untuk bisa menyelesaikan pembuatan keramik sejak awal hingga selesai, tak seorang pun dari ketiganya yang tabah menyelesaikan semua prosesnya dari awal sampai akhir.

Para pegawainya, kata Heri, rata-rata beranggapan yang penting bekerja, selesai, dan dibayar. Padahal, bagi Heri, keramik bukan sekadar urusan pekerjaan selesai, tetapi seni. 

Baca juga: Berhenti Sekolah, Kiki Sukses Menjadi Pebisnis Mebel dari Limbah Kayu Peti Kemas di Sumedang

Karena pandangan seni itu pulalah, keramik Heri sudah dibeli oleh orang-orang di seantero dunia, termasuk para penikmat seni keramik di Amerika bahkan  Afrika.

"Saya kadangkala bekerja hingga larut malam. Pukul 01.00 dini hari baru selesai. Kalau pekerja, sore juga sudah pulang," katanya. 

Heri memulai pembuatan keramik sejak tahun 2000. Sebelumnya, dia menjalankan bisnis yang sama milik orang tuanya di Cigereleng, Kota Bandung. Orang tuanya, bahkan telah membuat keramik dan menjualnya sejak 1980. 

Baca juga: Berawal dari Pelestarian Hewan, Roni Pelihara Lebah Madu Teuwuel di Sumedang Hingga Raih Untung

Kekhasan keramik buatan Heri, selain pilihan bahan yang menggunakan kaolin Belitung dan tanah liat Sukabumi, juga gambar-gambarnya yang betul-betul dibuat menggunakan tangan.  Motif-motif bunga yang cantik berpadu padan dengan pilihan warna yang tepat membuat betah siapa pun yang memandang keramiknya. Kilatan glasir, menambah keelokan keramik buatan Heri. 

"Dulu sebelum pandemi saya bisa habiskan dua ton bahan baku per bulan. Sekarang sih hanya 500 kilogram kaolin dan 500 kilogram tanah liat per bulan. Berdampak juga ini pandemi Covid-19, jadi lesu di penjualan," katanya. 

Produk keramik Heri beragam bentuknya. Mulai dari kendi keramik, hiasan berbentuk ikan, guci besar, patung keramik, piring, gelas, hingga pagoda. 

Baca juga: Kesederhanaan Ustaz Sulaeman, Juragan Kopi di Rancakalong yang Kenalkan Kopi Sumedang di Mancanegara

Seperti bentuknya, harga keramik buatan Heri juga bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Untuk guci berukuran tinggi semeter, ia banderol dengan harga Rp 900 ribu per buah. 

Dalam pembuatannya, keramik yang berukuran besar memang sangat rawan rusak. Itu sebabnya, pembuatannya bisa sekaligus jadi. 

Untuk guci berukuran  semeter, Heri setidaknya perlu waktu tiga minggu untuk bisa menyelesaikannya. Mula-mula, 20 kilogram kaolin dicampur 20 kilogram tanah liat. Setelah adonan jadi, barulah dimulai pembentukan guci. 

Baca juga: Wawan Ernawan, Sopir Angkot di Sumedang yang Banting Setir Jadi Pembuat Pesawat Aeromodelling

Tanah ditempatkan di atas alas putaran, dan untuk satu hari pertama, tinggi bakal guci tak boleh lebih dari 40 sentimeter. Demikian setiap hari terus ditambah tingginya hingga mencapai satu meter dengan ketebalan maksimal satu sentimeter. 

"Kalau sekaligus satu meter, enggak akan kuat. Ambrol pastinya," kata Heri. 

Keramik yang sudah dibentuk kemudian ditiriskan hingga mengeras dengan mengandalkan embusan angin selama seminggu. Setelah itu, gambar dipola dan diwarnai cat khusus, yang harganya bisa Rp 300 ribu per kilogram.

Baca juga: Yusup, Pembuat Peti Jenazah di Sumedang, Kewalahan Layani Pesanan Terpaksa Tambah Karyawan

Sebelum dibakar dengan suhu 1.200 derajat, keramik dilapisi serbuk glasir dengan cara disemprot. Serbuk glasir berbahan serbuk kaca itu akan leleh dalam pembakaran yang sangat panas selama delapan jam. Glasir ini pula yang membuat keramik mengkilat. 

"Kalau dijual di toko, tentu harganya bisa 200 persen dari harga saya menjual ke pemilik toko," kata Heri. 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
485 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved