Jemari Shandra Lincah Memetik Kopi Boehoen Nagarawangi, Pemudi Itu Jalani Program Petani Milenial

"Sempat lama berdialog antarpetani, apa nama yang layak untuk kopi itu. Hingga muncullah nama si jagur, si jarang gugur"

Editor: adityas annas azhari
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Shandra Silvia Nugraha (20), petani milenial Jabar memetik kopi di perkebunan milik Kelompok Tani Maju Mekar, di Desa Negarawangi, Rancakalong, Sumedang, Kamis (17/6/2021). 

BUAH-buah kopi matang berwarna merah membuat mata jeli Shandra Silvia Nugraha (20) berbinar. Gelinding pandangannya disusul lincah jemari memetiki satu per satu dari ranggeuyan.

Sambil memegangi kantong plastik, tangan kiri Shandra menyingkap reranting pohon kopi berdaun rimbun. Siapa tahu ada kopi tersembunyi di baliknya.

Dengan perlahan dia memilih buah merah yang lumrah disebut cherry itu dengan kepitan jempol dan telunjuknya. Kutipan buah-buah itu lenyap ke balik genggamannya.

ilustrasi biji kopi
ilustrasi biji kopi (Tribun Jabar)

Kopi yang sudah memenuhi genggaman tangan kanannya, dia masukkan ke dalam plastik. Di kebun Bok Pasir Toge, Desa Negarawangi, Rancakalong, Kabupaten Sumedang itu, Shandra sedang praktik semua pelajaran tentang kopi.

"Mesti hati-hati, supaya tangkai buah tidak rusak sehingga merusak ritme produktivitas pohon," katanya, bergumam, menirukan perkataan pembimbingnya, Lilis, Ketua Kelompok Wanita Tani Tandjoeng, yang berdiri memperhatikannya.

Baca juga: Teh Mican Tidak Pernah Berpikir Dua Kali untuk Memulai Usaha, Dari Usaha Butik Kini Jualan Kopi

Sandra adalah gadis satu-satunya yang menjadi peserta pelatihan pengolahan pascapanen kopi di Racakalong, sebelas peserta lainnya adalah para pemuda yang semuanya berasal dari seluruh Jawa Barat.

Bimbingan itu dihelat Dinas Perkebunan Jawa Barat selama dua hari, Kamis hingga Jumat (17-18/6/2021), sebagai rangkaian program petani milenial yang digagas Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Baca juga: Toni Ellen: Petani Sejahtera, Bandung Hijau Kembali

Shandra sendiri adalah warga Kabupaten Subang, sementara yang terjauh dari lokasi bimbingan di markas Kelompok Tani Maju Mekar, Desa Nagarawangi, Rancakalong, adalah dua peserta dari Kabupaten Pangandaran.

Para petani milenial ini dibimbing oleh para expert yang telah lama berkecimpung di dunia pertanian, khususnya di penanaman dan pengolahan kopi. Mereka diajarkan menanam yang benar, merawat yang baik, memangkas yang logis, hingga panen yang berkualitas.

Baca juga: Kean Tanam dan Rawat talas Raksasa Selama 5 Tahun, Belum Berniat Menjual Meski Sudah Ditawar Orang

Hasil petikan masing-masing petani milenial dikumpulkan kemudian dibawa ke tempat pengolahan di Markas Kelompok Tani Maju Mekar. Tempat ini masyhur dengan sebutan Kopi Boehoen Nagarawangi.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved