Dede Ahmad Rajin Baca Buku Sejarah Perjuangan Bangsa, Lulusan SMK Ini Menjadi Juru Pelihara GIM

"apalagi sebagai salah satu aset negara dan cagar budaya. Bangunan ini tidak boleh dipugar atau di renovasi sedikitpun dari bentuk aslinya"

Tribun Jabar/Cipta Permana
Dede Ahmad, pemuda asal Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat yang menjadi juru pelihara di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. 

BANYAK cara yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam mengisi momentum kemerdekaan RI di masa pandemi covid-19 dan PPKM, salah satunya yang dilakukan oleh Dede Ahmad (29), pemuda asal Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat.

Pemuda ini memilih mengisi waktu luangnya dengan mendalami nilai peninggalan sejarah melalui buku-buku perjuangan bangsa Indonesia yang kebanyakan ia baca di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan  No 5, Kota Bandung.

Dari buku-buku terkait perjalanan tokoh juga masyarakat di era kolonial Belanda tersebut, Dede mengaku menemukan banyak fakta sejarah yang sebelumnya tidak Ia dapatkan dari buku pelajaran sekolah. Hal ini membuka wawasannya tentang bagaimana upaya para pejuang memperoleh dan mempertahankan bangsa Indonesia dari tangan penjajah.

Dede Ahmad, juru pelihara di Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
Dede Ahmad, juru pelihara di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) (Tribun Jabar/Cipta Permana)

"Di sini banyak buku-buku sejarah bangsa Indonesia dari banyak pengarang, yang menjelaskan tentang perjalanan dan perjuangan dari tokoh bangsa dan masyarakat Indonesia, dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankannya dari penjajah. Ini menarik, karena banyak informasi yang tidak saya temukan di sekolah dan buku pelajaran," ujarnya saat ditemui di GIM, Selasa (10/8/2021).

Rasa penasaran tentang perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia, membuatnya terus menggali informasi, bukan hanya dari berbagai buku sejarah, tetapi juga pemahaman dan wawasan sastrawan, budayawan, komunitas pecinta sejarah, hingga para veteran atau mantan prajurit kemerdekaan, yang dulu pernah merasakan getirnya bertahan hidup di zaman penjajahan. 

Hal itu terus dilakukannya selama bertahun-tahun sejak duduk di bangku kelas 11 SMK jurusan otomotif.

Baca juga: Menurut Peneliti Sejarah, Persib Lahir di Bandung pada Tahun 1934 Bukan 1933

Dari gambaran tersebut, secara tidak langsung mengilhaminya untuk dapat mencintai dan lebih merasakan arti dari sebuah perjuangan.

Rasa itu ditanam dalam dirinya dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat tahun 2010, dimana ia baru lulus dari bangku sekolah, Ahmad berjuang untuk dapat mandiri, dengan mencoba melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan bermodalkan ijazah SMK dan keahlian yang dimilikinya.

Meskipun nasib baik belum berpihak kepadanya, Ahmad menolak untuk menyerah, di sela waktu luangnya, Ia pun memilih untuk mengisi waktu luangnya dengan membantu saudaranya yang membuka kantin di Gedung Indonesia Menggugat (GIM), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung.

Dede Ahmad di Perpustakaan Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung
Dede Ahmad di Perpustakaan Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung (Tribun Jabar/Cipta Permana)

Bukan karena materi sehingga pekerjaan itu dipilihnya, namun karena lokasi GIM merupakan salah satu saksi bisu dari perjalanan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan.

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved