David Wijaya, Apoteker yang Hadir untuk Mendengarkan Pasien, Kembangkan Platform BijakObat

"Kadang-kadang, ada pasien yang enggak bisa mengutarakan keluhannya kepada dokter, tapi mereka itu bisa cerita kepada saya"

dokumentasi David Wijaya
Davod Wijaya, apoteker 

BERCITA-CITA awal ingin menjadi dokter, David Wijaya (25), kini menjadi apoteker. Ia tidak pernah menyesali pilihannya, melainkan terus mengembangkan diri.

Pria kelahiran Cirebon, 23 Januari 1996, tersebut mendapat beasiswa untuk kuliah di Jurusan farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga lulus pada 2014. Ia tamatan sebuah SMA di Cirebon, Jawa Barat, dan mengikuti jalur undangan untuk masuk ITB.

"Saya sempat ingin kuliah kedokteran karena bisa membantu masyarakat secara langsung dan bertemu dengan pasien. Saat ambil apoteker, saya merasa bersyukur karena ternyata masalah yang penting ini tidak hanya di bagian diagnosa, tapi ada masalah penting dalam penggunaan obat," ujar David saat ditemui secara virtual, Sabtu (7/8).

Menjadi apoteker, ucapnya, bekerja dari hulu ke hilir mulai mencari bahan baku, pabrik obat, quality control, hingga distribusi. Menurutnya, apoteker pun tak sekadar berhubungan dengan obat, tapi terutama pasien.

David Wijaya, apoteker alumni Farmasi ITB
David Wijaya, apoteker alumni Farmasi ITB (dokumentasi David Wijaya)

"Saya hadir untuk mendengarkan pasien karena mereka ingin didengar. Kadang-kadang, ada pasien yang enggak bisa mengutarakan keluhannya kepada dokter, tapi mereka itu bisa cerita kepada saya," katanya.

David mengatakan, para apoteker dan farmasis sangat senang ketika para pasien datang dan bertanya banyak hal soal obat yang mereka konsumsi. Menurutnya, edukasi tentang obat ini penting sehingga pasien bukan sekedar minum obat.

Baca juga: Profesor Zullies Ikawati:  Interaksi Obat Tidak Selalu Berkonotasi Negatif

Kala kasus Covid-19 meningkat, obat makin banyak dicari, tapi distribusinya tidak mudah. Pembatasan bahkan lockdown di beberapa negara memengaruhi ketersediaan obat. Selama bekerja memakai sistem shift, segalanya menjadi terbatas dan distribusi obat cukup sulit.

"Obat, aturannya, memang harus dibuat dengan cara yang baik. Hal yang mengerikan adalah jika obat sudah diproduksi, distribusi salah. Takutnya ada yang menimbun sehingga memang harus ada pengawalan ekstra," ujar David.

Baca juga: Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Punya Rumah Sakit, Warga Tidak Jauh Lagi Berobat

Tidak cukup sebagai apoteker, David membentuk Youth Ranger Indonesia, sebuah platform untuk pengembangan anak muda. Dia juga membentuk BijakObat, sebuah platform edukasi dan konseling kesehatan serta informasi obat bagi masyarakat.

"Saya tertarik pada edukasi karena saya percaya pendidikan bisa memutus rantai kemiskinan," katanya.

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved