Wasekjen Pinsar Abbi Angkasa Sebut Pengusaha Besar dan Peternak Rakyat Kini Bersaing di Pasar Becek

Banyak peternak yang menjual ayamnya sangat murah, ditambah mereka kebingungan untuk memberi pakan

abbiangkasaperdana.blogspot.com
Wakil Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Abbi Angkasa Perdana Darmaputra 

SETELAH mengalami kerugian sejak tahun 2018, jumlah peternakan mandiri dan peternak rakyat mengalami penurunan dan hanya tersisa 21-25 persen saja.

Hal-hal yang menyebabkan para peternak mengalami gulung tikar yaitu dengan hadirnya para pengusaha besar yang masuk ke pasar becek hingga ketidakpastian Pandemi Covid-19 yang tidak tahu kapan akan berakhir.

Abbi Angkasa Perdana Darmaputra
Abbi Angkasa Perdana Darmaputra (abbiangkasaperdana.blogspot.com)

"Sebelumnya, sebanyak 55 juta hingga 70 juta ekor ayam dari peternak ayam diserap pasar, kemudian tahun 2020 kapasitas suplainya menurun hanya 30-32 persen, 2021 lebih parah lagi hanya 21-25 persen," ujar Wakil Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar), Abbi Angkasa Perdana Darmaputra saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (6/8/2021).

Abbi menjelaskan, modal yang kuat membuat pengusaha besar mampu menekan harga,  harga pokok penjualan ayam di peternak modern Rp 17.599 - Rp 18.000, peternak rakyat Rp 20.000, dan integrator Rp 15.000 - Rp 16.500 per kilogram.

Baca juga: Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Punya Rumah Sakit, Warga Tidak Jauh Lagi Berobat

Dari banyaknya pengusaha besar tersebut, sebelumnya mereka merupakan produsen day old chicken (DOC) yang saat ini masuk ke berbagai lini perunggasan, termasuk budidaya.

Yang menjadi persoalan, pengusaha besar dan peternak rakyat sama-sama bersaing di lahan yang sama, sebab pengusaha besar tersebut masuk ke pasar becek.

ilustrasi peternakan ayam
ilustrasi peternakan ayam (dokumentasi Abbi Perdana)

"Iklim usaha ini harus dibentuk dengan baik. Bagaimana caranya semua orang bisa hidup bersama, semua orang mau bisnis, semua orang mau berusaha, dan semua orang mau cari makan," ucap Abbi.

Terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19 yang sudah terjadi hampir dua tahun terakhir yang tentunya mempengaruhi perkonomian.

Baca juga: Bermula dari Hobi, Jhon Akhirnya Membuka Peternakan Burung, Omzetnya Capai Rp 100 juta Per Bulan

Kemudian di awal pandemi banyak sektor usaha yang tutup, terkhusus restoran dan tempat kuliner yang berakibat pada permintaan ayam ke para peternak mengalami penurunan.

Banyak peternak yang menjual ayamnya sangat murah, ditambah mereka kebingungan untuk memberi pakan, alhasil anak ayam umur 3-10 terpaksa mereka musnahkan.

ilustrasi peternakan ayam
ilustrasi peternakan ayam (dokumentasi Abbi Perdana)

Semasa Pandemi Covid-19 dan new normal, terjadi pengendalian arus mobilitas hewan hidup antarprovinsi.

Karenanya, Abbi sangat berharap supaya ada integrasi untuk menyelesaikan secara komplet hilirisasi dan modernisasi supply chain dan marketing chain. (Tribun Jabar/Shania Septiana)

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved