Potensi Kekuatan Gempa di Sesar Lembang Antara Magnitudo 6,5 Hingga 7,2 Masyarakat Harus Waspada

Dalam rumus gempa, semakin besar magnitude yang akan dihasilkan, maka kejadiannya semakin jarang, begitu pula sebaliknya.

Tribun Jabar/Cipta Permana
Dr Irwan Meilano 

SEJUMLAH kegempaan di wilayah Jawa Barat mulai dikaitkan dengan keberadaan sesar atau patahan Lembang. Patahan ini membentang sejauh 29 kilometer,  memanjang dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat hingga Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Selama periode Mei 2010 hingga Desember 2011, terdeteksi setidaknya sembilan kali gempa di patahan Lembang.  Para ahli sepakat, patahan ini aktif dan berpotensi memicu gempa-gempa lainnya, termasuk potensi gempa dahsyat seperti digambarkan Prof Sri Widyantoro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam penelitiannya tempo hari.

Lantas apa yang terjadi jika Jawa Barat benar-benar diguncang gempa dengan magnitudo 8,7?

Berikut petikan wawancara eksklusif jurnalis Tribun Jabar, Cipta Permana, dengan Ketua Pusat Unggulan IPTEK (PUI), Sains, dan Teknologi Kegempaan, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB, Dr Irwan Meilano.

Pakar gempa dari ITB, Dr Irwan Meilano
Pakar gempa dari ITB, Dr Irwan Meilano (TribunJabar)

Setiap gempa yang terjadi di wilayah Jawa Barat, selalu dikaitkan masyarakat dengan  aktifnya sesar Lembang, bagaimana sebenarnya kondisi sesar Lembang itu?

Sesar Lembang itu adalah salah satu dari lima sesar aktif potensi sumber gempa yang ada di wilayah Jawa Barat, selain sesar Cimandiri, sesar Cipamingpis, sesar Garsela, dan sesar Baribis. Riset tentang sesar Lembang itu telah ada cukup lama, salah satunya di publikasikan oleh Prof Cia sekitar tahun 1968.

Dalam paper-nya dijelaskan dengan sangat baik, bagaimana proses terbentuknya Gunung Api Sunda Purba, yang kemudian berkembang menjadi sebuah sesar aktif dengan memiliki pola geser mendatar mengiri dan pola turun dengan perbandingan 2:1. Menariknya setelah paper Prof  Cia publish, kami tidak menemukan adanya literatur lain selengkap yang dibuat beliau. Inilah yang menurut saya menjadi penyebab banyak sekali pertanyaan dan ketidakyakinan bahwa sesar Lembang adalah sebuah sesar aktif. Publikasi detail mengenai sesar Lembang baru terbit kembali pada tahun 2000-an, yang ditulis oleh Dr Mudrik Daryono dari LIPI pada tahun 2019.

Baca juga: Desa Kecil di Ujung Selatan Kota Nanas Ini Produsen Arang Kayu Penambah Devisa Negara

Bagaimana dengan hasil penelitian dari peneliti lain terkait sesar Lembang? Akankah menjadi sebuah pertanyaan yang tidak terjawab kondisinya?

Para peneliti hingga kini terus mencoba menggali berbagai informasi potensi terkait kondisi dari kondisi Sesar Lembang dan empat sesar aktif lainnya di Jawa Barat. Seperti peneliti dari LIPI, Pak Mudrik Rahmawan Daryono berhasil menggali bahwa pada 500 tahun lalu pernah terjadinya sebuah gempa besar di jalur Sesar Lembang dan menemukan adanya beberapa offset atau pergeseran dipermukaan juga di bagian bawah permukaan, dengan penggalian kondisi tanah di jalur Sesar Lembang juga pengambilan foto dengan lidar, bahkan foto itu menjadi Lidar terbaik yang pernah ada di Indonesia menjadi bukti bahwa pernah terjadinya gempa besar di masa lalu.

Sehingga penelitiannya dapat melengkapi apa yang dilakukan oleh Prof. Cia puluhan tahun lalu, dengan data terbarukan.

Baca juga: Maya Nabila Mahasiswi Program Doktor Termuda di ITB, Ingin Dirikan Sekolah Bagi Orang Kurang Mampu

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved