Cendol Elizabeth, Minuman Legendaris Asal Bandung yang Bertahan Hingga 49 Tahun

"Untuk Ramadan tahun ini, dalam dua minggu awal penjualan Cendol Elizabeth meningkat sekitar 25 persen dibanding tahun lalu"

Tribun Jabar/Kemal Setia Permana
Gerai utama Es Cendol Elizabeth di Jalan Inhoftank No 64, Bandung 

BANDUNG banyak menyimpan kuliner yang bertahan berpuluh-puluh tahun. Kulinernya beragam mulai dari roti hingga minuman. Untuk minuman, ada Cendol Elizabeth yang bisa bertahan 49 tahun.

Cendol Elizabeth mulai dijajakan Rohman pada 1972. Saat itu, dia berjualan menggunakan roda dan mangkal di depan toko tas Elizabeth di Jalan Oto Iskandardinata.

Kini, Cendol Elizabeth tidak asing lagi di Kota Bandung. Bukan hanya terkenal di Kota Bandung, Es Cendol Elizabeth sudah melegenda dan terkenal seantero Nusantara bahkan hingga mancanegara.

Pembeli antre membeli es cendol Elizabeth di gerai Jalan Inhoftank 64 Bandung
Pembeli antre membeli es cendol Elizabeth di gerai Jalan Inhoftank 64 Bandung (Tribun Jabar/Kemal Setia Permana)

Pada Ramadan, Es Cendol Elizabeth menjadi kuliner buruan  warga Kota Bandung dan sekitarnya. Rasanya yang menyegarkan membuat minuman ini menjadi pilihan saat iftar.

Menurut pengelola Es Cendol Elizabeth, Nur Hidayah, penjualan cendol Elizabeth biasanya selalu meningkat setiap Ramadan. Kecuali, katanya,  Ramadan tahun lalu karena ada pemberlakuan lockdown di mana-mana. Menurutnya, penjualan cendol relatif berjalan melambat.

Baca juga: Rony Lukito Dirikan Eiger Saat Lulus STM di Usia 17 Tahun, Kini Punya 250 Toko di Indonesia

"Untuk Ramadan tahun ini, dalam dua minggu awal penjualan Cendol Elizabeth meningkat sekitar 25 persen dibanding tahun lalu," tutur Nur saat ditemui Tribun Jabar di gerai cendol Elizabeth Jalan Inhoftank No 64, Kota Bandung.

Jika dibanding dengan hari biasa, kata Nur, lonjakan penjualan cendol Elizabeth mencapai kurang lebih hingga sepuluh kali lipat. Menurutnya, euforia masyarakat dalam menyambut Ramadan tahun ini yang relatif lebih longgar dibanding tahun lalu menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya lonjakan penjualan. 

Baca juga: Bisnis Jasa Titip Sepi Selama Pandemi, Zara El Maulida Sukses Jadi Pengusaha Camilan Buah Kering

Karena terjadi lonjakan penjualan ini, menurut Nur, pihak pengelola pun seperti biasa selalu menambah jumlah pegawai dibanding waktu normal. Penambahan pegawai, biasanya mencapai berlipat-lipat.

Sebelum pandemi, saat Ramadan penambahan pegawai bisa mencapai hampir 100 orang. Namun, sekarang, jumlah pegawai yang ditambah berkisar 30-60 orang dengan jam operasional mulai pukul 07.00 hingga 17.00.

"Kadang kalau ramai sekali bisa hingga pukul 18.00," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved