Idar, Perajin Peti Mati di Majalengka, Mengaku Sedih Setiap Kali Banyak Pesanan dari Rumah Sakit

"Ini juga sebenarnya libur, tapi karena pembuatan peti sifatnya urgent, kami sisakan dua karyawan dari 15 karyawan yang kami punya".

Editor: adityas annas azhari
Tribun Cirebon/Eki Yulianto
Pembuatan peti mati pesanan rumah sakit di Desa Jatimulya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka 

NAIKNYA angka penjualan, tak selamanya disambut dengan kegembiraan. Ini pula yang dirasakan Idar Jasmadi (42), warga Desa Jatimulya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka. Usahanya memang terbilang langka. Membuat dan menjual peti mati.

Idar mengaku, usaha utamanya sebenarnya adalah memproduksi mebel. Itu digelutinya sejak enam tahun lalu. Pembuatan peti mati, kata Idar, semata karena ada permintaan. Itu dimulai sejak tahun lalu.

Pada awalnya, cerita Idar, permintaan peti mati ini hanya beberapa saja perbulan, sekadar untuk persediaan. Namun, beberapa bulan terakhir permintaannya melonjak.

Perajin kayu di Desa Jatimulya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka membuat peti mati yang dipesan dari rumah sakit rujukan Covid-19 di Majalengka.
Perajin kayu di Desa Jatimulya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka membuat peti mati yang dipesan dari rumah sakit rujukan Covid-19 di Majalengka. (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

"Terutama Juni ini. Kami memproduksi sampai 100 peti hanya dalam sebulan. Dikirim ke dua rumah sakit, yaitu RSUD Majalengka dan RS Cideres," ujar Idar saat ditemui di gudang produksinya di Blok Bodas desa setempat, Senin (28/6/2021) lalu.

Peningkatan permintaan ini membuat Idar harus menambah jam kerja belasan karyawannya.

"Ini juga sebenarnya libur, tapi karena pembuatan peti sifatnya urgent, kami sisakan dua karyawan dari 15 karyawan yang kami punya," ujarnya.

Baca juga: Bupati ke-8, Soeriatanoedibrata Banyak Jasanya untuk Majalengka, Makamnya Sangat Sederhana

Peti mati khusus jenazah pasien Covid-19 ini, Idar mengatakan, peti mati Covid-19 memiliki spesifikasi yang sedikit berbeda dengan peti mati umum, terutama dalam ukuran. Bentuknya juga lebih sederhana.

"Untuk ukuran peti mati yang biasa kami buat, sesuai standar, yaitu panjang 200 sentimeter, lebar 40 sentimeter, dan tinggi 60 sentimeter. Setiap peti mati dibanderol Rp 750 ribu," ujarnya.

Diakui Idar, bisnis peti mati tak urung kerap membuatnya dilema. Terlebih saat permintaannya naik pesat.

Perajin kayu menyelesaikan pembuatan peti mati di Desa Jatimulya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka
Perajin kayu menyelesaikan pembuatan peti mati di Desa Jatimulya, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka (Tribun Cirebon/Eki Yulianto)

Di satu sisi, kata Idar, itu bisa meningkatkan ekonomi keluarganya dan ekonomi keluarga para pegawainya. Tapi, di sisi lain, ini juga membuatnya sedih karena semakin banyak pesanan peti mati, berarti semakin banyak yang meninggal. Pada masa pandemi Covid-19, itu berarti banyak mereka yang terkena Covid-19 meninggal.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved