Wawan Ernawan, Sopir Angkot di Sumedang yang Banting Setir Jadi Pembuat Pesawat Aeromodelling

"Tipenya macam-macam. Ada tipe Cessna, Edge, J3 Piper Cub, Sukhoi SU-37, Flying Wing, F-22 Raptor, Mini Talon, dan Nano Talon"

Tribun Jabar/Kiki Andriana
Wawan Ernawan, sopir angkot di Sumedang yang ahli membuat pesawat aeromodeling 

PANDEMI Covid-19 membuat Wawan Ernawan (30) berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai sopir angkutan kota (angkot). Namun, karena itu pula, Wawan akhirnya menekuni bisnis baru, pembuatan pesawat aeromodelling. Keahlian yang ia pelajari hanya dari tayangan di YouTube.

SEJAK pandemi Covid-19 terjadi, penghasilan Wawan sebagai sopir angkot memang terus menurun. Ini membuat Wawan berpikir untuk mencari pemasukan baru. Pilihanya kemudian jatuh pada pesawat aeromodeling, sesuatu yang sejak lama memang selalu membuatnya tertarik.

"Sudah mulai mulai coba-coba membuat itu sejak satu tahun lalu. Saya mempelajarinya secara otodidak dari tayangan-tayangan YouTube," ujar Wawan saat ditemui di kediamannya, di Dusun Cibulakan, Desa Pasirbiru, Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Kamis (24/6).

Di dusunnya yang sunyi senyap itu itulah, kata Wawan, ia menduplikasi beragam model pesawat. Salah satunya, Sukhoi, buatan Rusia.

Wawan Ernawan menerbangkan pesawat aeromodeling buatannya di Sumedang
Wawan Ernawan menerbangkan pesawat aeromodeling buatannya di Sumedang (Tribun Jabar/Kiki Andriana)

Untuk pembuatan bodi pesawat, Wawan menggunakan bahan polyfoam. Bahan ini adalah lembaran foam plastik yang terbuat dari polystirene berkualitas tinggi. Permukaannya halus, putih dan bersih mengkilat.

Setelah dipola, lembaran bahan itu dipotong dan disambung-sambungkan menggunakan lem.  Untuk pesawat aeromodelling ini Wawan menggunakan polyfoam setebal lima milimeter atau tiga milimeter. "Proses pembuatannya memakan waktu dua sampai tiga hari. Namun, jika ada permintaan khusus dengan kerapian tertentu, pengerjaan bisa memakan waktu satu sampai dua minggu," kata Wawan.

Baca juga: Yusup, Pembuat Peti Jenazah di Sumedang, Kewalahan Layani Pesanan Terpaksa Tambah Karyawan

Dalam satu bulan, kata Wawan, ia bisa mengerjakan hingga 12 pesawat. Namun Karena di Sumedang belum ada komunitasnya, pemesanan kebanyakan dari luar pulau seperti Bangka Belitung, Palembang, Jawa Timur, dan paling dekat Bandung.

Sudah ratusan pesawat yang dibuat Wawan di ruang kerjanya yang hanya berukuran empat kali tiga meter.

"Tipenya macam-macam. Ada tipe Cessna Aircraft, Edge, J3 Piper Cub, Sukhoi SU-37, Flying Wing, F-22 Raptor, Mini Talon, dan Nano Talon, serta yang paling banyak diminati, pesawat electric slow flyer," kata Wawan. 

Baca juga: Maman Rustaman Bikin Miniatur Truk dan Bus dari Kayu yang Mirip Aslinya, Produknya Laris

Setiap jenis pesawat, ujar Wawan, memiliki tingkat kesulitan berbeda. "Beberapa memerlukan pengerjaan yang lebih detail. Pasti memakan waktu lebih lama."

Namun, khusus untuk mesin dan kit pesawat, Wawan mengaku tidak bisa memproduksinya sendiri. Wawan membelinya di pasar online. Ini pula, kata Wawan, yang kadang menjadi kendala karena keterlambatan pengiriman pesanan.

Meski demikian, kata Wawan, pembelian secara online juga memiliki beberapa keuntungan.

"Di pasar online selalu saja ada mesin-mesin bagus yang harganya murah."

Baca juga: Omzet Warung Sate Milik H Eet Sunarya Rp 20 Juta Sehari, Ia Selalu Menyediakan Daging Kambing Muda

Pesawat yang sudah jadi dan siap terbang atau sering disebut ARTF (aeromodeeling ready to fly) dijual Wawan dengan harga beraga,. Mulai dari Rp 250 ribu hingga jutaan rupiah.

"Usaha baru ini cukup untuk menghidupi keluarga," kata Wawan.

Wawan mengatakan, dengan usaha baru ini, ia bisa mendapatkan penghasilan bersih Rp 5 jutaan setiap bulannya. Padahal, ketika masih menjadi sopir angkot 58 jurusan Cimanglid-Ciakar, penghasilannya paling tinggi hanya Rp 4,5 jutaan sebulan.

Dibantu Sahabat

Meski keahlian membuat pesawat aeromodeling ini diperoleh Wawan secara otodidak, Wawan mengaku ada dua orang yang menurutnya sangat berjasa memperkenalkan pesawat aeromodelling ini kepadanya, yakni Taufik dan Ramdhan. Kedua sahabatnya itu bahkan ikut memberikan dukungan modal dan peralatan ketika Wawan pertama kali menggeluti aeromodelling. Modal awalnya saat itu sekitar Rp 2,5 juta.

Baca juga: Tekun Membuat Miniatur Kapal Laut dari Kayu, Toto Rizaldi Banjir Pesanan di Masa Pandemi

"Saya juga mendapatkan pengetahuan dari grup-grup yang saya ikuti di media sosial,  termasuk grup WhatsApp Komunitas Aeromodelling Indonesia atau KAI," kata Wawan yang sempat menjadi sopir angkot selama delapan tahunan ini.

Kini, ayah dua orang anak, Rahardian (10) dan Rahandika (5), itu sudah mandiri. Wawan bukan saja sudah mampu membeli bahan baku sendiri, tapi juga mengatur penjualan produknya sendiri pula. (tribun jabar/Kiki Andriana)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
355 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved