Siti Nurfadilah, Gadis Tunarungu yang Pandai Melukis, Orang Tuanya Belum Mampu Beli Alat Pendengaran

"Harapan saya ingin sekali pulih pendengarannya, ingin memiliki alat bantu dengar, karena saya juga keterbatasan materi harga alatnya cukup mahal"

Tribun Jabar/Rizal Jalaludin
LUKISAN - Siti Nurfadilah (17) berdiri di samping lukisannya. Gadis tunarungu dari Kampung Babakan Paladang RT 06 RW 03, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi ini memiliki bakat luar biasa. 

SITI Nurfadilah (17), gadis tunarungu kelahiran 30 Mei 2004 dari Kampung Babakan Paladang RT 06 RW 03, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memiliki bakat luar biasa.

Putri dari pasangan suami istri Ujang Supiandi (42) dan Maryati (39) itu jago melukis.

Sang ayah, Ujang Supiandi mengatakan, dari keahlian yang dimiliki gadisnya itu, Siti pernah menyabet piala juara 1 perlombaan melukis di tingkat Kabupaten dan Provinsi.

Bahkan saat ini, kata Ujang, Siti sedang berjuang di ajang perlombaan melukis tingkat nasional.

Siti Nurfadilah dengan lukisan hasil karyanya
Siti Nurfadilah dengan lukisan hasil karyanya (Tribun Jabar/Rizal Jalaludin)

Ia bercerita, anaknya suka belajar menggambar sejak masuk sekolah luar biasa (SLB) usia 7 tahun.

“Belajar melukis sejak masuk SLB usia 7 tahun yang mengajarkan gurunya, kalau di rumah memang terlihat dia suka menggambar, apa yang dia lihat dia gambar. Pernah mengikuti perlombaan tingkat kabupaten juara 1, di provinsi juara 1 dan 2, sekarang maju ke tingkat nasional," kata Ujang, Sabtu (28/8).

Saat ini, anak pertama dari tiga bersaudara itu masih melanjutkan sekolah di SMALB Mutiara Bahari Patuguran kelas X.

Baca juga: Pelukis di Jalan Braga Bandung Kian Sulit Menjual Lukisannya, Ini Kisah Ade Rahmat  

Ujang bercerita, untuk berangkat ke sekolah anaknya diantarkan tukang ojeg dengan biaya Rp 20 ribu pulang pergi. Hal itu juga menjadi kendala dirinya di tengah keterbatasan ekonomi.

Namun, keluh kesah Ujang dan istrinya kerena bangga dengan anaknya yang memiliki bakat luar biasa di tengah kekuranganya.

Untuk kehidupan sehari-hari Ujang hanya mengandalkan dari penghasilan menjual agar-agar keliling.

Baca juga: Fifi Mengejar Mimpi dari Hobi Menggambar, Bikin Animasi Karakter Seperti Wajah Aslinya

"Sangat bangga bercampur sedih juga, di balik kekurangannya, anak saya memiliki bakat yang bagus. Harapan saya ingin sekali pulih pendengarannya, ingin memiliki alat bantu dengar, karena saya juga keterbatasan materi harga alatnya cukup mahal," katanya

"Jika mau sekolah suka terkendala transportasi dikarenakan tidak punya kendaraan, sehari-hari naik ojeg pulang pergi ongkos Rp 20 ribu. Jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih empat kilometer," tutur Ujang.

"Saya kerja jualan keliling makanan anak-anak, penghasilan paling Rp 50 ribu, sekarang paling Rp 40 ribu itu dibagi sama risiko dapur," kata Ujang.

Baca juga: Febby Masih Tetap Melukis Meskipun Pesanan Berkurang, Ingin Pindah ke Sukabumi

Ia pun telah berusaha untuk kesembuhan anak gadisnya. Namun, selain biaya,  Rumah Sakit Palabuhanratu tidak ada dokter THT alias dokter spesialis penanganan telinga, hidung dan tenggorokan.

"Upaya yang dilakukan untuk penyembuhan, pernah ke puskesmas, ke rumah sakit Palabuhanratu ternyata tidak ada dokter THT-nya," ucapnya. (Tribun Jabar/M Rizal Jalaludin)

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved