Wawancara Eksklusif

Profesor Zullies Ikawati:  Interaksi Obat Tidak Selalu Berkonotasi Negatif

Sekali lagi, di dalam terapi, kita selalu mempertimbangkan risiko dan manfaat. Jika manfaatnya lebih besar dari risikonya,...

ditpui.ugm.ac.id
Prof Zullies Ikawati PhD Apt 

BENARKAH kematian pada pasien yang Covid-19 dipicu oleh interaksi obat yang diberikan dokter pada mereka? Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zullies Ikawati PhD, Apt, memberikan penjelasan yang melegakan. Ia mengatakan, kombinasi obat yang digunakan pada pasien Covid-19, tak menyebabkan interaksi obat yang berakibat fatal, apalagi mematikan. Bahkan, pada pasien Covid dengan gejala berat yang memiliki penyakit penyerta (kormobid).

Berikut petikan wawancara lengkap Tribunnetwork dengan Prof Zullies Ikawati,  dipandu Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribun Network, Rachmat Hidayat, Rabu (14/7).

Apa sebenarnya interaksi obat?

Interaksi obat itu adalah pengaruh satu obat terhadap obat lain ketika dipakai bersamaan pada satu pasien. Jadi ketika seseorang sakit, terkadang tidak cukup dengan satu macam obat. Kadang-kadang bisa menggunakan beberapa macam obat dan ada kemungkinan masing-masing obat itu berinteraksi.  Namun demikian interaksi obat itu tidak selalu berkonotasi negatif. Karena interaksi itu bisa saja saling mendukung, sinergis, dan bisa juga saling melawan. Sehingga kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa interaksi obat itu pasti (berdampak) jelek. Itu enggak bisa juga, apalagi sampai mematikan. Saya kira itu terlalu berlebihan karena kita harus lihat kasus demi kasus.

Guru Besar Farmasi Universitas Gajah Mada, Zullies Ikawati
Guru Besar Farmasi Universitas Gajah Mada, Zullies Ikawati (Dok UGM/Kompas.com)

Dalam kondisi apa interaksi obat bisa menguntungkan atau merugikan?

Sifatnya bisa menguntungkan ketika itu bersama-sama mendukung satu terapi. Misal, hipertensi. Kadang-kadang bisa membutuhkan lebih dari satu macam obat. Jika tekanan darah tidak terkontrol dengan satu obat, dokter menambahkan dengan obat lain. Bahkan jika dua macam obat tidak cukup, kadang-kadang bisa dikombinasikan menjadi tiga.

Baca juga: Wabup Majalengka, Tarsono D Mardiana Ungkap Rahasianya Pulih Kembali dari Dua Kali Positif Covid-19

Dalam kondisi seperti itu, artinya ada kombinasi obat dan mungkin ada interaksi. Tapi dalam hal itu interaksi akan menguntungkan, karena masing-masing obat akan bekerja dengan mekanisme masing-masing, saling mendukung untuk menurunkan tekanan darah.

Obat Covid-19 yang dikembangkan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) dan tim Universitas Airlangga Surabaya.
Zullies Ikawati
Obat Covid-19 yang dikembangkan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) dan tim Universitas Airlangga Surabaya. Zullies Ikawati (Tribunnews)

Namun, sebaliknya, interaksi obat  juga bisa merugikan. Misal, jika obat yang satu meniadakan efek obat lainnya sehingga tidak tepat jika digunakan bersamaan. Atau, misalnya, ada obat yang memiliki efek samping tertentu, ditambah dengan obat lain yang memiliki efek samping yang sama, maka akan terjadi kombinasi efek samping yang terjadi bersamaan. Justru akan meningkat potensi efek sampingnya.

Adakah obat untuk pasien Covid-19 yang efeknya sama dan berpotensi memicu interaksi obat berdampak negatif?

Kadang ada obat yang efek sampingnya mirip dan itu dipakai bersamaan. Itu kita tidak sarankan. Misalnya azithromycin dengan levofloxacin. Levofloxacin ini kan' antibiotik yang sering dipakai pada Covid-19. Itu biasanya kita hanya sarankan pilih salah satunya, tidak bisa digunakan dua-duanya.

Baca juga: Bubur Ayam Gratis untuk Pasien Isoman Covid-19, Kepedulian dari Penduduk Gang Sempit di Kota Bandung

Di panduan pun disarankan pilih azithromycin atau levofloxacin karena kalau keduanya digunakan, akan meningkatkan risiko yang mengarah pada gangguan irama jantung. So far tidak ada yang mematikan, dan itu harus dilihat kasus by kasus, karena respons seseorang terhadap obat bisa berbeda-beda.

Bagaimana mengetahui pasien Covid-19 meninggal akibat Covid-19, penyakit bawaan, atau karena interaksi obat?

Tentu saja kita harus melihat riwayat perjalanan penyakit dari pasien tersebut dan juga riwayat obatnya. Saya juga tidak menafsirkan tidak ada [kasus kematian karena interaksi obat], mungkin ada juga. Artinya, sekali lagi itu bukan sesuatu yang general.

Obat Covid-19 yang dikembangkan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) dan tim Universitas Airlangga Surabaya.


Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Obat Covid-19 Berhasil Ditemukan dan Telah Terdaftar di BPOM, Akan Segera Beredar di Pasaran.
Obat Covid-19 yang dikembangkan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) dan tim Universitas Airlangga Surabaya. Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Obat Covid-19 Berhasil Ditemukan dan Telah Terdaftar di BPOM, Akan Segera Beredar di Pasaran. (unair.ac.id)

Kondisi kematian akibat Covid-19 memang bisa terjadi karena perburukan pada penyakit bawaannya,  atau karena ada obat-obat yang kebetulan memang bisa menyebabkan interaksi yang menganggu.  Namun, yang saya tahu, itu [interaksi obat] bukan merupakan penyebab utama. Ketika seorang dokter membuat resep obat, pasti akan melihat riwayat obat apa yang sudah diberikan. Sehingga akan memilih menggunakan obat yang tentunya tidak memberi dampak yang membahayakan. Sekali lagi, di dalam terapi, kita selalu mempertimbangkan risiko dan manfaat. Jika manfaatnya lebih besar dari risikonya, maka itu yang harus kita putuskan, kita ambil.

Baca juga: Melalui Youtube Magdalena Fridawati Membantu Para Pelaku Kuliner UMKM Melewati Pandemi Covid-19

Cara mengetahui penggunaan obat menimbulkan interaksi yang negatif?

Respons orang pada suatu obat, kadang berbeda. Ada orang yang menggunakan satu azithromycin, kemudian degdegan. Segera keluhan itu kepada dokter pemberi resep untuk dievaluasi. Mungkin memang obat itu tidak cocok untuk orang itu.

Menurut pengetahuan Prof Zullies, apakah Covid-19 bisa ada obatnya?

Covid-19 ini disebabkan virus SarsCov-2. Penyakit akibat virus itu sebetulnya adalah self limiting desease atau penyakit yang bisa berhenti sendiri atau bisa sembuh sendiri. Tergantung dari daya tahan tubuh. Tapi memang bisa dibantu dengan obat antivirus atau pembunuh virus.

Baca juga: Ratna Dewi, Srikandi Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Indramayu, Kemanusiaannya Kalahkan Rasa Takut

Kita masih mencari obat antivirus yang paling ampuh untuk Covid-19 ini apa. Sampai saat ini, katakanlah, yang sudah dipakai itu oseltamivir, yang aslinya itu obat untuk virus influenza. Harus kita sampaikan bahwa influenza dan Covid-19 ini agak sedikit beda jenisnya. Walaupun sama-sama virus tapi bisa beda, sehingga mungkin efektivitas obat oseltamivir ini bisa beda juga.

Obat Invermectin
Obat Invermectin (Tribun Jabar/Shania Septiana)

Kemudian ada favipiravir. Ini juga sudah dikembangkan. Awalnya favipiravir juga obat antiinfluenza, tetapi karena adanya Covid-19 ini, dicobakan juga untuk pasien Covid-19. Memang sebagian ada yang sembuh, ada juga yang tidak sembuh. Kemarin juga ramai-ramai menggunakan Ivermectin, ini juga kita masih menunggu, apakah Ivermectin ini benar-benar ampuh atau tidak. Kami masih membutuhkan data-data yang lebih valid dan lebih lengkap mengenai obat ini. Tapi ada juga sebagian yang sudah menggunakan. (tribun network/lucius genik)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved