Asep Nurdindi: Kekhawatiran Perajin Tahu dan Tempe Bukan Kenaikan Harga Kedelai

karena yang terjadi saat ini 90 persen kedelai yang ada di kita itu masih impor.

Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Ketua Puskopti Jabar, Asep Nurdindi 

SEMPAT mogok akibat terus melambungnya harga bahan baku kedelai, para produsen tahu dan tempe akhirnya kembali berproduksi. Agar bisa bertahan, mereka mengecilkan jumlah ukuran. Ada juga yang terpaksa mengurangi produksi karena tak sanggup membeli kedelai dalam jumlah biasa.

Dampaknya tentu berantai. Bukan saja pada pengurangan omzet, tapi juga pada serangkaian langkah efisiensi lainnya, termasuk pengurangan jumlah tenaga kerja. Lantas, bagaimana kondisi para perajin tahu dan tempe itu hari-hari ini?

Benarkah kenaikan harga kedelai sebenarnya bukanlah sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh para perajin tahu dan tempe? Lalu, apa yang sebenarnya mereka khawatirkan?

Berikut wawancara eksklusif jurnalis Tribun Jabar, Cipta Permana, dengan Ketua Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) Jawa Barat, Asep Nurdindi, di Kantor Puskopti Jabar, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 651, Kota Bandung, Rabu (3/6).

Ketua Puskopti Jabar, Asep Nurdindi
Ketua Puskopti Jabar, Asep Nurdindi (Tribun Jabar/Gani Kurniawan)

BANYAK yang belum mengetahui apa itu Puskopti dan apa kiprahnya selama ini. Bisa Anda jelaskan?

Selain ada di tingkat provinsi, Puskopti juga ada di kabupaten/kota. Di tingkat pusat namanya Gakoptindo atau Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia. Saat ini Puskopti Jabar telah membawahi 26 Puskopti di setiap kabupaten/kota, kecuali Kabupaten Pangandaran yang belum ada. Jumlah anggota yang aktif sebanyak 7.400 dari total lebih dari 10 ribu perajin tahu dan tempe di Jabar.

Pascamogok produksi pekan lalu, bagaimana kondisi para perajin tahu dan tempe hari-hari ini?

Aksi mogok produksi para perajin tahu tempe kemarin itu sebenarnya adalah pengumuman (dari para perajin tahu) bahwa akan terjadi penyesuaian harga jual tahu dan tempe maksimal 30 persen dari harga normal.

Kenaikan terpaksa mereka lakukan karena adanya kenaikan harga kedelai yang diimpor dari Amerika Serikat, yang dipicu adanya permintaan kedelai yang luar biasa dari Cina. Lantas, bagaimana dengan kondisi stok kedelai saat ini di Tanah Air? Kondisinya sebenarnya aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.

Baca juga: Perajin Tahu Cibuntu Bandung Bertahan Berkat Resep Leluhur, Para Perajin Bergabung Dalam Koperasi

Para perajin berencana menaikkan harga jual hingga 30 persen. Bagaimana realisasinya?

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved