Yanti Lidiati Rela Habiskan Waktu dan Tenaga untuk Berdayakan Perempuan di Desa Lampegan, Bandung

Saya tak punya pegawai, siapa saja yang ingin mengerjakannya dan bisa dipersilakan. Saya tak akan membatasinya, sebanyak-banyaknya saja

Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin
Yanti Lidiati 

YANTI Lidiati (54), seorang sosok perempuan yang rela menghabiskan waktu, tenaga,  dan hartanya untuk memberdayakan perempuan dan anak di desa.

Di rumah nomor 177 di Jalan Oma Anggawisastra, Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, terdapat taman dan saung yang kerap digunakan untuk kegiatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak jalanan.

Tak hanya itu ibu- ibu di daerah tersebut juga, ia latih untuk bisa produktif, sehingga bisa membuat produk yang bisa menjadi penghasilan bagi mereka.

Yanti Lidiati
Yanti Lidiati (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

Mulai dari makanan ringan hingga suvenir. Bahkan salah satu terobosan hasil karyanya, Yanti, menyulap sarung menjadi pakaian atau blazer yang kekinian hingga menarik untuk digunakan.

Sehingga kini peminatnya sudah dari berbagai daerah di Indonesia. Tentu pembuatan blazer atau pakaian tersebut juga melibatkan masyarakat.

Para penjahit atau pembuat blazer tersebut merupakan warga sekitar. Tentu hal tersebut bisa memberi atau membuka pekerjaan bagi warga sekitar. 

Baca juga: Lely Uliyah, Ibu yang Menjadi Kades Majasari di Indramayu Setelah Mengalahkan Anaknya Sendiri

Tak hanya itu, bahkan produk rumahan dari warga sekitar juga ditampung oleh Yanti, yang nantinya ia pasarkan olehnya melalui relasinya, mulai secara online hingga mengikuti pameren.

Yanti, mengaku, untuk pembuat pakaian atau penjahit, blazer cantik yang ia desain itu pegawainya tak akan ditentukan.

"Saya tak punya pegawai, siapa saja yang ingin mengerjakannya dan bisa dipersilakan. Saya tak akan membatasinya, sebanyak-banyaknya saja," kata Yanti, saat ditemui, di rumahnya Kamis (10/6/2021).

Baca juga: Kenny Dewi: Ibu Adalah Guru Pertama bagi Anak

Yanti mengatakan, untuk blazer yang ia buat itu tak dipasang harga pasti.

"Harganya tergantung siapa yang beli, jadi jika ada orang yang membayarnya sgitu berarti ia menghargai karya saya segitu. Untuk penetapan banderol paling jika saat mengikuti pameran saja, harganya mulai Rp 200 ribu," katanya.

Sedangkan untuk hasil produksi warga selain dari blazer, seperti makanan ringan dan lainnya, ia tampung dan membelinya dari warga.

Baca juga: Inilah Tia, Sosok Kartini Modern, Ibu Rumah Tangga yang Juga Machine Learning Curriculum Developer

"Pertama saya tampung, beli dari warga yang membuat, saya sebar aja bagikan. Nanti kalau ada yang nyangkut (memesan lagi) saya langsung hubungkan pembeli dan pembuatnya itu," kata dia.

Tak hanya kegiatan tersebut yang dilakukannya, ia juga menampung atau menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang menjadi korban kekerasan orang tua.

Yanti Lidiati, warga Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung
Yanti Lidiati, warga Desa Lampegan, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung (Tribun Jabar/Lutfi Ahmad Mauludin)

"Jadi di rumah saya ini siapa saja boleh masuk, siapa saja boleh makan. Toh selama ini alhamdulillah saya juga belum pernah kekurangan makanan," tuturnya.

Bahkan kini Yanti telah mendapat berbagai penghargaan mulai dari pemerintah provinsi Jawa Barat, hingga kementerian, yang terakhir  mendapatkan penghargaan sebagai perempuan Inisiatif Indonesia dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlinduangan anak tahun 2020. (tribunjabar/lutfi ahmad mauludin)

 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved