Ridwan Kamil Akui Sudah Tidak Ada untuk Bansos Covid-19, Berharap Herd Imunity Tercapai

"Masterpiece bagi saya bukan berarti paling mewah ya, karena masjid itu penuh puisi. Jadi kalau pujangga itu berpuisi dengan kata, arsitek itu berpuis

Editor: adityas annas azhari
Tribun Jabar
Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat wawancara dengan Tribun Jabar, Selasa (15/6/2021) 

ANGKA kasus Covid-19 di Jawa Barat dan Indonesia kembali bertambah setelah masa libur Lebaran tahun ini. Padahal selama Ramadan bahkan Hari Raya Idulfitrinya, kasus Covid-19 sempat menurun tajam. Tingkat kegawatan terlihat dengan terus naiknya keterisian ruang-ruang perawatan khusus Covid di semua rumah sakit di Jabar dalam dua pekan terakhir. Bahkan, pekan ini, tingkat keterisian itu sudah di atas 80 persen, bahkan ada yang sudah 100 persen.

Lantas bagaimanakah penanganan Covid-19 di Jabar dilakukan? Berikut petikan wawancara khusus Tribun Jabar dengan Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Pada pertengahan Juni tahun 2021 ini peningkatan kasus Covid-19 di Jabar kembali terjadi, apa upaya Pemprov Jabar untuk menanganinya?

Jawa Barat itu penduduknya 50 juta jiwa, terbanyak se-Indonesia. Jadi dari segi macam-macam harusnya kami ini yang paling rawan. Tetapi kan alhamdulillah tidak selalu nomor satu dan juga Covid-19 di Jawa Barat itu kebanyakan hanya di dua zona, yaitu Bodebek yang melingkari Jakarta dan di Ibukotanya di Bandung Raya. Di luar itu, naik-turunnya rendah.

Ridwan Kamil
Ridwan Kamil (TribunJabar)

Apa yang sebenarnya terjadi?

Jadi kesimpulannya setiap ada libur panjang, kasus pun naik. Betul, rumah sakit kami di libur Natal tahun baru itu sempat terisi di 80 persen, turun sampai saat Idulfitri itu 29 persen. Dua minggu dari salat Idulfitri, sekarang naik ke 78 persen. Jadi kesimpulannya ya memang datang dari libur panjang, di mana libur panjang ini terjadi pergerakan orang, yang memaksa mudik, terjadi orang yang tidak taat, tidak bisa menahan diri saling mengunjungi, ada macam-macam ada ziarah juga.

Bagaimanakah pola penyebaran Covid-19 di Jabar?

Kalau di Kudus itu klaster ziarah, kalau di Jawa Barat klaster keluarga. Makanya rekomendasi kita ke Presiden sebelum vaksin ini mencapai angka maksimal, saya mohon jangan ada libur lagi yang formal. Kalau mau libur sendiri-sendiri saja tapi jangan dalam satu waktu. Saya khawatir libur Iduladha ini kalau tidak ditangani dengan baik, rumah sakit kami yang kerepotan malah dihancurkan lagi oleh kasus tambahan di libur panjang itu.

Bagaimanakah efektivitas pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat mikro di Jabar?

PPKM Mikro luar biasa bagus pada saat kita 80 persen keterisian rumah sakit, tiba-tiba rekor terendah jadi 29 persen rumah sakitnya. Saya lebih suka ngomongin rumah sakit ya karena itu konkret. Kalau angka kasus itu sampai hari ini kasus Jabar itu masih tercampur dengan kasus lama.

Baca juga: Dedi Taufik Kurohman: Bangkitkan Pariwisata Jabar, Tekan Penyebaran Covid-19

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved