Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Sudah Berupaya Maksimal untuk Cegah Mudik

"Ketika Sumedang tidak masuk aglomerasi, justru kami bersyukur karena bisa lebih ketat lagi, lebih fokus"

Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Dony Ahmad Munir, Bupati Sumedang 

PERAYAAN Idulfitri 1442 Hijriah di tengah pandemi Covid-19 tentu berbeda dengan kondisi normal. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pemkab Sumedang, terutama dalam penerapan protokol kesehatan.

Pemkab Sumedang harus memastikan protokol kesehatan benar-benar diterapkan oleh warga, khususnya saat Salat Idulfitri dan sesudahnya, terutama terkait kebiasaan warga untuk berwisata.

Bagaimana Pemkab Sumedang menjalankan itu semua dan bagaimana mewujudkan visi misi Kabupaten Sumedang, Wartawan Tribun Jabar Hilman Kamaludin berkesempatan mewawancarai Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir secara ekslusif di ruang kerjanya di Gedung Negara Sumedang, pekan lalu.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Menurut Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir untuk menentukan setiap kebijakan dalam perayaan Idulfitri pihaknya tetap mengikuti kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemprov Jabar. "Ada pedoman yang berkaitan dengan Idulfitri, ditambah lokalitas dan kreativitas di Kabupaten Sumedang," kata Dony.

Hal pertama yang berkaitan dengan Idulfitri, kata Dony, pihaknya mengikuti kebijakan pemerintah pusat soal larangan mudik dengan penyekatan di 12 titik Kabupaten Sumedang. Setiap pos dijaga 15 hingga 30 petugas yang dibagi tiga shift. Untuk mendukung itu digelontorkan dana APBD Kabupaten Sumedang.

"Kami penuhi dengan APBD, bagaimana agar 12 titik termasuk jalan-jalan tikusnya kita tutup supaya pemudik tidak masuk ke Sumedang," kata Dony.

Juga terus memperkuat patroli kewilayahan merazia warga yang tidak patuh protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker, membubarkan kerumunan, hingga penutupan tempat usaha. Menurutnya, patroli kewilayahan dilaksanakan di tiga titik yakni bagian barat, tengah dan timur, seperti di Kecamatan Jatinangor, depan Mal Pelayanan Publik (MPP), dan di Kecamatan Tomo.

Baca juga: Di Tengah Pandemi, Siswa SMKN 1 Sumedang Memproduksi Lampu LED, Memasok ke Kalimantan

"Kemudian yang ketiga ada patroli kewilayahan di tiap kecamatan. Jadi, Pak Camat berkeliling bersama Forkopimcam berbicara untuk memastikan warga di kecamatan itu mematuhi protokol kesehatan," ujarnya.

Selain itu, kata Dony, operasi yustisi juga dilaksanakan di setiap desa sekaligus mendata warga yang lolos mudik, jika ditemukan dia harus menjalani isolasi mandiri selama lima hari.

“Berkaitan dengan mudik, kami betul-betul melakukan upaya penyekatan secara maksimal. Di samping penyekatan di dalamnya pun harus disiplin, ngapain disekat tapi di dalamnya tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan. Makanya kami lakukan penyekatan, razia, dan sosialisasi penerapan protokol kesehatan," ujarnya.

Adapun soal Salat Idulfitri, kata Dony, pihaknya telah mengizinkan digelar di setiap kecamatan yang masuk zona hijau dan kuning, tetapi harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan diimbau di tempat terbuka. Selain itu panitia juga harus membuat surat ke Satgas Covid-19 untuk memastikan ada penanggungjawabnya sehingga protokol kesehatan benar-benar dijalankan dengan baik.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

"Jadi dia (panitia) membuat tanda tangan di atas materai yang ditujukan ke Satgas Covid-19 kabupaten untuk minta izin. Diizinkan tapi harus memenuhi persyaratan dan ada penanggungjawab yang mengarahkan, mengawasi, bahwa Salat Ied harus sesuai dengan prokes," ujar Dony.

Mengenai Kabupaten Sumedang tidak masuk aglomerasi Bandung Raya, Dony bersyukur. Sebab, warga dari daerah tersebut tidak bisa masuk ke daerah Kabupaten Sumedang saat larangan mudik diberlakukan.

"Kalau masuk aglomerasi agak sulit juga dalam penyekatan dan pengaturan. Ketika Sumedang tidak masuk aglomerasi, justru kami bersyukur karena bisa lebih ketat lagi, lebih fokus untuk menjaga Kabupaten Sumedang dari para pemudik yang masuk aglomerasi. Jadi, kami bisa fokus, tegas, dan jelas untuk menghadang para pemudik," katanya.

Adapun soal tempat wisata, kata Dony, jika tetap dibuka harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, termasuk pembatasan jumlah pengunjung.

Baca juga: Acep Purnama: Jangan Main-main dengan Covid-19, Refocusing Anggaran untuk Pengadaan Vaksin

"Jadi kalau kapasitasnya 100 orang, maksimal harus 50 orang yang boleh masuk dan itu pengelola wisata harus bertanggungjawab memastikan itu. Sudah dilakukan monitoring oleh Disparbudpora untuk memastikan mereka sudah divaksin, kemudian siap dengan protokol kesehatannya dan siap diberikan sanksi kalau ternyata melanggar protokol kesehatan," katanya.*

Begini Teknis Belajar Tatap Muka

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyampaikan kondisi terkini terkait penyebaran dan penanganan Covid-19 di Kabupaten Sumedang, setelah satu tahun lebih pandemi tak kunjung berakhir.

Menurut Dony, untuk saat ini penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sumedang masih terkendali. Hingga Senin (10/5), jumlah akumulasi pasien positif harian ada 74 orang.

"Total sejak ada Covid-19 sampai sekarang, pasien positif ada 3.854 orang, yang meninggal 104 orang dan yang terkonfirmasi aktif sampai hari ini ada 74 orang lagi," ujarnya

Pemudik tiba di Sumedang, Rabu (5/5/2021), sehari sebelum larangan mudik diberlakukan
Pemudik tiba di Sumedang, Rabu (5/5/2021), sehari sebelum larangan mudik diberlakukan (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved