Bambang Tirtoyuliono: Menangani Covid di Desa di Jabar Luar Biasa, 70 Persen Dana Desa untuk Bantuan

Kita memang tidak punya anggaran sama sekali untuk itu. Jadi kita betul-betul mendayagunakan resources yang ada.

Tribun Cirebon/Handhika Rahman
Bambang Tirtoyuliono 

PERAWATAN pasien Covid-19 di rumah sakit hanyalah sebagian kisah dari penanganan Covid-19 secara keseluruhan di Jawa Barat. Di luar itu, kebanyakan pasien Covid-19 di Jabar menjalani isolasi mandiri di rumah atau pusat-pusat isolasi terpadu, baik di perkotaan dan perdesaan. Belum lagi masalah tracing atau pelacakan kontak erat pasien Covid-19 yang juga melibatkan lebih banyak orang di daerah, juga percepatan vaksinasi Covid-19 yang mendapat tantangan luar biasa di pelosok desa.

Lantas bagaimanakah penanganan Covid-19 di desa-desa yang menjadi bagian terbesar wilayah di Jabar? Berikut wawancaraeksklusif jurnalis Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat, Ir. Bambang Tirtoyuliono, M.M, Selasa (3/8).

Secara garis besar, bagaimanakah penanganan Covid-19 di desa-desa di Jawa Barat?

Selama pandemi Covid-19 ini, Pak Gubernur memang minta kepada DPMD Jabar melakukan pendampingan, kaitannya dengan optimalisasi peran dari satgas penanganan Covid-19 di desa. Jadi sesuai dengan amanat, Mendagri bahwa di desa itu harus dibentuk satgas penanganan Covid-19, juga tingkat kelurahan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Barat, Bambang Tirtoyuliono (Tribun Jabar/Syarif Abdussalam)

Kita agak kesulitan di awalnya manakala kita melakukan pendataan jumlah sumber daya manusia. Di DPMD ini tidak lebih dari 100 orang. Jumlah desa yaitu 5.312, dengan jumlah penduduknya 36,2 juta jiwa, akhirnya bagaimana kita berkolaborasi bersama-sama dengan ada 18 kabupaten dan kota.

Tentunya kita membuat sistem yang sangat mudah untuk teman-teman di desa ini bisa melaporkan Covid-19 melalui google form. Bagaimana desa itu bisa melaporkan, apa yang dilakukan dalam konteks pencegahan, apa yang dilakukan dalam konteks penanganan. Jadi kita lakukan dengan bersama-sama dengan 18 kabupaten dan 1 kota, bagaimana mereka mencatat dan sebagainya.

Baca juga: Kepala BWWS Citarum, Anang Muchlis Kejar Target Pembangunan Sambil Tangani Covid-19

Bagaimana desa menghadapi PPKM Darurat dan level 4?

Memang sejak tanggal 1 Juni 2021 yang lalu, sejak diberlakukannya PPKM darurat ini luar biasa. Jadi tingkat penyebaran kasus positif aktif di Jawa Barat ini luar biasa, termasuk juga di desa.

Bagaimana tingkat penyebaran kasus positif aktif, tingkat kematian, bahkan juga kesembuhan, dan bagaimana upaya-upaya yang dilakukan oleh Satgas Desa memastikan bisa dibuat yang namanya pusat isolasi terpadu.

Yang disebut isolasi terpusat atau terpadu ini selain isolasi mandiri, jadi tidak simpel dalam kondisi yang begitu tinggi tingkat penyebarannya. Kemudian desa harus menyiapkan juga pusat isolasi.

Kenapa ini tempat isolasi perlu karena pada saat itu tingkat keterisian rumah sakit hampir mendekati angka 92 persen di Jawa Barat, artinya sudah tidak mungkin tercover di rumah sakit.

Teman-teman di desa juga tidak tahu apa klasifikasi dari pasien yang terkena, apakah yang bergejala apakah gejala ringan, bergejala sedang atau berat dan kritis, mereka tidak tahu karena mereka pada umumnya tidak memiliki basic medis.

Tenaga kesehatan di desa sangat terbatas, dengan dinamika seperti itu pada akhirnya kita mencoba mencatat itu semua, kemudian kita memberikan pendampingan. Bagaimana di sini bisa mengambil porsi kebijakan bahwa pasien yang tidak bergejala dan juga bergejala ringan jangan dibawa ke rumah sakit. Bisa di pusat isolasi terpusat dengan pendampingan.

Baca juga: Wabup Majalengka, Tarsono D Mardiana Ungkap Rahasianya Pulih Kembali dari Dua Kali Positif Covid-19

Berapakah jumlah pusat isolasi terpadu di Jabar?

Perkembangan terakhir, di posisi 1 Agustus 2021, jumlah pusat isolasi yang ada di desa itu ada 6.799 pusat isolasi. Jadi artinya dari itu ada satu desa yang lebih dari satu pusat isolasi.

Jadi ada juga yang puskesmas, ada juga posyandu, yang dialihfungsikan sementara menjadi pusat isolasi. Itu memang betul inovasi-inovasi dengan kesulitan, dengan segala keterbatasan, mereka harus bisa melakukan konteks pencegahan dan penanganan.

Tempat tidur yang disediakan walaupun terbatas di masa itu tercatat 11.894. Kini keterisian sudah turun jadi 36,4 persen, artinya tidak semuanya terisi.

Baca juga: Ridwan Kamil Akui Sudah Tidak Ada untuk Bansos Covid-19, Berharap Herd Imunity Tercapai

Seberapa pentingnyakah pusat isolasi terpadu di desa ini?

Karena ada keterbatasan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan di desa. Maka pusat isolasi ini jadi penting, supaya mereka tetap terpantau kesehatannya walaupun di luar fasilitas kesehatan umumnya.

Kepala DPM-Desa Jabar, Bambang Tirtoyuliono (tengah) saat melakukan monitoring dan evaluasi di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (16/5/2021).
Kepala DPM-Desa Jabar, Bambang Tirtoyuliono (tengah) saat melakukan monitoring dan evaluasi di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (16/5/2021). (Tribun Jabar/Syarif Abdussalam)

Apakah tugas lainnya yang dilakukan pemerintahan di desa di masa pandemi ini?

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
444 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved