Kesederhanaan Ustaz Sulaeman, Juragan Kopi di Rancakalong yang Kenalkan Kopi Sumedang di Mancanegara

Kopi kalau dijual buah matangnya saja pasti murah. Berbeda dengan hasil olahan apalagi sajiannya, pasti nilainya bertambah

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Ustaz Sulaeman, juragan kopi di Rancakalong, Sumedang 

UDARA begitu dingin di Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (18/6/2021) dini hari. Sisa-sisa hujan sore sebelumnya, membuat suasana semakin berat, bukan untuk terbangun, bahkan untuk tertidur sekalipun.

Dua lapis kaus kaki rasanya belum cukup untuk menangkal gigilnya masuk ke sumsum tulang.

Namun, bagi Sulaeman (54), udara semacam itu sudah bukan kendala. Dengan hanya bermantel kain serban, dia membelah subuh menuju Masjid Agung Rancakalong yang berjarak sekitar 100 langkah dari rumahnya.

Sejumput kemudian, terdengar suaranya dari pengeras suara. "Masih ada waktu persiapan untuk salat Subuh. Ayo kita bangun, bangun," katanya di dalam bahasa Sunda.

ilustrasi biji kopi
ilustrasi biji kopi (Tribun Jabar)

Suaranya melalui pengeras itu lantas terdengar melantunkan doa-doa dalam rangkaian tarhim menjelang azan subuh.

Begitulah keseharian pria sederhana yang akrab disapa Ustaz Sulaeman itu.

Tak ada yang mewah menempel pada badannya, sehingga jarang orang tahu bahwa dia juragan kopi yang pernah pasang stand di pameran kopi dunia.

"Ya waktu itu pernah bersama Kementerian, ikut serta pameran kopi di Taiwan pada 2017. Skala pameran itu dunia, karena ada utusan Brazil, dan lainnya. Saya satu-satunya dari Indonesia," kata Sulaeman saat berbincang dengan Tribun di kediamannya, Jumat pagi, (18/6/2021).

Baca juga: Jemari Shandra Lincah Memetik Kopi Boehoen Nagarawangi, Pemudi Itu Jalani Program Petani Milenial

Kisah Sulaeman menjadi juragan kopi bermula ketika dia dan sejumlah warga lainnya memutuskan untuk menanam kopi. Mulanya memang keputusan itu muncul dari gerakan perlindungan hutan bersama masyarakat (PHBM) pada 2006.

Masyarakat menanami lahan hutan dengan tanaman kopi jenis Kartika dan Linie S. Hingga, upaya itu semakin memuncak pada 2010.

Pada tahun itu, masyarakat semakin marak menanam kopi, termasuk membenihkan pohon kopi tua yang hari-hari ini menjadi ciri khas kopi Rancakalong: kopi buhun dengan anakan si Jagur alias si Jarang Gugur.

Workshop uji coba rasa kopi di salah satu hotel di Soreang pada 2019
Workshop uji coba rasa kopi di salah satu hotel di Soreang pada 2019 (TribunJabar)

Di kediamannya, yang juga markas Kelompok Tani Maju Mekar, Desa Nagarawangi, Rancakalong, Sulaeman duduk bersila di gazebo. Sesekali dia berjalan ke tempat penggilingan kopi, memastikan biji-biji kopi yang baru saja dipanggang telah dingin dan siap diistirahatkan.

Berselang juga petani dari gunung datang mengantarkan karung-karung kopi ke tempat itu untuk segera diolah. Sulaeman dengan telaten melayani para petani itu.

Di kelompok tani yang diketuainya, ada 60 anggota yang menggarap lahan seluas 40 hektare di pegugungan Manglayang Timur.

Baca juga: Teh Mican Tidak Pernah Berpikir Dua Kali untuk Memulai Usaha, Dari Usaha Butik Kini Jualan Kopi

Sulaeman sendiri termasuk yang lahan garapannya paling luas, yakni 10 hektare. Petani-petani lainnya menggarap dengan luasan beragam,dan paling sedikit 1 hekatare.

"Bedanya kami dengan kelompok tani lain, mungkin karena kami selalu mendahulukan studi sebelum melakukan pembukaan lahan dan penanaman," katanya.

Terbukti, sebelum menanam kopi pada 2010 itu, Sulaeman studi ke Pangalengan, kabupaten Bandung, dan pada 2014 studi dilakukan ke Toraja.

Hal itu pula yang menjadikan kopi di Rancakalong baik produktivitasnya. Sumber daya manusia (SDM) pun bukan hanya di penanaman, namun hingga pengolahan pascapanen dan penyajian di meja kafe.

Shandra Silvia Nugraha (20), petani milenial Jabar memetik kopi di perkebunan milik Kelompok Tani Maju Mekar, di Desa Negarawangi, Rancakalong, Sumedang,  Kamis (17/6/2021).
Shandra Silvia Nugraha (20), petani milenial Jabar memetik kopi di perkebunan milik Kelompok Tani Maju Mekar, di Desa Negarawangi, Rancakalong, Sumedang, Kamis (17/6/2021). (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

"Semua ini diupayakan untuk meningkatkan nilai jual kopi. Kopi kalau dijual buah matangnya saja pasti murah. Berbeda dengan hasil olahan apalagi sajiannya, pasti nilainya bertambah," katanya.

Mula-mula, pengolahan kopi di Nagarawangi dilakukan sangat manual. Cherry ditumbuk, kemudian dijemur, jika sudah kering ditumbuk lagi untuk menghilangkan kulit tanduk dan kulit ari, kemudian dipanggang menggunakan wajan gerabah.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved