Dadang Hidayat, Pemain yang Berawal dan Berakhir di Persib, Pillih Pensiun Dini Demi Regenerasi

Pada Liga Indonesia 2005, Dahi yang sudah berusia 33 tahun memutuskan untuk pensiun. Dahi merasa bahwa sudah waktunya Persib melakukan regenerasi

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Dadang Hidayat 

BERMAIN dengan satu klub sepanjang karier profesional tidak pernah mudah bagi pesepak bola. Godaan untuk pindah klub selalu datang setiap musim. Tak heran, sedikit sekali yang memutuskan untuk menghabiskan kariernya di satu klub. Dadang Hidayat adalah salah satunya.

Pemain yang akrab disapa Dahi itu lahir di Bandung, 20 Agustus 1972. Sejak kecil, Dahi sudah menggemari permainan sepak bola. Namun dia baru serius untuk menjadi pemain ketika masuk ke Sekolah Sepak Bola (SBB), Nusa Raya Sports (NRS) pada tahun 1986.

"Awalnya saya kalau dulu kalau bermain sepak bola di kampung selalu nyeker (tanpa sepatu). Kelas 2 SMP baru saya serius," ujar Dahi melalui sambungan telepon.

Dadang Hidayat
Dadang Hidayat (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Kesempatan untuk bergabung dengan Persib datang pada musim kompetisi 1991. Hanya saja Dahi masih di tempatkan di Persib U-21. Sulit mendapat tempat, Dahi memilih bergabung dengan anggota kompetisi internal Persib, PS Pikiran Rakyat.

Terus menunjukan perkembangan yang positif, Dahi akhirnya dipromosikan ke tim senior Persib pada musim 1994/1995 setelah sebelumnya sempat menjadi pemain Persib U-23 atau Persib. Di bawah asuhan pelatih legendaris Indra Thohir dan para pemain senior, Dahi mendapat banyak sekali ilmu.

Baca juga: Momen Tidak Terlupakan Saat Melawan Persija di Stadion Siliwangi 2006, Abo Jadi Pahlawan Persib

Namun di musim pertamanya itu, Dahi tidak sekalipun mendapat kesempatan tampil. Sebab, lini belakang Persib kala itu dihuni oleh para pemain bintang seperti Mulyana, Asep Kustina, hingga Robby Darwis.

"Di situ perjuangan lebih ke bukan keras lagi. Persib kan di liga 1 dihuni oleh bintang- bintang lokal yang pada waktu itu hampir semua bintang di tim Persib. Semua posisi hampir semua pemain bintang. Kemudian bintangnya bintang lokal, lokal asli binaan dari anggota tim PS anggota Persib hasil kompetisi Persib," katanya.

Baca juga: Pernah Jadi Idola bahkan Ikon Persib, Pernah Pula Dicaci Maki, Eka Ramdani Kini Fokus Keluarga

Meskipun tak mendapat menit bermain, bisa satu tim dengan para pemain besar seperti Robby Darwis dkk merupakan sesuatu yang berharga bagi Dahi. Justru situasi itu membuat Dahi makin bekerja keras agar bisa menyamai prestasi para seniornya tersebut.

Kerja kerasnya sebagai pemain cadangan mulai berbuah hasil pada Liga Indonesia V 1998/1999. Saat itu, Persib baru saja mengganti posisi pelatih dari Suryamin ke Indra Thohir.

Dadang Hidayat
Dadang Hidayat (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Keluarnya Robby Darwis dari Persib pun membuat Dahi mendapat tempat di tim utama. Indra Thohir yang sudah mengetahui kemampuan Dahi langsung menempatkannya sebagi bek inti Maung Bandung. Dahi pun langsung ditunjuk sebagai kapten kesebelasan.

Kehadiran Dahi di lini belakang membuat prestasi Persib sedikit demi sedikit mulai kembali meningkat. Hingga pada Liga Indonesia 2001, Persib masuk ke babak 8 besar.

Baca juga: Djadjang Nurjaman Sosok yang Paling Sukses di Maung Bandung, Belum Ada yang Menyamai Prestasinya

"Kebetulan Liga VII saya bersama rekan-rekan, Yaris Riyadi, Cecep Supriatna, Sujana, kebetulan waktu itu masuk ke 8 besar di Medan. Tapi kami gagal lolos ke semifinal. Kalau waktu itu tim masuk Senayan menorehkan sejarah lagi, tim tanpa pemain asing dikeroyok sama tim yang memakai pemain asing. Tapi ya rezekinya belum, kami kalah di Medan dan gagal ke Senayan," ucapnya.

Dari 9 musim membela Persib, tahun 2003 dirasakan Dahi merupakan yang paling berat untuk dijalani. Banyak sekali kendala yang harus di hadapi selama liga berjalan hingga nyaris degradasi.

Baca juga: Sebelum Masuk Lapangan, Sujana Selalu Menempelkan Bola ke Kakinya Seraya Berdoa

Padahal ketika itu, manajemen Persib memutuskan untuk membuka keran pemain asing. Bahkan di posisi pelatih pun, Persib akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasanya.

Empat pemain asal Polandia didatangkan Persib di musim tersebut. Empat pemain itu adalah Maciej Dolega, Piotr Orlinski, Mariusz Mucharski, dan Pavel Bocjian. Sementara itu, di posisi pelatih, Persib mempercayakannya kepada Marek Andrzej Sledzianowski.

Dadang Hidayat
Dadang Hidayat (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

"Liga yang paling berat mungkin Liga 2003. Kenapa paling berat? Entah gimana enggak tahu kebijakan apa yang salah, saya kurang tahu akhirnya Persib punya tim yang bermaterikan pemain muda yang kurang matang. Di situ di klasemen Persib tidak beranjak di bawah terus sampai menjelang playoff. Itu menruut saya liga yang paling berat," katanya.

Setelah tak mendapat hasil yang memuaskan, Persib akhirnya melakukan perubahan dengan memecat pemain dan pelatih asing. Sebagai gantinya, pelatih asal Cile, Juan Antonio Paez didatangkan. Pemain asing baru seperti Claudio Lizama (Cile), Alejandro Tobar (Cile), Rodrigo Lemunao (Cile) hadir untuk menggantikan kuartet Polandia.

Baca juga: Bek Persib Henhen Herdiana Pakai Sepatu Jahitan Sendiri Saat Bersekolah Sepak Bola  

Perubahan itu langsung membawa angin segar bagi Persib yang saat itu sangat terpuruk. Pada babak play off untuk menentukan tim yang terdegradasi, Persib tampil luar biasa dengan mengalahkan Persela Lamongan, PSIM Yogyakarta, dan Perseden Denpasar.

Pada Liga Indonesia 2005, Dahi yang sudah berusia 33 tahun memutuskan untuk pensiun. Dahi merasa bahwa sudah waktunya Persib melakukan regenerasi khususnya di lini belakang.

Dadang Hidayat
Dadang Hidayat (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

Tawaran untuk bermain di tim lain pun mulai berdatangan mengingat usianya yang belum terlalu tua. Hanya saja, kecintaannya ke Persib terlalu besar. Sehingga dia memutuskan untuk menutup karier sepak bola nya dan hanya bermain di satu klub yakni Persib.

Baca juga: Indra Mustafa Punya Kemampuan Melempat Jauh ke Dalam dan Akurat, Bek Tengah Andalan Persib

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
434 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved