Zulkifli Hasan: Kader PAN Jadi Presiden, Semua Punya Kesempatan. Ubah Konsitusi Jika Ingin 3 Periode

"Beberapa kali saya lihat Pak Jokowi di televisi. Mukanya lebam, matanya bengkak. Berarti presiden kita bekerja keras, bersungguh-sungguh"

Tribunnews
Zulkifli Hasan 

KETUA Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menegaskan demokrasi Indonesia ibarat mengalami kemunduran jika masih terganggu dengan permasalahan kubu cebong dan kampret seperti beberapa waktu lalu. Zulhas, sapaan akrabnya, mengatakan partainya menganut asas terbuka dan Pancasila, sehingga semua orang memiliki kesempatan sama dalam partainya, bahkan untuk menjadi ketua umum maupun menjadi menteri. "Oleh karena itu, kalau kader PAN ada yang menjadi menteri atau menjadi presiden, semua orang boleh maju, tidak ada dari kelompok tertentu, harus dari kelompok ini, harus ada gelar ini," katanya. Berikut petikan wawancara khusus Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribun Network Rachmat Hidayat, dengan Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, belum lama ini.

Tokoh sentral PAN, Amien Rais, keluar dan mendirikan Partai Ummat. Apakah ini  mengganggu posisi PAN?

PAN itu tentu bersaing dengan partai-partai yang sudah eksis ya. Ada PDIP, Golkar, Gerindra, kalau berbasis islam ada PKB, PKS. Tentu PAN akan seperti apa, tergantung pada kinerja PAN sendiri, tergantung kinerja kader PAN, tergantung sikap PAN menyikapi perkembangan apa yang dirasakan publik. Jadi sangat tergantung pada internal partai itu sendiri, tidak pengaruh pada partai lain atau pihak lain.

Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan
Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan (Tribunnews)

Bagaimana silaturahmi Pak Zulhas dengan Pak Amien Rais hari-hari ini?

Alhamdulillah, semua baik-baik. Sebab, yang paling penting adalah PAN ini. Coba bayangkan kalau di Indonesia tidak ada PAN? PAN adalah partai terbuka, asasnya Pancasila. Di PAN semua orang punya kesempatan sama. Asasnya prestasi dan kompetensi. Walaupun partai terbuka, memang 80 persen kadernya Islam, tentu basis pemilihnya paling besar Islam.  Tapi Islam yang mana? Basis Islam tengah, modern, tradisional yang tengah moderat, yang menganggap semua manusia itu punya kesempatan yang sama, tidak boleh dibedakan. Karena semua manusia itu disebutnya hamba Tuhan, hamba Allah, sama semua kita.

Baca juga: Rudy Gunawan Buktikan Garut Tidak Lagi Tertinggal, Bakal Jadi Daerah Tujuan Wisata

Nah, soal agama itu masing-masing, agama itu didakwahkan, disampaikan. Maksa enggak boleh. Itulah yang PAN ini jalankan.  Oleh karena itu kalau PAN punya menteri atau kader PAN jadi presiden, semua orang boleh maju, tidak ada dari kelompok tertentu, harus dari kelompok ini, harus ada gelar ini, seperti Indonesia hari ini, kita kembali ke suku, agama, kampret, cebong. Ini kita malah mundur. Kalau yang jadi menteri dari partai A, yang lain enggak boleh, hanya dari saya, kader tertentu, ormas tertentu. Wah, susah kalau seperti itu.

Selama dua periode memimpin PAN, apa yang paling membahagiakan Anda?

Kalau kita bisa membantu banyak apa yang dirasakan masyarakat. Misalnya, begini. Kemarin, ada Undang-undang Omnibus Law. Saya kalau mau dapat nama di rakyat bisa seperti Demokrat dan PKS yang walk out seperti pahlawan. Tapi, kalau walk out, saya enggak bisa bikin apa-apa. Saya pilih tetap bertarung. Oleh karena itu saya pilih kader-kader terbaik. Di (pembahasan) Omnibus Law saya pasang yang terbaik seperti Prof Zainuddin Maliki, Doktor Ali Taher Parasong, Guspardi Daus, totalnya ada lima untuk mengawal Omnibus Law. Mereka ini siang malam bertempur karena mau dipercepat. Bertarung habis-habisan sampai nangis berderai air mata.

Kami bersyukur bisa mempertahankan yang menurut kami untuk kepentingan rakyat, antara lain bidang pendidikan tetap tidak diliberalisasi.

Baca juga: Bupati Majalengka Karna Sobahi Membentuk Tim Khusus di Bawah Komandonya untuk Tangani Pandemi

Termasuk mempertahankan keberpihakan terhadap para tenaga kerja. Walaupun di mata publik kami jelek, tidak apa-apa. Ya begitu lah perjuangan. Kalau mau enak kita walk out saja, tidak capek dan perlu bertengkar.

Sumber: Tribunnews

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved