Moeldoko Ungkap di Balik Penunjukan Luhut Jadi Panglima Perang PPKM Darurat dan Soal Ivermectin

Itu lah peran-peran yang kami jalankan, mendekatkan masyarakat dengan Istana. Apa yang saya dengar saya catat

KEPALA Staf Kepresidenan, Moeldoko, akhirnya buka suara tentang alasan di balik penunjukan Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sebagai "Panglima Perang" Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, tempo hari. Berbagai hal, ujarnya, menjadi pertimbangan. Tak hanya soal Luhut dan PPKM Darurat, Moeldoko juga mengungkap alasan di balik inspeksi mendadak Presiden Joko Widodo apotek yang viral serta dugaan ketidakkompakkan Kabinet dalam menghadapi Covid-19. Berikut petikan wawancara khusus Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra dan Manager Pemberitaan Tribun Network, Rachmat Hidayat dengan Moeldoko, Rabu (28/7).

Sebenarnya, apa peran Kantor Staf Kepresidenan (KSP)?

Secara umum, tugas pertama memastikan bahwa program atau proyek strategis nasional tersampaikan dengan baik. Kalau ada hambatan di lapangan, kita yang membantu menyelesaikan. Berikutnya komunikasi politik dan publik. Disinformasi hari-hari ini sungguh luar biasa. Berita yang salah berulang-ulang jadi seolah benar. Tugas kami meluruskannya.

Kami juga membuka kantor KSP selebar-lebarnya agar terjadi komunikasi yang baik antara masyarakat dan kantor kepresidenan. Biasanya komunitas, asosiasi, datang ke kantor kami. Mereka menyampaikan keluhan, kadang marah. Kami mendengarkan saja. Karena KSP tempat terakhir pengaduan. Setidaknya kami bisa menyampaikan kepada lembaga terkait.

Itu lah peran-peran yang kami jalankan, mendekatkan masyarakat dengan Istana. Apa yang saya dengar saya catat. Kalau Presiden perlu mendengarkan, kami sampaikan.

Kabinet kita dinilai tidak kompak menghadapi Covid-19?

Sebenarnya bukan itu. Kalau soal penanganan Covid-19 itu, hampir 2-3 kali seminggu Presiden rapat terbatas. Memonitor dan evaluasi langkah menteri. Lalu Presiden membuat keputusan. Itu langsung presiden.  Persoalan Covid, semua kepala negara tidak ada yang siap. Sehingga orang di luar melihatnya seolah penanganan tidak terkoordinasi dan harmonis. Covid ini persoalan kayak balon, pencet di sini, problem di sana. Negara kita luas, mobilitas tinggi. Tidak bisa kita apple to apple dengan Singapura. Kelompok menengah ke atas mungkin oke, tapi masyarakat di bawah kalau ditutup bagaimana. Ini memang problem yang tak mudah. Karena itu presiden mengambil jalan tengah. Begitu Covid naik, ekonomi direm.

Belum lama ini, Presiden sidak langsung ke apotek. Kenapa?

Itu seorang panglima. Harus memastikan bahwa apa yang terjadi di lapangan benar-benar diketahui dengan baik. Untuk memastikan berjalan di bawah. Biasanya orang ada tipe-tipe kodamar, komando dari kamar. Pak Presiden paham betul persoalan di lapangan. Dibawa ke meja rapat terbatas.

Hasilnya, apa ada impactnya?

Sumber: Tribunnews

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved