Rhyma Permatasari Lakukan Bebersih Alam untuk Tenangkan Diri dan Bikin Program Pemberdayan Perempuan

"Aku akan fokus pada waktu juga karena kalau kerjanya tertekan justru memberikan hormon yang negatif pada tubuh"

TribunJabar/Putri Puspita
Rhyna Permatsari, pendiri Yayasan CAI 

MASA pandemi tidak hanya berdampak buruk. Kesadaran manusia untuk menjaga keindahan dan kesehatan alam justru tumbuh pada masa sulit ini. Semakin banyak orang menyadari bahwa alam dan kehidupan manusia saling berkesinambungan.

Pengalaman tersebut dirasakan seorang influencer, Rhyma Permatasari, satu di antara founder alias pendiri Yayasan Cinta Alam Indonesia (Cai). Saat bincang “Sukses Story” di kantor Tribun Jabar, Rhyma menceritakan proses ia membentuk yayasan yang diresmikan pada 25 April 2021.

Secara informal, sebenarnya, Yayasan Cai sudah setahun berjalan dan tumbuh untuk membenahi alam. Uniknya ketertarikan untuk membersihkan alam sekitar di daerah Ledeng, Kota Bandung, tersebut memang bermula karena munculnya pandemi Covid-19.

Rhyma Permatasari saat berkunjung ke Kantor Tribun Jabar, Jalan Sekelimus Utara, Kota Bandung
Rhyma Permatasari saat berkunjung ke Kantor Tribun Jabar, Jalan Sekelimus Utara, Kota Bandung (TribunJabar/Putri Puspita)

"Awalnya ya bukan karena aku. Kami di Yayasan Cai ada yang kena PHK (pemutusan hubungan kerja) akibat pandemi. Daripada pusing karena banyak teman dari segi ekonomi turun dan tingkat stres meningkat, kami beralih ke kegiatan bebersih alam di sana," ujarnya, Jumat (11/6/2021).

Menurutnya, “kembali ke alam” menjadi satu di antara cara untuk menenangkan diri ketika stres akibat pandemi virus korona.

Baca juga: Film Pulau Plastik Sebagai Peningatan untuk Meningkatkan kewaspadaan Terhadap Sampah Plastik

Karena itu, ia bersama teman-temannya memanfaatkan waktu luang untuk bersih-bersih di daerah Ledeng, Kota Bandung, hingga akhirnya menemukan curug (air terjun) yang berpotensi menjadi tempat wisata.

Bersama Yayasan Cai, perempuan kelahiran Bandung, 5 Februari 1994, tersebut juga membuka jalur hiking. Selama masa pandemi, ucapnya, semakin banyak orang senang berolahraga hiking, menelusuri daerah yang belum banyak terjamah.

"Di Yayasan Cai ini adem banget, bisa denger gemericik air dan apa yang kami lakukan ini bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar," ujar Rhyma.

Baca juga: KSM Al Falah Garut Ubah Sampah Menjadi Abu untuk Dibuat Paving Block, Berharap Ada Mesin Pencacah

Selain bebersih sebagai kegiatan harian, Yayasan Cai sering menanam untuk menjaga kelestarian alam dalam jangka panjang. Para generasi muda di Yayasan Cai juga diperkenalkan pada budaya, satu di antaranya pencak silat.

Rhyma mengakui tak mudah membangun sebuah gerakan perubahan memang karena tidak semua orang siap akan perubahan yang terjadi.

Rhyma Permatasari
Rhyma Permatasari (TribunJabar/Putri Puspita)

"Tantangan yang aku rasain adalah banyak orang yang mikir ‘ngapain sih di situ terus?’ Hal ini terjadi karena mereka belum lihat dampak dalam jangka panjang. Jadi memang harus pendekatan terus sama warga sekitar," katanya.

Rhyma dan kawan-kawan pun harus terus menjelaskan bahwa pekerjaan mereka bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan, tentunya, bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut.

Baca juga: Gea: Menangis Tak Membuat Masalah Hilang, Perempuan Tetap Harus Meraih Mimpi

Ia juga tak lelah mengajak orang-orang masuk Yayasan Cai dan membuat sebuah program women empowerment alias pemberdayaan perempuan.

Ia membuka kesempatan bagi para perempuan lainnya yang mencintai alam dan ingin ikut menjaga alam untuk bergabung bersamanya.

Selalu Filter Konten untuk Media Sosial

Aktivitas di media sosial meningkat di masa pandemi Covid-19. Melalui media sosial, banyak influencer membagikan berbagai konten mulai dari makanan, wisata, hingga konten lain yang edukatif.

Rhyma Permatasari juga termasuk influencer yang makin aktif di media sosial. Kini, perempuan berusia 25 tahun itu memiliki 57 ribu pengikut di Instagram.

Baca juga: Yanti Lidiati Rela Habiskan Waktu dan Tenaga untuk Berdayakan Perempuan di Desa Lampegan, Bandung

Ia mengaku termasuk orang yang berhati-hati untuk mengunggah konten ke media sosial karena mempertimbangkan dampak dari unggahannya ke media sosial. Rhyma menyadari siapa pun bisa mengakses media sosial, tapi tak semua tayangan konten cukup mendidik.

Ia selalu berusaha untuk agar konten-konten yang ia unggah ke media sosial berdampak positif bagi banyak orang, terutama generasi masa kini.

Baca juga: Perempuan Bisa Mandiri dengan Memulai Usaha

"Sebelum posting, lihat dulu dampak positif dan negatifnya. Misalnya, kalau aku memberikan hal negatif, akan menjadi dosa jariyah buat aku. Sebaliknya, kalau aku menyebarkan informasi positif maka akan jadi amal jariyah," ujarnya saat berkunjung ke studio Tribun Jabar, Jumat (11/6).

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved