Wawancara Eksklusif

Dirut Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra Tetap Jalankan Amanah Meskipun Utang Menggunung

Jadi beberapa rute yang berat saat ini, Amsterdam, sudah sudah mulai membaik. Ke Cina, ASEAN, Sydney itu bagus sekali profitnya

Tribunnews
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra 

DIREKTUR Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra, mengaku bukan hal mudah menghadapi kondisi keuangan perusahaan dengan utang yang membengkak sampai Rp 70 triliun. Namun, apa pun yang terjadi, kata Irfan, ia harus pastikan Garuda tetap siap terbang. Berikut petikan wawancara khusus Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra dan Manajer Pemberitaan Tribun Network, Rachmat Hidayat dengan Dirut PT Garuda, Irfan Setiaputra .

Apa yang Anda rasakan melanjutkan tugas sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia di tengah utang yang menggunung?

Saya mau luruskan dulu. Ada tujuh agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) kemarin itu, tapi yang utama adalah laporan keuangan. Kalau mengamati direksi dan komisaris dikurangi ini mungkin bisa terawang ditanyakan ke Kementerian BUMN dasarnya apa. Background-nya apa. Saya juga masih cari tahu. Nah apa rasanya masih diminta lagi? Amanah.

Irfan Setiaputra
Irfan Setiaputra (Tribunnews)

Dalam RUPST struktur direksi dan komisaris dirampingkan, apakah berpengaruh ke efisiensi perseroan?

Basis gaji itu kan ada bagiannya, dirut, wadirut dapat sekian persennya. Penghilangan satu direktur dan penghilangan dua komisaris kalau dilihat segi persentasenya tidak gede-gede amat. Tapi kalau sisi rupiah relatif kita bisa bilang besar atau kecil. Buat saya besar tapi kalau buat Garuda tidak besar-besar amat, dan lebih tidak besar-besar banget karena di awal Agustus bahwa direksi dan komisaris sementara waktu dipotong gaji 25 persen. Jadi lebih tidak terlalu berasa. Yang paling penting pengurangan jumlah direksi dan komisaris ini memberikan sinyal kepada pihak internal ataupun eksternal bahwa kita akan terus menerus mencari cara melakukan efisiensi dan upaya penghematan.

Pemegang saham berharap ada quick win langkah cepat mengurangi kerugian, saya mendengar negosiasi ulang kepada lessor dan melakukan pengembalian pesawat?

Negosiasi dengan lessor dan urusan SDM. Sebenarnya sudah dari awal kita lakukan dari saat pandemi terjadi. Karena bisnis kita terpuruk habis. Jumlah penumpang babak belur pernah sampai 90 persen. Problemnya, kita punya fixed cost tidak bisa turun, sementara pendapatannya sebagai variabel cost-nya terlalu banyak yang fixed. Kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena cukup normal di sebuah industri yang dari waktu ke waktu selalu tumbuh.

Baca juga: Rudy Gunawan Buktikan Garut Tidak Lagi Tertinggal, Bakal Jadi Daerah Tujuan Wisata

Industri penerbangan ini kan selama 40 tahun terakhir growth secara dunia. Jadi tidak salah juga. Di saat pandemi ini kita punya fixed cost susah turunnya. Dua faktor fixed cost yang cukup menantang memang sewa pesawat dan soal SDM .Dari tahun lalu kita sudah negosiasi dengan mereka persoalannya ini adalah basis commercial. Perjanjian kita tidak bisa diberhentikan atau early termination. Kita harus bayar sampai habis masa bayarnya. Kita negosiasi sewanya. Tahun lalu kita menurunkan 11 juta dolar AS setiap bulan.

Berapa pesawat yang dipulangkan agar kita dapat holiday payment?

Sepanjang 2020 tidak ada yang dikembalikan. Di tahun 2021 ada 13 pesawat kita masih negosiasi lagi. Kita masih terus nego lagi.

Pesawat Garuda Indonesia
Pesawat Garuda Indonesia (Tribunnews)
Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved