Sejak Pandemi Eet Bisa Tidur Normal, Pernah Grogi Sekaligus Bangga Saat Ditawari Masuk God Bless

Kegiatan ke luar, nge-band virtual. Dengan sendirinya terbatas. Kalau mau beli perangkat musik ke toko musik harus hati-hati

Tribunnews/Irwan Rismawan
Eet Sjahranie, gitaris grup Edane 

MUSIK rock pernah berjaya, juga pernah mengalami masa surut. Begitu pula perjalanan gitaris band EdanE, yang juga mantan personel God Bless, Eet Sjahranie (59). Kamis (25/2) lalu, ia bertandang

ke kantor Tribun Network di Palmerah, Jakarta.  Panjang lebar, ia bercerita tentang perjalanan kariernya di blantika music cadas selama empat decade, sejak 1980-an.

Siapa sangka, pemilik nama lengkap Zahedi Riza Sjahranie ini belajar gitar secara autodidak. Tak juga banyak yang tahu, karier professional pertamanya ternyata dengan Fariz RM.

Ia juga bercerita banyak tentang bagaimana awalnya bergabung dengan God Bless hingga memutuskan keluar dan membentuk EdanE.

Sayangnya pandemi Covid-19 mengubah setiap aspek kehidupan termasuk dunia musik. Konser tatap muka diminimalisir. Praktis membuat kantong musisi menjerit.

Eet Sjahranie
Eet Sjahranie (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Gitaris EdanE Eet Sjahranie merasa berubah. Kebiasaan baru sehari-harinya sebagai musisi kini tak lagi sama seperti sebelum pandemi Covid-19. Pria yang aktif bermusik sejak kecil ini merasa mengalami kesulitan.

"Karena tidak bisa show dan lain-lain," ujar Eet saat wawancara dengan Direktur Tribun Network, Febby Mahendra Putra, belum lama ini.

Yang membuat miris adalah, ketika lagu-lagu yang dibuat EdanE tersebar luas di sosial media, tapi band legendaris itu tak mendapatkan royalti selayaknya sebagai pencipta lagu.

Jika ditelusuri, lagu-lagu EdanE digunakan di beberapa sosial media, bahkan dipotong sesuka hati. Eet tetap rendah hati. Ia tak mempersoalkan, misal ada yang meng-cover lagu mereka, asalkan pengguna lagu EdanE mencantumkan nama EdanE ditayangan tersebut.

"Selama karya itu masih menyinggung me-mention nama kami. Itu minimal apresiasi bagi saya," ujar pria berusia 59 tahun tersebut.

Di mata Eet penting bagi seorang musisi untuk mengurusi atau memperhatikan keberlangsungan suatu karya.

"Yang mana itu bisa dinikmati tidak hanya dari segi hiburannya tapi juga dari segi materinya," ucapnya.

Bagaimana awalnya Anda bisa terjun ke musik?

Mungkin berawal dari pengalaman waktu SD.  Saya ingat banget dapat kesempatan punya tape dari abang., yang saya pakai untuk memutar kaset apapun. Lagu Indonesia, lagu Barat. Terus pulang sekolah, sok-sokan nge-band walaupun tidak bisa main band.

Singkat cerita, ketika saya bisa main gitar, saya perdalam sendiri sambil belajar dari teman-teman. Akhirnya kebawa terus. Waktu itu masih tinggal di Samarinda, Kalimantan.

Eet Sjahranie, gitaris grup Edane
Eet Sjahranie, gitaris grup Edane (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Kapan Anda menginjak profesional?

Tepatnya 1987. Saya pertama kali rekaman dengan Fariz RM itu grup namanya Jakarta Rhythm Section. Tapi itu proyek punyanya Fariz RM. Saya mengisi pertama kali lagu judulnya “Selamat Untukmu”. Itu di Jakarta, sudah pindah dari Samarinda. Waktu itu sudah lulus SMA 1982.

Semenjak dari situ, dengan Ekki Soekarno, kemudian dengan Iwan Madjid. Terus akhirnya lumayan sering di dunia rekaman. Proyek Ekki Soekarno itu melibatkan banyak vokalis.

Jadi dia ada dua album solo, Kharisma Indonesia. Satu album ini melibatkan 9-10 vokalis. Ada Ikang Fawzi dan lain-lain. Itu gitarnya saya semua. Jadi kesannya saya main di mana-mana. Padahal cuma album itu.

Tapi di sisi lain, karena itu nama saya dikenal di dunia rekaman. Nah, dari situlah mungkin abang-abang di God Bless, dalam hal ini Mas Jockie Surjoprajogo, lumayan notice. Bang Teddy Sujaya yang waktu itu mengajak saya membantu proyek-proyek mereka.

Kapan Anda bermain untuk God Bless?

Tahun 1989 setelah saya membantu Mas Jockie dan Bang Teddy. Mas Jockie coba menawarkan saya untuk posisi itu. Namun, yang saya tidak tahu ceritanya, ternyata saat itu Mas Ian Antono sudah keluar. Posisi itu ditawarkan ke saya. Dengan segala pertimbangan akhirnya saya terima.

Di satu sisi saya juga grogi, tapi di sisi lain senang dan bangga juga. Cuma tidak berani mengiyakan secara langsung. Setelah dipikir-pikir akhirnya ya sudah saya gabung. Saya dari 1989-1990 kegiatannya. Tapi officially dari 1989 sampai 2001. Bahkan Mas Ian 1997 sempat balik dan akhirnya ada dua gitaris. Mengeluarkan album Apa Kabar.

Nah itu gitarisnya berdua saya dan Mas Ian. Di 2001 saya harus memutuskan karena pihak Sony meminta saya untuk eksklusif ada di mereka atau tidak. Waktu itu kan saya terikat dengan God Bless, Log Zhelebour. Saya harus memutuskan. Akhirnya memutuskan EdanE. Jadi saya resign dari God Bless.

Anda keluarga pejabat, apakah keluarga mendukung musik untuk jalan hidup?

Mereka secara langsung tidak menyatakan support tapi tidak menghalangi. Tidak ada kendala di situ.

Bagaimana Anda belajar gitar?

Autodidak. Jadi belajar sama teman-teman kemudian saya belajar sendiri. Dari abang juga, melihat dia main saya nyontohin. Dari situ berdasarkan kuping saja. Kalau skill sih mungkin tidak. Tapi saya tidak tahu mungkin karena orang saat itu lagi getol-getolnya. Zaman itu kita tidak pernah melihat langsung seperti sekarang lihat YouTube bisa langsung.

Jadi semuanya by ear. Langsung kalau dulu murni telinga. Ini mainnya gimana sih. Latihan, kita sering main, dengan sendirinya terlatih. Karena kita tidak pernah melihat secara mata, ya tersandung-sandung ha-ha.

Baca juga: Pertama Kali Bikin Gitar dari Kayu Bekas Pintu Rumah, Kini Gitar Buatan Meeng Banyak Dipesan Musisi

Sempat mengalami pasang surut?

Berkaitan dengan album tadi. Jadi di perjalanannya EdanE di 1992 sampai akhirnya kita selesai di 1999 dengan Aquarius. Faktanya penjualan album kita grafiknya menurun versi label. Dengan kata lain, saya disitu justru down-nya. Dalam artian bukan karena turunnya, tapi pada akhirnya harus berbuat apa.

Label sudah menyerahkan kesempatan kita ke tempat lain. Jadi sudah tidak mau nih, saya harus nyari tempat baru. Di situ perjuangannya, di situ titik baliknya. Di mana saat itu juga saya baru berkeluarga. Segala sesuatunya harus saya handle semua ini.

Mungkin di situ sebenarnya kekuatan yang muncul di tahun 2001 dengan album EdanE 170 Volts. Kebetulan hits lumayan ramai. Saya tidak pernah mikirin puncaknya, tinggal tergantung dari sudut pandang mana.

Jadi ada dua versi, kalau bicara versi 1990-an. Album pertama dan kedua lumayan mendapat respons. Tapi justru tahun 2001 album 170 Volts yang membuat EdanE bisa dikenal lebih luas lagi.

Karena memang beberapa hal mungkin kita dianggap berkompromi dengan pasar. Di sisi yang lain kita menawarkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada, yaitu tampil dengan lebih heavy, lebih metal.

Eet Sjahranie bersama Direktur Tribun Network Febby Mahendra Putra (kiri)
Eet Sjahranie bersama Direktur Tribun Network Febby Mahendra Putra (kiri) (Tribunnews/Irwan Rismawan)

Siapa idola Anda?

Van Halen, kemudian Angus Young. Van Halen dengan gitarnya. Kalau Angus Young itu dengan stage act-nya. Kalau misalnya Dimebag di tahun 1990an, lebih pada Hardness dan Heavyness. Yngwie suka, cuma tidak bisa kayak gitu ha-ha. (Jimi) Hendrix secara tidak langsung iya, karena itu lebih era ke abang saya.

Kalau musisi dalam negeri siapa idola Anda?

Sudah jelas Mas Ian Antono. Almarhum Oding Nasution, almarhum Albert Warnerin, lalu Soenatha Tanjung. Itu gitaris-gitaris lawas yang saya idolakan dulunya.

Bagaimana pandemi mengubah keseharian Anda?

Ada jelas. Di luar dari memang saya mengalami kesulitan karena tidak bisa show dan lain-lain. Tapi ada hikmah juga latihan gitar jadi lebih banyak he-he.

Sudah melakukan kegiatan di luar?

Sudah. Tapi dengan kondisi yang terbatas. Artinya kalau pun kita ngeband itu sifatnya virtual. Tidak lagi yang dalam artian di depan khalayak ramai. Aktivitas bermusik secara virtual.

Baca juga: Gitar Buatan Hassan Nurudin Laris di Kalangan Musisi, Diminati Korea, Pernah Bikin Gitar Raksasa

Apa yang berbeda ketika tampil secara virtual?

Jelas. Karena kalau kami di depan penonton rasa semangatnya lebih dapat. Orang langsung mendengarkan, orang langsung melihat aksi kami, kami juga melihat reaksi mereka. Itu menimbulkan energi sendiri untuk kami. Kalau virtual kan cuma ngebayangin.

Anda mau divaksin?

Nah ini. Saya sempat mikir. Tidak tahu ya, saya terus terang informasi mengenai vaksin ini, tapi kalau memang harus divaksin, ya, mau tidak mau karena itu buat kita juga. Tapi jujur masih ragu karena memang tidak tahu info banyak. Di daerah saya tidak pernah ada sosialisasi seperti itu. Ya semoga saja itu memang bisa.

Pernah tidak bayangin konser normal dan pandemi?

Itu tuh. Banyak sih sekarang-sekarang ini, misalnya ya yang penontonnya dari dalam mobil, ada yang main di dalam bola masing-masing orangnya. Ya apapun yang bisa dilakuin ya. Karena kan pada dasarnya kami tampil itu real, tidak ada hal-hal kayak gitu. Harus pakai tirai mungkin.

Dalam masa pandemi ini kehidupan yang berubah?

Kegiatan ke luar, nge-band virtual. Dengan sendirinya terbatas. Kalau mau beli perangkat musik ke toko musik harus hati-hati karena tidak semua buka. Kalau latihan tidak terlalu karena kan private. Setelah selesai, ke luar pakai masker. Studionya ya disinfektan. Ya pasti berubah.

Sekarang alhamdulillahnya bisa tidur lebih normal. Kalau sebelum-sebelumnya relatif tidak terlalu normal. Bisa kadang abis subuh, kadang jam 3 pagi. Kalau sekarang jam 10, jam 11, sudah tidur. Kalau saya kebiasaan pakai bawang putih dan madu. Itu kebiasaan dari dulu. Bawang putih mentah dan diminum madu. Untuk melancarkan sirkulasi darah. Dan itu kan antibiotik jatuhnya. Rata-rata keluarga begitu juga.

Baca juga: Dede Komarudin Bikin Alat Musik dari Limbah, Sebelum Pandemi Omzetnya Rp 20 Juta Per Bulan

Ekonomi rumah tangga Anda berubah saat pandemi?

Pasti berubah. Cuma ya Alhamdulillahnya so far ada saja.

Anda endorse produk tertentu?

Gitar. Di awal kesepakatan saya membawa gitar itu kalau saya perform. Katakanlah misal tampil pameran gitar. Saya pakai gitar itu secara rekaman dan live. Paling endorse kaus merchandise EdanE sendiri. Jadi kita kerja sama dengan Do Freaks. Itu yang mengelola merchandise kita.

Komunitas penggemar EdanE?

Ada kami punya yang kami sebut EdanE Freaks, tapi itu kebuka untuk umum. Kita berkomunikasi lewat sosmed. Tidak rutin bertemu secara fisik. Biasanya kalau manggung mereka hadir. Komunitas penting banget. Itu salah satu yang paling nyata, gambaran ke kami seberapa banyak orang yang mengapresiasi musik kami. Itu untuk banyak hal. Jadi penting sekali. Itu buat semangat kami, katakanlah ada fans yang menunggu.

Baca juga: Hobi Musik Samuel Hariono Jadi Bisnis Menguntungkan, Ahmad Dhani Pun Pernah Beli Saksofon 100 Tahun

Apa pengalaman terburuk saat manggung?

Waktu itu saya di tahun 1989 di show kedua God Bless waktu saya join. Saya show di Malang, saya ditimpuk batu kena tangan. Saya lagi solo gitar, tiba-tiba ditimpuk gitar, sampai berhenti sebentaran. Tremolo sempat masuk. Luka. Cuma dikasih tahu sama anak-anak Malang. Sampean kalau sudah main di Malang, main di mana saja aman. Anak-anak Malang kasih semangatnya gitu.

Hal yang paling menyenangkan dari penggemar Anda?

Kalau mereka itu tahu lagu kami. Bisa mengapresiasi dengan bernyanyi atau mereka senang. Kami ada rasa bangga. Membuat kita termotivasi lagi.

Ada tidak hubungan seniman dengan Narkoba?

Saya tidak bisa mungkiri ya. Itu dunia yang paling dekat..dunia hiburan sih intinya. Alhamdulilahnya saya tidak kena dari dulu. Bukan saya sok bersih, saya bukan orang bersih. Tapi fisik saya menolong saya untuk tidak menyentuh barang-barang itu. Saya tidak berani karena memang dasarnya fisik saya tidak kuat untuk hal-hal seperti itu. Jadi saya pernah mencoba sedikit, ternyata tidak enak, pengaruhnya tidak enak.

Jadi tidak pernah dalam artian jadi addict. Main musik itu intinya lebih ke musiknya. Jadi rasa serunya bermusik, kalau saya pakai benda-benda seperti itu saya tidak bisa nikmati. Pernah suatu saat saya pernah pakai dulu sebutnya BO ya obat. Waktu saya manggung sih seru saja sekali. Pas besoknya saya mikir apa sih tadi malam itu.

Nah itu rasa-rasa kayak gitu tidak enak. Bagi saya main musik itu kalau kita sadar reaksi orang seperti apa. Kita tahu, kita lagi seru bagaimana atau kita lagi punya kesalahan bagaimana justru itu yang serunya. Makanya saya tidak pernah tersentuh. Tapi memang tidak saya mungkiri walaupun saya tidak katakan semua seperti itu. Cuma intinya kemungkinan itu sangat dekat. Dunia itu sangat dekat dengan hal-hal seperti itu.

Bagaimana perkembangan dunia musik Indonesia?

Saya rasa membaik ya perlahan. Banyak hal. Yang jelas ada teman-teman di musik yang memikirkan keberlangsungan karya. Yang mana itu bisa dinikmati tidak hanya dari segi hiburannya tapi juga dari segi materinya. Dengan urusan-urusan yang berkaitan dengan royalti dan lain-lain. Nah teman-teman sudah mulai mengambil langkah untuk memperbaiki urusan itu.

Sekarang sosial media luar biasa. Karya-karya banyak digandakan. Anda merasakan itu?

Itu pro-kontra juga. Dari sudut pandang saya pribadi, selama karya itu masih menyinggung me-mention nama kita. Itu minimal apresiasi bagi saya.

Anda tahu lagu EdanE ada di Tiktok? Anda tidak dapat benefit?

Itu sudah mulai dijajaki untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Harapannya sih dengan kita mendaftar ke situ. Lagu-lagu kita terdaftar. Itu bisa katakanlah bisa dikelola.

Di YouTube banyak lagu EdanE beredar view banyak? Anda dapat benefit?

Sekarang kami lagi mengurus hal-hal seperti itu. Sekarang kami internalnya dulu gono-gininya. Lalu bagaimana kami maju untuk itu. Jadi banyak teman-teman yang akhirnya sadar akan hal itu. Dan ya memang harus dirapikan, diinternalnya dulu bagaimana. Karena kan tidak hanya seorang diri kita bikinnya. Ada yang ramai-ramai secara kolektif. Kalau itu sudah siap, baru kita daftarkan. Harapannya sih automatic ke kami. (tribun network/denis destyawan)

EET SJAHRANIE

Nama lahir          Zahedi Riza Sjahranie

Lahir                      3 Februari 1962 (umur 59)

Asal                        Bandung, Indonesia

Genre                   Instrumental rock

                              Hard rock

                              Progressive metal

                              Progressive rock

                              Heavy metal

Instrumen           Gitar

Tahun aktif         1980 - sekarang

Artis terkait:       EdanE

                             God Bless

                            Superdigi

                            Cynomadeus

Sumber: Tribun Jabar

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved