Pemuda Cimanggung Mengedukasi Para Petani Kopi, Petani Terkejut Saat Minum Kopi Hasil Kebun Sendiri

"Gelondongan saja, dijemur. Lalu setelah dirasa kering, baru ditumbuk biar mengelupas kulitnya. Tidak tahu apa itu sortir dan kenapa mesti ada sortir"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Sejumlah pemuda di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, membantu para petani untuk meningkatkan kualitas kopi 

SEJUMLAH pemuda di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, berkeliling ke pelosok kampung, mendata para petani yang di kebunnya ada tanaman kopi. Dengan telaten mereka membantu para petani untuk meningkatkan kualitas kopinya.

Meski sudah berpuluh-puluh tahun menanam kopi di lahan yang mereka garap, sebagian besar petani kopi tradisional memang belum terlalu mengenal kualitas kopi yang baik. Pengolahan pascapanen masih dilakukan ala kadarnya. Tak heran, jika harga kopi di tingkat petani terbilang rendah. Nyaris tak pernah meningkat dari tahun ke tahun.

Enjang (60), misalnya. Warga Kampung Babakan Tanjung, Desa Pasirnanjung, Kecamatan Cimanggung, yang memiliki 20 pohon kopi di kebunnya ini hanya mampu menjual biji kopi dalam bentuk beras Rp 20 ribu per kilogramnya.

Kopi hasil tanam petani Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, disimpan dalam bakul.
Kopi hasil tanam petani Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, disimpan dalam bakul. (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Selama 11 tahun bertani kopi tak pernah ada peningkatan harga secara melonjak. Seperti banyak petani tradisonal lainnya, ia pun hanya mengolah biji kopi secara tradisional.

"Gelondongan saja, dijemur. Lalu setelah dirasa kering, baru ditumbuk biar mengelupas kulitnya. Tidak tahu apa itu sortir dan kenapa mesti ada sortir," kata Enjang saat ditemui di kediamannya, Selasa (29/6/2021).

Baca juga: Kesederhanaan Ustaz Sulaeman, Juragan Kopi di Rancakalong yang Kenalkan Kopi Sumedang di Mancanegara

Apa yang diungkapkan Enjang kemudian juga terlihat dari hasil kopi yang sudah ia olah. Ukuran biji-biji kopinya tidak merata, banyak ditemukan biji pecah, bijinya hitam sebagian, biji bolong, bahkan yang paling parah, ditemukan banyak kerikil.

Di dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang biji kopi yang terbit tahun 2008, adanya kerikil dalam kopi olahan ini diganjar dengan nilai cacat 5. Jika lolos dari proses sortir, batu dapat mencelakakan pengolah kopi dengan merusak mesin penggilingan.

ilustrasi biji kopi
ilustrasi biji kopi (Tribun Jabar)

Cacat pada kopi sudah barang tentu juga mempengaruhi rasa kopi. Semakin kecil nilai cacatnya, semain baik cita rasa yang dihasilkannya.

Enjang mengaku sangat senang mendapat pengetahuan kopi dari para pemuda ini.

"Dulu menanam kopi ini semata-mata untuk program penghijauan hutan, bukan serius untuk berkebun. Tetapi kalau tahu begini, apalagi ini anak-anak muda bukan orang jauh, saya merasa mendapatkan ilmu dan bisa menjual kopi dengan harga lebih baik," katanya, seraya menyebut dalam satu musim, dia bisa menghasilkan biji hijau kopi lebih dari 30 kilogram.

Baca juga: Jemari Shandra Lincah Memetik Kopi Boehoen Nagarawangi, Pemudi Itu Jalani Program Petani Milenial

Selain belum mengenal tentang kopi berkualitas, tanaman kopi di kebun Enjang, juga tidak dirawat. Tidak dipupuk apalagi rutin dipangkas. Tanaman dibiarkan tumbuh setumbuh-tumbuhnya saja.

Sama dengan Enjang, petani lainnya, Buhaeri (50) juga punya tanaman kopi yang juga tidak dirawat. Beruntung, pria yang rumahnya tidak berjauhan dengan rumah Buhaeri lebih dahulu mengerti tentang sortasi.

Shandra Silvia Nugraha (20), petani milenial Jabar memetik kopi di perkebunan milik Kelompok Tani Maju Mekar, di Desa Negarawangi, Rancakalong, Sumedang,  Kamis (17/6/2021).
Shandra Silvia Nugraha (20), petani milenial Jabar memetik kopi di perkebunan milik Kelompok Tani Maju Mekar, di Desa Negarawangi, Rancakalong, Sumedang, Kamis (17/6/2021). (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Soal rambangan, soal pengolahan full wash, saya baru tahu. Selama ini asal jemur saja, yang penting biji terolah. Kalau sudah jadi biji hijau juga tidak segera dipanggang, malah dibiarkan sampai bau apek," kata Buhaeri di kediamannya.

Hasil panen Buhaeri lebih sedikit dibandingkan Enjang. Pohon kopinya yang masih produktif kurang dari 10 pohon. Kebanyakan pohon miliknya tumbang diserang hama ulat penggerek.

Baca juga: Yusup, Pembuat Peti Jenazah di Sumedang, Kewalahan Layani Pesanan Terpaksa Tambah Karyawan

"Sudah tahu begini, saya lebih selektif lagi dalam memilah biji kopi," katanya, seraya mengatakan baru-baru ini dia juga disuplai benih kopi melalui para pemuda Cimanggung itu.

Rohdian Muldiansyah, salah seorang pemuda yang kemarin ikut aktif memberikan penyuluhan pada para petani kopi Cimanggung, mengatakan kopi-kopi yang dihasilkan para petani Cimanggung sebenarnya potensial untuk diolah lebih baik lagi.

Workshop uji coba rasa kopi di salah satu hotel di Soreang pada 2019
Workshop uji coba rasa kopi di salah satu hotel di Soreang pada 2019 (TribunJabar)

Pemuda kelahiran Desa Pasir Nanjung, Cimanggung, ini mengatakan harga biji hijau kopi specialty, berdasar studi bandingnya ke petani kopi di Genteng dan Rancakalong, Sumedang, bisa mencapai paling murah Rp 60 ribu per kilogram.

"Petani-petani di Cimanggung belum mengenal kopi berkualitas baik. Lagi pula selama ini mereka merasa lahannya kecil dan tanaman kopinya sedikit, padahal soal ilmu, mau luas lahan atau sedikit, tetap harus dimiliki dan disebarkan," kata Rohdian yang aktif sebagai Petani Milenial Penggerak ini.

Baca juga: Omzet Warung Sate Milik H Eet Sunarya Rp 20 Juta Sehari, Ia Selalu Menyediakan Daging Kambing Muda

Ke depan, kata Rohdian, ia dan sejumlah petani generasi milenial lainnya di Cimanggung bertekad bulat membuat tempat pengolahan kopi, sehingga petani-petani yang tanaman kopinya sedikitpun tetap bisa menjual hasil panen mereka dengan harga yang layak.

Hal senada dikatakan pemuda lainnya, M Ino Gandana (24), warga Dusun Cimande, Desa Pasirnanjung. Ino, yang juga pemilik kedai kopi kecil di sekitar Parakan Muncang, ini sangat serius mendalami kopi dan tak pelit berbagi ilmu.

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Siswa SMKN 1 Sumedang Memproduksi Lampu LED, Memasok ke Kalimantan

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved